Berkenalan Dengan Stunting Serta 5 Faktor Risiko Pendorong Stunting

Sudahkah kalian mengetahui apa itu stunting?

Stunting itu apa sih? Itu anak-anak yang pendek ya

The answer above is less precise. Stunting itu gangguan pertumbuhan anak yang ditandai penurunan kecepatan pertumbuhan dan merupakan dampak dari ketidakseimbangan gizi. Stunting menyebabkan dampak jangka panjang sehingga mengakibatkan gangguan perkembangan fisik, mental, intelektual, dan kognitif anak. Stunting adalah gangguan pertumbuan linier yang disebabkan kurang gizi yang berlansung kronis. Dikutip dari artikel ilmiah yang berjudul Analisisi Faktor Risiko terhadap Kejadian Stunting pada Balita (0-59 Bulan) di Negara Berkembang dan Asia Tenggara karya dari Apriluana Gladys, dkk.

Menurut artikel ilmiah ini ada 5 faktor risiko terjadinya stunting pada. Untuk lebih mengerti, faktor risiko adalah faktor pendorong terjadinya suatu penyakit. Faktor risiko tidak sama dengan penyebab. Melainkan lebih kepada seberapa besar peluang seseorang terkena penyakit jika memiliki faktor risiko.

Advertisement

1. Berat Badan Bayi Lahir Rendah

Photo by Sunvani Hoàng from Pexels

Photo by Sunvani Hoàng from Pexels via https://www.pexels.com

Berat badan lahir bayi kurang dari 2,5 kg dalam penelitian ini menunjukkan 3,82 kali berisiko mengalami stunting dengan nilai p

Anak yang berat badan lahir rendah berpotensi stunting dibandingkan anak yang lahir dengan berat normal. Maka dari itu, jika mengalami kondisi berat badan lahir rendah pada anak harus diimbangi dengan pemberian ASI eksklusif dan konsumsi makanan pendamping ASI yang bergizi pada anak 6 bulan ke atas.

Advertisement

Dalam penelitian ini juga membahas bahwa tinggi badan ibu merupakan salah satu faktor berat badan bayi lahir rendah karena gambaran perawakan pendek ibu di negara pendapatan rendah dan menengah merupakan prediktor BBLR dan pengerdilan selama masa bayi.

2. Pendidikan Ibu

Photo by Mikhail Nilov from Pexels

Photo by Mikhail Nilov from Pexels via https://www.pexels.com

Pendidikan ibu memiliki peran penting dalam pola asuh anak. Jadi, bagi kamu yang berpendidikan tinggi dan berujung menjadi ibu rumah tangga bukanlah sebuah hal yang rendah, melainkan sebuah kesempatan untuk membentuk generasi hebat penerus bangsa. Anak-anak dengan ibu yang memiliki pendidikan tinggi menunjukkan pertumbuhan yang baik. Menurut penelitian ini, ibu yang tidak menyelesaikan pendidikan dasar memiliki risiko stunting pada anak sebesar 1,67 kali.

Budaya di negara Asia masih memengaruhi orang tua untuk memilih anak laki-laki untuk lanjut pendidikan ke universitas, dibanding anak perempuan. Budaya ini masih dijumpai di beberapa daerah. Orang tua di Asia menganggap laki-laki lebih penting mendapat pendidikan tinggi karena laki-laki yang akan menjadi pencari nafkah dalam keluarga. Keluarga memang harus dinafkahi, tapi yang menjadi peran besar pendidik pada anak dalam keluarga adalah seorang ibu.

Advertisement

3. Pendapatan Rumah Tangga

Photo by Victoria Borodinova from Pexels

Photo by Victoria Borodinova from Pexels via https://www.pexels.com

Faktor pendapatan rumah tangga memiliki risiko 2,30 kali terhadap kejadian stunting. Kemampuan keluarga untuk membeli bahan makanan bergantung pada besar kecilnya pendapatan keluarga, serta harga bahan makanan, akses untuk mendapatkan bahan makan, dan tingkat pengolahan sumber daya lahan dan pekarangan untuk ditanami sayur dan rempah. 

4. Sanitasi Lingkungan Rumah

Photo by Hilary Halliwell from Pexels

Photo by Hilary Halliwell from Pexels via https://www.pexels.com

Keadaan rumah tangga tanpa fasilitas air bersih di rumah memiliki risiko 5 kali terhadap kejadian stunting. Dalam artikel ilmiah ini tercatat bahwa rumah tanpa fasilitas air bersih dan tidak ada fasilitas jamban memberikan kontribusi berat badan kurang pada anak di bawah usia lima tahun. Anak-anak dengan rumah yang tidak memiliki akses toilet lebih berpotensi menderita stunting, karena kurangnya akses pada toilet yang bersih dapat mengarah ke tantangan kesehatan seperti cacing parasit.

5. Lahir Prematur

Photo by Allan Mas from Pexels

Photo by Allan Mas from Pexels via https://www.pexels.com

Menurut Armawan, dkk 2022, dalam artikel ilmia yang berjudul Hubungan Prematur dengan Kejadian Stunting pada Anak Usia di Bawah 5 Tahun menyatakan bahwa terdapat hubungan antara prematur dengan kejadian stunting pada anak usia di bawah lima tahun. Anak balita yang terlahir prematur memiliki peningkatan risiko stunting pada dua tahun pertama kehidupannya. Salah satu penyebab stunting yang paling umum adalah kekurangan gizi kronis, yang dapat disebabkan oleh kondisi saat janin, kelahiran prematur. 

Menjaga janin dalam kandungan adalah peran ayah dan ibu. Ayah diharapkan mampu menjaga kestabilan mental ibu agar tidak stres selama hamil. Ibu harus siap sebelum hamil agar dapat menjaga perkembangan janin dalam kandungan selama 9 bulan.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Write for fun 😀

CLOSE