Memiliki sebuah hubungan dekat seperti sahabat antara lelaki dan perempuan kadang memang terasa menyenangkan. Apalagi sudah bersahabat sejak lama, dari SD, SMP, SMA bahkan masuk ke perguruan tinggi dan wisuda pun bersama-sama.

Entah sudah berapa banyak kisah, kasih dan kenangan yang kita jalani beberapa tahun belakangan ini. Hingga sampai suatu saat, baru kutahu, jika ternyata kau sudah lama memegang tangan kekasihku begitu erat. Sesaat duniaku mulai runtuh oleh pengakuanmu yang telah jatuh hati pada kekasihku.

“Sepercaya itu aku menganggap dirimu sebagai sahabatku sampai pada akhirnya kau tega mengkhianati persahabatan yang kita jalin selama ini?”

1. Saat kita berkumpul bersama, kutahu kau sudah mulai menyimpan rasa

Photo by  Farknot Architect on Shutterstock

Photo by Farknot Architect on Shutterstock via https://shutr.bz

Advertisement

Kita sudah menjalani hubungan persahabatan ini sejak lama, bahkan kau sudah ku anggap seperti saudara sendiri. Segala hal kita lakukan bersama, hingga tak jarang tingkah konyol bahkan yang terasa gila pun terasa sangat menyenangkan saat kita lakukan bersama.

Tapi entah kenapa, semakin kesini aku menjadi semakin curiga saat berkali-kali kau mencuri pandang dan menatap wajah sahabatku yang kini sudah resmi jadi kekasihku dengan senyuman. Tanpa kau tahu, aku tahu~

2. Mungkin aku yang salah, terlalu banyak bercerita tentang dirinya

Photo by Bewakoof on Unsplash

Photo by Bewakoof on Unsplash via https://unsplash.com

Kuceritakan sikap-sikap lucu dan romantis dari kekasihku yang dulu juga pernah menjadi sahabatmu. Saat itu ku bercerita banyak tentang kekasihku dan ku ingat kau pernah berkata,

Advertisement

“Atas nama persahabatan kita, aku bahagia jika melihat kau bahagia dengan pilihanmu.”

Sampai pada akhirnya justru kau yang berusaha merebut dia dari pelukanku. Apa sepalsu itu arti dari sebuah kata yang kau ucap? Kadang aku suka menyendiri untuk merenungi kesalahan apa yang sudah kulakukan sehingga bisa membuatmu melakukan hal yang begitu menyakitkan.

3. Tak jarang kau mau ambil kesempatan, saat aku sudah tak mampu lagi tuk bertahan

Photo by Ana Francisconi on Pexels

Photo by Ana Francisconi on Pexels via https://www.pexels.com

Pernahkah kau merasakan bagaimana rasanya menjadi aku? atau setidaknya berada di posisiku untuk saat ini saja? Melihatmu sering jalan berdua, ngobrol berdua dan lebih banyak menghabiskan waktu berdua dengan alibi sebagai “sahabat”, membuatku sudah tak mampu lagi tuk bertahan.

Jika kau tanya apa yang bisa ku lakukan saat ini, aku hanya ingin berterima kasih kepada Tuhan yang mungkin sudah menunjukkan siapa “sahabatku” yang sebenarnya.

4. Bodohnya aku yang rapuh, sampai kubiarkan kau gores luka sebesar ini.

Photo by Kevin Laminto on Unsplash

Photo by Kevin Laminto on Unsplash via https://unsplash.com

Setelah semua apa yang terjadi di antara kita bertiga, tak ada sedikit pun penyesalan yang menyiksaku. Kecewa pasti, hanya saja aku sadar, meskipun sudah berulang kali ku coba pertahankan hubungan persahabatan ini, salah satu di antara kita tetap ada yang mengalah.

“Dan itu harus aku.”

Tak apa, kurelakan segala kesedihan serta air mata ini demi bisa membuatmu bahagia dengan memiliki dia yang sudah menjadi kekasihku.

5. Bukan berarti kalah, hanya saja hati ini sudah terlanjur patah

Photo by Howdy Hada on Pexels

Photo by Howdy Hada on Pexels via https://www.pexels.com

Jujur saja, mungkin saat ini ingin rasanya aku berteriak dihadapan muka kalian dan berkata

“Perasaanku tidak sebercanda itu, asal kalian tahu.” 

Dan akan terlalu naif rasanya jika aku tidak bisa membiarkan orang yang kita sayang mencari kebahagiannya sendiri. Karena aku sayang kalian, aku bahagia melihat kalian bahagia. Tapi bukan berarti kalah, hanya saja hati ini sudah terlanjur patah.

Untukmu seseorang yang sudah kuanggap sahabat, tidak, bahkan lebih dari sahabat. Maaf aku terpaksa menjauh. Maaf jika ada kesalahan yang pernah tersirat atau bahkan tersurat dari diriku. Pahamilah, bahwa ini bukan tentang diriku saja, tapi juga tentang kita.

Dan teruntukmu kekasihku, meskipun hati ini berat untuk tetap bertahan, meskipun sudah setengah mati ku perjuangkan, hasilnya akan tetap saja sama, patah. Maaf jika selama ini aku telah menggenggam tanganmu begitu erat, pun mungkin tanpa sadar aku telah menyakitimu, sampai pada akhirnya kamu lebih memilih untuk melepaskan genggaman ini.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya