#CatatanAkhirTahun – Berusaha Nyaman dengan Jurusan Kuliah Meski Merasa Berubah Menjadi Orang Lain

Sebenarnya Jurusan Teknik Sipil bukan bidangku, sekali lagi bukan bidangku.  Aku tidak menyukai tuntutannya. Aku tidak bermasalah dengan ilmu yang diberikan, aku juga tidak bermasalah dengan berbagai karakter manusia yang ku temui disana. Tapi, aku sangat bermasalah dengan pemaksaan yang melibatkan privasiku. Entah bagaimana dengan jurusan yang sama di kampus lain, cuma yang kualami adalah segala hal diluar ekspektasiku berkuliah.

Alasanku bertahan dengan jurusan ini di awal perkuliahan hanya untuk bertanggung jawab atas keputusan yang kuambil tanpa memikirkan apa yang diriku inginkan dan kubutuhkan. Aku sudah lelah mengikuti berbagai macam Ujian masuk perguruan tinggi, kurasa otakku akan pecah jika kupaksakan belajar lagi. 

Penolakan terakhir adalah takdir. Apapun yang terjadi, walaupun tidak kuliah aku tetap akan jadi orang. Banyak yang merintis bisnisnya seusai SMA, jika kuliah mengeluarkan banyak uang. Lihat pandangan para pembisnis pemula yang tidak berkuliah, menghasilkan uang terlebih dahulu baru kuliah dengan uang hasil jerih payah sendiri. Pikiran kritisku ada benarnya, pertanyaannya apakah orang tuaku mau mengerti?

ADVERTISEMENTS

1. Pasrah dan menyerah

Photo by Andrea Piacquadio from Pexels

Photo by Andrea Piacquadio from Pexels via https://www.pexels.com

Ada dua kata yang selalu mendampingiku sepanjang perjalanan menuju tempat ujian perguruan tinggi. Pasrah dan Menyerah, pasrah untuk menerima takdir. Atau menyerah dengan menyatakan diri telah kalah dalam perperangan. 

Perang yang kulakukan sudah membungkam semangat mengkebu-kebu dari sosok remaja yang tidak pernah ingin kalah disetiap kesempatan. Senjata yang baru belum bisa menjadi jaminan kemenangan karena yang dibungkam bukan senjatanya melainkan keyakinan diri.

Ketika air mata tidak dapat dibendung, skenario kehidupanku juga ikut dimulai. Sepertinya aku boleh pasrah, tapi tidak untuk menyerah. 

ADVERTISEMENTS

2. Apapun demi tidak mempermalukan

Photo by RF._.studio from Pexels

Photo by RF._.studio from Pexels via https://www.pexels.com

Tidak Afdol rasanya, jika setelah menyelesaikan bangku SMA seseorang tidak lanjut ke bangku perguruan tinggi. Standar ini yang sering menjadi tuntutan sebagian orang tua di negara Indonesia yang menginginkan anaknya memiliki masa depan yang cerah. Padahal, belum tentu masa depan seseorang akan jadi suram hanya karena melewatkan bangku perguruan tinggi. 

Inilah salah satu faktor mengapa banyak sarjana yang telah menyelesaikan pendidikannya memilih untuk banting stir dalam dunia profesi. Banyak yang tidak sesuai dengan bidang keilmuan yang digelutinya semasa kuliah, Seakan kuliah seperti hukuman yang harus segera di sudahi.  

Kalimat motivasi bisa mengatakan, Jalani apa yang sukai dan tinggalkan apa yang tidak kamu sukai. Diibaratkan sebuah novel yang diangkat menjadi sebuah Film, membuat sebuah karangan novel hanya membutuhkan seseorang yang memiliki ide kreatif dan memiliki niat untuk menulisnya.

Tapi untuk membuat sebuah film dibutuhkan banyak orang untuk menjadikannya sebuah karya film. Begitu juga kalimat motivasi yang diucapkan dengan lisan, hanya butuh satu suara untuk menjadikannya keren. Bagaimana dengan prosesnya? Butuh niat yang kuat, keikhlasan dan komitmen. 

Contohnya saja yang aku alami, singkat saja 'Apapun demi tidak mempermalukan.' Siapa yang tidak bangga ketika anaknya adalah seorang mahasiswa dari jurusan yang sangat diminati serta masuk daftar jurusan paling susah untuk dimasuki. Orang tua bisa bangga tapi aku merasa terjebak di jurusan teknik sipil demi tidak mempermalukan keluarga, karena status sarjana adalah standar untuk tidak mendapat hinaan kedepannya.

ADVERTISEMENTS

3. Mungkinkah impianku telah berakhir?

Photo by Juan Pablo Serrano Arenas from Pexels

Photo by Juan Pablo Serrano Arenas from Pexels via https://www.pexels.com

Manusia yang tidak pandai bersyukur adalah kalimat yang bisa menjelaskan  diriku saat ini. Trempament yang buruk, bisa menghancur semua harapan yang masih tertinggal. Aku berharap ada seseorang yang mampu membuatku kembali bangkit. kembali menjadi sosok yang tenang, ceria dan fokus dalam melakukan tindakan. Mungkinkah impianku telah berakhir?

Banyak yang bertanya, kamu jurusan apa?. Kejujuranku mampu memukaunya, namun menyakitiku berkali-kali. Mereka menganggapku hebat, tapi tidak ada yang mengerti bahwa ini hanyalah caraku beradaptasi. 

Jika di jurusan ini ada yang menyaingiku, sadarlah bahwa aku sendiri bahkan tidak mengenal sosok yang dijadikannya saingan. Aku yang sebenarnya bukan yang dikenal orang lain, berhentilah tertipu dengan ambisi yang keluar dari emosi yang tidak pernah terungkap makna aslinya. Memanipulasi keadaan, menipu diri sendiri yang pada akhirnya kembali frustasi.  

ADVERTISEMENTS

4. Alasan yang selalu kucari

Photo by SHVETS production from Pexels

Photo by SHVETS production from Pexels via https://www.pexels.com

Pertanyaan yang paling dominan yang sering ku dengar adalah  Kenapa kamu memilihnya jika tidak menyukainya? Mungkin akan sama jawabannya jika seseorang yang tidak suka air mineral harus meminumnya untuk menjaga kesehatan. Begitulah aku, bertahan untuk tidak bertindak gegabah.

Mencoba ikhlas dan membuat rencana baru untuk hidupku kedepan, hanya tuhan yang paling tau alasan kenapa aku sampai di titik ini. Ketika aku ditetapkan untuk masuk jurusan teknik sipil, bukan tentang kesalahan. Tapi, mengajarkanku untuk pandai menerima keadaan.

Seiring berjalannya waktu siapa yang menduga, aku malah bertemu dengan seorang teman dari jurusan yang ku minati sebelumnya. Hamba sombong sepertiku sempat berfikir, Tuhan sedang mengerjaiku.  Aku bahkan tak berniat berteman baik dengannya, tapi apa yang dilakukan tuhan? Dia membuatku senang dengan kehadirannya di hidupku. Awalnya aku tak begitu akrab, hingga dia menjadi teman baikku. 

Jika ada kesempatan aku membantunya mengerjakan tugas yang membuat dirinya depresi akibat permintaan dosen diluar nalar mahasiswa. Padahal menurutku, sebuah ide muncul dari kreatifitas seseorang dengan kepala dingin yang tidak bisa di munculkan hanya karena aturan pendidikan. Karya yang menakjubkan bahkan sering datang bukan karena tuntutan pengajar melainkan seseorang yang mampu membuat imaginasinya menjadi nyata. 

Mungkin tuhan melemparku kejurusan teknik sipil, agar aku tidak akan merasakan kebencian terhadap dosen atas karya yang tidak dihargai.  Namun, tuntutan senioritas dan angkatan tetap saja membuatku kehilangan waktuku untuk menjadi diriku sendiri. 

Aku tak suka keramaian meski suka kebersamaan, aku tak suka kesepian meski suka kesendirian. Dua kata yang hampir sama artinya tapi berbeda makna, siapa yang mengerti jika bukan diri sendiri.

Serakahkah bila aku tetap menjaga komitmen tapi tetap mengejar impianku? Impian itu ada pada privasiku, hal ini yang selalu menjadi alasan utama amarahku terus memuncak ketika paksaan selalu mempertaruhkan privasiku. 

ADVERTISEMENTS

5. Mencoba berdamai dengan keadaan

Photo by JESSICA TICOZZELLI from Pexels

Photo by JESSICA TICOZZELLI from Pexels via https://www.pexels.com

Di tahun akhir ku berkuliah, mungkin akan sama dengan pikiran mahasiswa-mahasiswa yang merasa salah jurusan. Hukuman akan segera selesai, selanjutnya hiduplah dengan cara yang diinginkan. 

Mungkinkah akan semudah itu untuk manusia-manusia yang di ajarkan tentang ketulusan sejak kecil oleh orangtuanya. Jangan disia-siakan segala sesuatu yang diberikan, tandanya kamu manusia yang tak pandai bersyukur. Jadi, jika tuhan menetapkanku menjadi mahasiswa teknik sipil dan aku akan terjebak seumur hidup di dunia kontruksi. Mungkinkah aku hancur? Jawabannya tentu tidak.

Alur cerita hidupku saja yang tak sesuai dengan bayanganku sebagai Hamba, yang perlu ku lakukan setelah ini hanyalah mencoba berdamai dengan keadaan. Apabila sesuatu menjadi milikku, itu akan tetap menjadi milikku sesuai ketentuan Tuhan. 

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Gadis yang masih mencari jati diri