Menjadi pengusaha hampir menjadi mimpi banyak orang, karena bayangan para pemuda ketika itu langsung jauh sekali menuju 15 tahun yang akan datang. Jika mayoritas yang memiliki mimpi itu adalah para pemuda berusia 20 tahun, maka harapan mereka adalah pada usia 35 tahun keatas mereka sudah memiliki beberapa karyawan, puluhan hingga ratusan pelanggan, transaksi jutaan rupiah setiap hari, rumah pribadi dan kantor strategis di pusat kota. Pokoknya keren banget.

Saking kerennya, hingga para tukang mimpi ini menjadi sangat dominan ketimbang pelakunya. Mereka benar-benar bermimpi pada arti sebenernya; mata tertutup, pikiran berangan-angan, dan tubuh tidak bergerak sama sekali. Keesokan harinya mereka akan bercerita kepada semua teman-temannya, dan malam harinya mereka akan kembali pada mimpinya. Nato, No Action Talking Only.

1. Miliki jiwa pengusaha, walaupun masih menjadi karyawan

super-mario-luigi-and-yoshi

super-mario-luigi-and-yoshi via https://www.pexels.com

Untuk memulai sebuah usaha, paling tidak kita harus memiliki 2 hal: Yang pertama adalah ilmu, yang kedua adalah modal. Keduanya tidak harus pada tahap yang sangat siap, tapi wajib dimiliki walaupun sedikit. Dengan bekerja pada orang lain, kita otomatis dapat dua-duanya secara langsung. Ilmu dari pengalaman orang lain, dan juga gaji karena kita menjadi pekerja disana.

Advertisement

Ingat! sebelum memiliki gedung sendiri, sebelum semua orang tahu nama brand kita, atau sebelum punya apa-apa, maka representatif sebuah perusahaan adalah siapa pemiliknya. Jadi bagaimana usaha kita nanti merangkak sampai bisa berjalan adalah bagaimana kita melakukannya mulai sekarang. Sangat penting bagi calon pengusaha pandai memanfaatkan waktu, jangan kosongkan waktu sepulang kerja dengan sesuatu yang tidak bermanfaat. Jikapun sudah lelah dengan kegiatan fisik, maka berbaring dengan membaca buku adalah salah satu pilihan terbaik.

2. Melangkahlah menggunakan kaki, tidak harus menunggu punya sepatu

foot-sneakers-shoe

foot-sneakers-shoe via https://www.pexels.com

Pada era digital seperti sekarang ini, kita tidak akan lepas siang malam bersama sosial media. Yang sering kita lihat adalah beberapa kawan-kawan kita melakukan promosi secara organik (bukan iklan berbayar), setiap hari isi instagram post-nya adalah jualan produk. Semua isi timeline facebook-nya adalah produk dagangan, sama sekali tidak ada gambar si pemilik akun.

Apakah ini perilaku yang salah?

Advertisement

Jika ada perasaan kita benci dengan kawan seperti diatas berarti mental kita adalah karyawan, bukan mental pengusaha. Kalaupun kurang enak melihat isi instagram post seperti itu, maka cukup kita mute saja tanpa harus unfollow akunnya. Karena bisa jadi suatu hari nanti, kita akan melakukan apa yang kawan kita lakukan saat itu. Ingat, kita adalah calon pengusaha.

Kemudian kita juga harus mengenal apa itu minimum viable product (MVP) atau versi awal dari sebuah produk, ini bergantung pada keterampilan dan modal ketika memulainya. Maksud dari MVP adalah jika kita ingin menjual sebuah kendaraan, maka bukan berarti kita memulainya dengan berjualan ban atau knalpot. Tapi, sebelum mampu berjualan mobil, kita bisa berjualan sepeda terlebih dahulu, kemudian naik lagi berjualan motor. Karena nilai yang ingin kita berikan adalah bagaimana orang lain bisa bepergian lebih mudah dari satu tempat ke tempat yang lain.

3. Pendidikan adalah sumber daya, bukan tujuan utama

row-of-books

row-of-books via https://www.pexels.com

Education is a path, not destination. Begitu yang sering kita baca pada dinding-dinding sekolah. Hampir mayoritas orang tua kita tahu ijazah tidak menjamin masa depan karir anaknya cemerlang, tapi tetap saja mereka memasukkan anak-anaknya ke sekolah dengan biaya yang tidak sedikit.

Jika yang berpendidikan saja masa depan karirnya tidak ada jaminan untuk baik, apalagi yang tidak berpendidikan?

Maka penting bagi orang-orang tua juga mengambil peran, untuk memberikan pendidikan non-formal kepada anaknya. Seperti pengawasan terhadap penggunaan smartphone, mengenal dengan siapa saja mereka berteman, sopan santun terhadap guru dan sikap suka menolong orang lain. Karena sejatinya sekolah tidak mengajarkan apa yang murid pikirkan, melainkan mengajarkan bagaimana murid untuk berpikir.

4. Aset terbesar seorang pengusaha, adalah dirinya

money-coins

money-coins via https://www.pexels.com

Setiap orang memiliki jatah gagalnya masing-masing, maka habiskan jatah gagal itu ketika usia masih muda. Ketika kita memahami bahwa kegagalan itu adalah hal yang lumrah, maka kita akan bergerak kedepan dengan pikiran yang positif.

Mungkin ketika itu kita sudah mati-matian memperjuangkan ide pertama, tapi ingat! bahwa-gagal adalah-adalah-sesuatu-yang-sangat-biasa. Maka ketika ide itu dirasa kurang berhasil, dan yakin usaha sudah maksimal, segeralah lakukan ide berikutnya. Dan begitu seterusnya. Sampai yakin, ide yang kita lakukan itu tidak lagi membutuhkan 'pergantian' melainkan saatnya untuk 'dikembangkan'.

Dengan demikian sangat jelas, bertahan atau tidaknya sebuah usaha tidak bergantung pada ide bisnisnya. Melaikan pada gigih atau tidaknya seorang calon pengusaha tersebut.

5. Menemukan cara bersyukur terbaik

love-people-silhouettes-letters

love-people-silhouettes-letters via https://www.pexels.com

Dalam dunia bisnis kita juga akan mengenal istilah value proposition atau manfaat yang didapatkan oleh orang lain dari produk yang kita jual. Termasuk disana adalah alasan mengapa harus membeli produk kita dan bukan produk yang sama dari orang lain. Ini menjadi aspek yang sangat luas, tidak hanya tentang kualitas produk harus nomor satu. Tapi juga, pengalaman berbeda ketika melakukan pembelian, siapa tokoh dibalik produk yang dijual, bonus jangka panjang sebagai pelanggan setia dan tentunya masih banyak lagi.

Seolah-olah sebenernya kita ini ingin menyampaikan, belilah produk saya agar hidup kamu menjadi lebih baik dan lebih mudah.

Nah jika memang benar itu yang sedang kita lakukan. Maka arti sederhananya dari usaha setiap orang di muka bumi ini sebenernya sama, yakni: Mereka bahagia karena bisa membuat orang lain bahagia.

Lalu, bagaimana cara bersyukurnya?

Adalah melakukan apa yang sebenernya juga kita perjuangkan dalam usaha kita, yakni membuat orang lain bahagia agar kita juga menjadi bahagia. Jika ada penghasilan yang lebih, maka bagikanlah sebagian harta tersebut pada orang yang kurang beruntung daripada kita. Agar nilai usaha yang diperjuangkan pada perusahaan kita, juga kita dapatkan pada kehidupan yang sesungguhnya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya