Mencintai suatu pekerjaan hingga rela menghabiskan waktu untuk sebuah dedikasi dan tanggung jawab sebagai karyawan pernah kulalui. Aku rela tidak pulang dalam seminggu penuh bahkan melewatkan acara penting keluargaku. Aku yang masih muda, berapi-api, serba ingin tahu, tapi kadang tidak tahu aturan menoreh tinta merah bagi karirku sendiri.

Aku yang pernah berjuang demi divisiku sendiri, akhirnya harus mengakhiri masa kerjaku ini tanpa aba-aba, tanpa penjelasan apa-apa. Tapi kuhargai itu semua. 

1. Aku yang Baru Lulus Kuliah, Merasa Beruntung Mendapat Pekerjaan ini

Setelah lulus kuliah, aku pernah bekerja di beberapa tempat sebentar saja hingga pada akhirnya aku merasa beruntung mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan passionku. Semesta seperti mendukungku untuk berkarya dengan sesuai imajinasiku.

Advertisement

Walau pada kenyataannya aku menempati kursi seseorang yang pernah menduduki jabatan yang sama, tapi aku tetap merasa bahagia berada di sana. Saat itu aku yakin, bahwa aku mampu membawa harum nama divisiku beserta atasan dan rekan-rekan kerjaku.

2. Ada Rintangan dalam Pekerjaan, Itu Saatnya Aku Harus Berjuang

Rekan kerja

Rekan kerja via https://pixabay.com

Beberapa bulan setelah aku bekerja, aku seperti memiliki warna baru dalam hidup. Pekerjaan baru yang belum pernah aku rasakan, namun kuyakin bahwa aku mencintai pekerjaan itu sepenuh hati. 

Beberapa kali dipanggil atasan bahkan CEO supaya kedatanganku dan rekan seperjuangan harus membawa warna baru dan geliat kesuksesan bagi omzet perusahaan. Aku yang muda, belum punya banyak pengalaman, memiliki harapan dalam diam.

Advertisement

Brainstorming dan rasa perhatianku dengan fenomena sosial yang ada terhadap pengaruhnya omzet banyak membantuku untuk belajar lebih banyak. Hingga aku dan rekan lain benar-benar berjuang bersama demi sebuah harga diri divisi yang pernah dianggap sebelah mata. 

Ada syukur kami, sedikit-sedikit geliat itu ada bahkan ada beberapa kerja keras kami yang tidak terduga. Tapi kami harus terus berjuang lagi dan lagi.

3. Tak Selamanya Jalan itu Lurus, Akan Ada Belokan yang Tidak Kita Sukai

Meja kerja

Meja kerja via https://pixabay.com

Tidak semua rekan kerja bisa sejalan, bisa komunikatif, bahkan terbuka dengan apa yang dirasakan. Itu yang membuatku kadang naik pitam. Aku yang muda, merasa jengah dengan hal yang tidak kusuka. Aku yang sempat merasa bahwa ada yang tidak kompeten dalam lingkunganku sendiri.

Kuakui aku salah, seharusnya tak begitu. Tapi, ada kah yang mampu menengahi dengan tidak membicarakan orang itu diam-diam sepertiku? Kacau pikiranku, tapi harus kuakui bahwa dia adalah senior daripadaku.

4. Semakin Tinggi Pohon, Semakin Kencang Angin Berhembus

Meja kerja

Meja kerja via https://pixabay.com

Pekerjaan tim divisi kami sedikit mendapat apresiasi, hingga kini pun banyak yang mencoba mengopi. Entah kenapa, semakin banyak pula tanggung jawab yang saya emban. Saya merasa memang terlalu cepat bagi saya yang muda ini, anak kemarin sore yang pengalamannya pun masih bisa dihitung bulan.

Di sisi lain, saya menikmati pekerjaan itu. Saya nikmati kesibukan itu meski menyita waktu saya. Toh, saya pikir bahwa saya belum berkeluarga. Saya siapkan segala macam tugas yang harus saya emban dengam profesional, hingga cukup banyak orang yang mengenal.

5. Hingga Akhirnya Perjuangan Saya Berakhir, Cinta Saya Bertepuk Sebelah Tangan

Meja kantor

Meja kantor via https://pixabay.com

Dalam kesibukan dan tugas-tugas yang harus saya selesaikan demi iming-iming menjadi pegawai tetap saya lalui dengan bersemangat. Tidak pernah berpikir sebelumnya bahwa semua ini akan berakhir begitu cepat.

Hingga waktu itu tiba, satu minggu sebelum masa kontrak berakhir ketika saya menanyakan pada atasan di divisi saya. Ternyata tugas saya selanjutnya adalah mempersiapkan semua bahan yang selesai saya kerjakan dan yang belum. Saya diminta melepas atribut saya via pesan tidak langsung.

Kaget? Tentu. Bukan hanya saya, teman lain di divisi sama maupun tidak, sama-sama kagetnya. 

Semua harus berakhir, saya harus ikhlas, saya harus menyadari bahwa cinta ini bertepuk sebelah tangan. Marah pun tak ada guna. Kecewa takkan menghapus luka. Yang saya tahu waktu itu adalah saya berjanji dalam hati bahwa saya harus berubah di tempat baru. Menjadi sosok yang lebih nice dan rendah hati meskipun saya tahu bahwa saya bisa melakukan segalanya dengan lebih cepat baik sendiri maupun berkelompok.

Jika bukan karena hari itu, mungkin di tahun-tahun selanjutnya, di tempat-tempat selanjutnya, saya akan melakukan banyak kesalahan yang sama. Saya mungkin akan menjadi seorang yang terus memendam dendam, dengki, iri hati, bahkan insecure terhadap orang baru.

Terima kasih waktu, telah mengajarkanku banyak hal tentang kehidupan untuk masa mendatang

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya