Dear Kamu yang Berjuang di Tengah Keterbatasan Ekonomi. Percayalah, Kebahagiaan Tak Hanya Bersumber dari Materi

untuk yang sedang berjuang

Hidup memang selalu punya cara untuk membuatmu terus bertumbuh, salah satunya dengan menghadirkan masalah yang tak kunjung henti. Meski kamu tahu bahwa pada akhirnya masalah itu akan memberimu minimal satu pelajaran, nyatanya masalah tetaplah masalah. Kamu butuh energi lebih untuk menghadapi dan memenangkannya.

Masing-masing orang mempunyai tantangan yang berbeda-beda untuk dilalui. Tapi, entah bagaimana, kendala dalam hal ekonomi seperti menjadi induk dari segala masalah yang ada dalam hidupmu. Kamu dibuat resah siang dan malam untuk berpikir bagaimana melunasi biaya kuliah tepat waktu, dituntut untuk menahan keinginan dalam membahagiakan diri sendiri, bahkan kadang dibuat kecewa atas terkuburnya impianmu karena kondisi ekonomi yang tidak memadai.

Di saat seperti ini, kamu kerap merasa bahwa hidup tak adil dan kamu berhak untuk mendapatkan hidup yang lebih baik. Kamu berpikir, menjadi orang yang serba berkecukupan akan membuat hidupmu nyaman, menghindarkan kamu dari ujian-ujian yang mengganggu tidur nyenyakmu. Mungkin memang benar, namun hanya sekian persennya saja. Selebihnya, kamu tidak akan pernah tahu, sebab kamu menilai kebahagiaan seseorang secara dangkal hanya dari apa yang tampak.

Advertisement

1. Sudah menjadi jalan-Nya untuk menciptakan manusia dengan latar belakang yang berbeda-beda

Photo by Life of Wu on Pexels

Photo by Life of Wu on Pexels via https://www.pexels.com

Adalah hal yang aneh untuk menginginkan keseragaman di muka bumi ini, karena perbedaan justru memberikan warna bagi cerita manusia. Perbedaan bangsa, suku, agama, warna kulit, pun dengan perbedaan kondisi finansial. Semua sudah ditakdirkan untuk mendapat jatah terbaiknya masing-masing.

Kondisi sulit yang harus kamu jalani bukan karena Tuhan ingin menjatuhkanmu, sebaliknya, Dia ingin agar kamu menjadi manusia yang tangguh dan semakin tangguh dari waktu ke waktu. Dan, satu yang sepertinya kamu lupa, rumput tetangga tak selalu lebih baik dari rumput yang kamu tanam dengan berpeluh keringat.

Advertisement

Mereka yang dikaruniai keberlimpahan dihadapkan dengan kadar masalah yang berbeda. Mungkin mereka cemas bagaimana cara menjaga harta mereka, atau mungkin juga mereka merasa kecewa karena telah menggadaikan hal-hal berharga untuk memperoleh semua itu. Di sinilah bagaimana perbedaan keindahan itu terasa, yaitu untuk saling merefleksikan diri.

2. Ketika merasa lelah dalam menghadapi kenyataan, mimpi dan harapan menjadi pelarian

Photo by Lukas on Pexels

Photo by Lukas on Pexels via https://www.pexels.com

Kamu pasti sudah berulang kali mendengar sebuah nasihat klasik bahwa hidup ibarat roda yang berputar, suatu waktu di atas dan di waktu lain ada di bawah. Nasihat ini bukanlah sekadar omong kosong tentunya. Kenyataan hidup yang sedang kamu alami tidak akan bertahan untuk selamanya. Akan ada waktunya ia berubah.

Advertisement

Setelah tangis, akan ada tawa. Setelah gelap, akan hadir terang. Dan saat kesulitan yang berlarut-larut itu berlalu, akan ada pelangi yang menyambutmu. Kamu tidak bisa memastikan kapan, tapi pasti perubahan yang mengagumkan itu akan tiba di waktu yang tepat.

Harapan itu akan menjadi semakin bercahaya jika kamu menghiasinya dengan mimpi dan cita-cita. Mimpi yang terus kamu semai dan menjadi salah satu alasanmu untuk antusias dalam menyambut hari yang baru. Karena kamu yakin bahwa perubahan itu tidak akan datang jika kamu masih saja berpangku tangan dan merutuki kenyataan. 

3. Di tengah perjalanan, pelan-pelan kamu akan sadar bahwa materi adalah kebahagiaan yang semu

Photo by Juan Pablo Serrano on Pexels

Photo by Juan Pablo Serrano on Pexels via https://www.pexels.com

Berbagai jenis kesulitan hidup suatu waktu akan menuntut sekaligus menuntunmu untuk mengubah cara pandangmu terhadap dunia. Setelah sekian lama kamu menjadikan materi sebagai orientasi, kamu akan belajar bahwa materi hanyalah sebagai bonus. Kenikmatan itu justru kamu dapatkan saat berjuang meraih mimpi-mimpi yang senantiasa melekat dalam pikiranmu.

Lagipula, kebahagiaan dalam bentuk materi sifatnya sangat sementara. Kamu juga tidak akan membawanya sampai ke surga. Ia hanya akan menimbulkan kepuasan yang tak ada ujungnya. Setelah kamu berhasil mendapatkan nomor satu, kamu akan berambisi untuk meraih nomor dua, nomor tiga, seterusnya begitu sampai pada nomor yang sudah sulit untuk kamu hitung.

4. Kamu punya begitu banyak harta berharga yang tak ternilai dengan uang

Photo by Helena Lopes on Pexels

Photo by Helena Lopes on Pexels via https://www.pexels.com

Semua orang membutuhkan uang, tapi tidak semua hal bisa dibeli dengan uang. Ada banyak hal dalam hidupmu yang mempunyai nilai tak terkira, dan belum tentu orang lain bisa memilikinya meski berupaya membeli dengan nominal jutaan hingga triliunan rupiah.

Kesehatan, waktu luang, keluarga yang harmonis, teman-teman yang selalu hadir saat suka maupun duka, dan anugerah lain yang butuh berpuluh-puluh halaman untuk dituliskan. Betapa hal-hal itu sering luput dari pandanganmu meski mereka begitu dekat dan menjadi esensi utama dalam hidupmu. Merekalah sumber kebahagiaanmu yang sejati, sekaligus menjadi bukti bahwa kebahagian tak serta-merta soal kemewahan.

Saat tubuhmu sakit, kehidupan keluargamu dipenuhi konflik, atau tak ada lagi orang yang peduli padamu, kamu akan merasa seolah ada lubang besar dalam duniamu. Padahal, ketika semuanya baik-baik saja dan kenikmatan tak ternilai itu secara cuma-cuma kamu dapatkan, kamu lebih sering abai. Kamu tidak tahu ada banyak orang di luar sana yang ingin berada di posisimu. Mereka rela bertahan dalam kepedihan untuk merasakan atmosfer sebuah keluarga yang utuh, atau mempertahankan hidup untuk melawan penyakit-penyakit mematikan.

5. Yang benar-benar harus kamu miliki adalah rasa syukur dan semangat dalam berjuang

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels via https://www.pexels.com

Kamu patut berbahagia jika kamu telah paham lebih awal mengenai standar kebahagiaan yang sesungguhnya. Tujuan yang salah akan membuat jalanmu tak tentu arah dan hari-harimu dipenuhi perasaan gundah. Akan tetapi, jikapun kamu sedikit terlambat, sungguh tak masalah. Kamu akan selalu punya kesempatan untuk memperbaikinya.

Setelah kamu tahu bahwa bahagia tak selalu tentang materi, hal pertama yang harus kamu lakukan adalah mensyukuri segala hal yang telah Tuhan limpahkan dalam kehidupanmu, sebelum semua benar-benar terlambat. Kamu punya tenggang waktu atas berbagai anugerah yang tengah kamu miliki saat ini. Segalanya bisa saja musnah secara tiba-tiba. Kamu juga harus memberikan letupan semangat dalam setiap perjuangan yang kamu lakukan. Dengan caramu, kamu berhak untuk bahagia dan menjadi apapun yang kamu mau.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penikmat rinai hujan, desir angin, dan sinar kemerahan senja

CLOSE