Rentetan Dilema Anak Rantau yang Harus Menjalani #RamadandiPerantauan di Tengah Pandemi Corona

dilema anak rantau menjalani ramadan di tengah corona

Sudah 2 bulan lebih lamanya ternyata wabah pandemi ini melanda negeri Indonesia tercinta semenjak pertama kalinya pemerintah mengumumkan adanya salah seorang yang terdeteksi positif covid-19. Sebagai anak rantau, makin ke sini makin berasa banget dilemanya. Apalagi sekarang sudah memasuki bulan suci Ramadan. Berpuasa di tengah keadaan seperti ini sungguh berat dirasakan.

Advertisement

1. Berawal dari WFH, dirumahkan, diberhentikan lalu kehilangan pekerjaan

adult displeased businesswomen with pappers in light modern

adult displeased businesswomen with pappers in light modern via http://www.pexels.com

Tidak sedikit yang merasakan hal ini, termasuk saya juga dan mungkin kamu di sana. Tadinya di awal banyak yang berpikir masa WFH hanya akan sebentar saja, tapi ternyata makin lama dan makin parah. Adanya social distancing hingga pemerintah memberlakukan PSBB, makin mempersulit ruang kerja untuk mencari rezeki.

Jika tadinya hanya bekerja di rumah saja lantas berlanjut dirumahkan tanpa gaji, ternyata malah berujung diberhentikan dari pekerjaan. Sedih banget rasanya harus kehilangan pekerjaan dalam keadaan seperti ini. Tak ada lagi pemasukan gaji dan pendapatan yang bisa diandalkan untuk kebutuhan hidup. Bertahan tanpa penghasilan di kota perantauan itu sungguh membuat dilema

Advertisement

2. Semua list keinginan terpaksa harus di-pending bahkan ada yang di-cancel mendadak

Womens hand using a pen noting on notepad

Womens hand using a pen noting on notepad via http://www.pexels.com

Banyak banget daftar keinginan yang jauh-jauh hari sudah dirancang di otak namun tidak bisa terealisasikan sekarang ini, terpaksa harus di-pending bahkan di-cancel. Misalnya saja punya rencana liburan ke suatu tempat, tapi karena ada penutupan di beberapa pariwisata akhirnya nggak jadi pergi. Atau sudah berencana ingin membeli barang baru ternyata karena gaji berkurang akhirnya nggak jadi beli dulu dan segudang keinginan lainya yang mendadak dibatalkan untuk bulan-bulan ini. Saya sendiri bahkan sudah memiliki target bulanan namun akhirnya harus gagal semua karena situasinya benar-benar tidak memungkinkan.

3. Terjebak tidak bisa pulang kampung dan bertahan dengan uang pas-pasan

 Person holding 10 US dollar banknote in front of gray

Person holding 10 US dollar banknote in front of gray via http://www.pexels.com

Kami para anak rantau yang terjebak tak bisa pulang kampung dan terpaksa memilih untuk bertahan di kota perantauan sangat diuji kesabarannya. Pasalnya bertahan dengan keadaan seperti ini membuat kami semakin penuh kebingungan. Uang yang pas-pasan, harus dua kali lipat menghemat pengeluaran, penuh kecemasan besok gimana nasibnya, dan banyak hal yang semakin sesak untuk dipikirkan.

Bahkan banyak dari kami anak rantau yang sudah menyerah tak sanggup lagi ngekos ataupun ngontrak karena memang tak ada uang untuk membayarnya, dan akhirnya tidur menumpang. Kemarin saya sempat baca berita ada beberapa teman perantauan yang juga akhirnya tidur di salah satu GOR wilayah Jakarta. Saya sendiri terpaksa harus nebeng sama teman untuk sementara waktu sampai kondisinya stabil lagi. Bersyukurlah kalian anak rantau yang masih kuat menghadapi ini dengan keuangan yang mencukupi.

Advertisement

4. Berdoa dan mengharapkan uluran bantuan agar bisa tetap hidup di kota rantau

Sad isolated young women looking away through fence

Sad isolated young women looking away through fence via http://www.pexels.com

Berdoa setiap waktu berharap keadaan ini cepat membaik dan kembali stabil, agar kami bisa mencari rejeki lagi di kota rantau untuk membantu kebutuhan keluarga di kampung. Namun, sementara ini hanya mengandalkan bantuan saja dari pihak-pihak yang mau mengulurkan tangan melirik kami para anak rantau ini agar bisa tetap bertahan di kota rantau. Tak sedikit yang menyayangkan adanya program bansos yang tak merata, karena kebanyakan yang mendapatkan bantuan dari pemerintah hanya yang memiliki KTP kota, sedangkan yang memiliki KTP kampung tak kebagian jatah bantuan.

Yah seperti inilah nasib anak rantau, hampir tak terlihat! Bukan berarti kami mengemis, tetapi keadaanlah yang membuat kami sangat-sangat membutuhkan bantuan. Toh, hanya sekedar untuk makan dan tempat tinggal saja itu sudah cukup.

5. Ramadan yang sunyi penuh kerinduan dan air mata

Photo by Aliko Sunawang on Unsplash

Photo by Aliko Sunawang on Unsplash via https://unsplash.com

Memasuki bulan suci Ramadan kali ini sungguh luar biasa berat. Apalagi menjalaninya sendirian di kota perantauan dengan keadaan yang seperti sekarang ini, sunyi. Hidup berasa sendirian, nggak ada salat tarawih berjamaah di masjid-masjid, nggak ada yang keliling ngebangunin buat sahur, ngabuburit juga nggak ada, jalanan sepi, kayak bukan nuansa bulan puasa pokoknya.

Berbeda banget dengan Ramadan tahun lalu. Rasanya pengen banget buka puasa dari masakan bunda langsung. Tadinya saya sendiri berencana untuk berpuasa minggu pertama bersama keluarga di kampung, tetapi harus gagal karena memang nggak bisa pulang. Banyak alasan dari yang karena kita sayang sama keluarga takut mebawa virusnya ke sana sampai karena memang nggak bisa pulang karena nggak ada ongkos buat pulang.

Rindu kampung halaman makin terasa sampai kadang airmata keluar karena keingat. Kadang-kadang pengin banget ngumpulin orang-orang yang sesama perantau terus nanya “Eh, kamu asal mana?”. Siapa tau kita satu kampung?

Karena saat kita menemukan orang yang masih satu kampung dengan kita itu berasa hidup nfgak sendirian lagi dan pastinya bisa mengobati kangen kita pada saudara di kampung sana. Beruntunglah kalian yang sudah terlebih dulu pulang kampung dan bisa berpuasa bersama keluarga tercinta rumah, karena momen itu tidak bisa kami dapatkan di sini.

6. Bayangan Lebaran yang menyedihkan penuh haru di kota rantau

Foto lebaran bersama keluarga

Foto lebaran bersama keluarga via https://www.google.com

Padahal masih bulan Ramadan lho ya, tapi sudah kebayang di benak kita pas momen Lebaran tahun ini seperti apa jadinya. Pasti sedih banget karena nggak bisa berkumpul bersama keluarga dan orang-orang yang kita sayangi, nggak bisa makan ketupat bareng satu meja, nggak bisa sholat eid di masjid berjamah, nggak ada petasan yang bunyi, nggak ada acara keliling kampung buat minal aidzin nan sama warga, dan banyak hal lain lagi yang gak akan kita rasakan lebaran kali ini.

Sedihnya lagi nanti pas takbiran, duh udah kebayang dong bakalan banjir air mata nih pipi. Lebaran di kota rantau di tengah wabah pandemi ini adalah hal yang nggak kita inginkan. Namun. apalah daya pemerintah melarang kita untuk mudik sampai wabah ini berakhir dan entah kapan itu.

7. Harus kuat meski sebenernya hati anak rantau rapuh

Women standing near river

Women standing near river via http://www.pexels.com

Anak rantau harus kuat yak menghadapi bulan suci Ramadan tahun ini. Selain menahan lapar dan haus saat berpuasa juga harus siap menahan airmatanya agar terlihat tegar meski kadang sebenernya hati rapuh. Rasanya sudah nggak betah di perantauan dan pengin cepat-cepat pulang pastinya.

Tenang kawan rantau, kamu nggak sendirian kok kan masih ada aku di sini. Percaya deh kita anak rantau pasti bisa melewati ini semua, karena kita terbiasa hidup mandiri. 

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

perkenalkan sayahanya pengagum alam bukan traveller hanya sebatas hoby baca dan nulis bukan penulis bayaran hanya penyuka view bukan fotografer bukan penyanyi tapi suka nyanyi bukan pemusik tapi suka dengerin musik suka nyimak radio karna saya adalah announcer

Editor

une femme libre

CLOSE