Aku tidak lupa, bahwa aku hanyalah manusia biasa. Aku hanya berjalan di atas kehendak Sang Maha Pencipta. Bukan berarti aku pasrah. Di usiaku, 20 tahun, orang sering bilang bahwa usia ini adalah masa-masa aku merasakan puncaknya “quarter life crisis”. Itu sebabnya, terkadang aku bingung, langkah mana yang sebaiknya aku pilih. Aku memang memilih berjuang diam-diam dan mengamati apa yang lawanku sedang persiapkan. Aku tidak ingin kegagalanku disaksikan oleh banyak orang. Bukan berarti aku egois. Aku senang berbagi cerita dengan siapapun itu, asal positif. Aku senang belajar dan introspeksi. Aku percaya, setiap orang memiliki cara masing-masing dan meyakini bahwa cara yang dipilih adalah benar.

Aku dengan prinsip yang suka diam-diam berarti aku juga menyiratkan makna bahwa aku tidak terlalu suka dengan pujian. Aku merasa banyak yang harus aku wujudkan sehingga pujian terkadang hanya membuat aku terlena dengan gemerlap duniawi. Lagipula, aku siapa? Semua orang hebat. Semua orang memiliki sisi hebat masing-masing. Terkadang pujian yang terlalu dilambungkan, diam-diam ada yang merasa tidak enak melihatnya. Apakah aku ingin menambah kawan atau musuh? Tidak. Aku ingin kita berjalan bersama. Belajar bersama. Memperbaiki dunia bersama.

Oleh sebab itu, aku lebih memilih untuk menceritakan pengalamanku dengan orang-orang yang aku lihat sedang berada di titik yang memiliki korelasi dengan beberapa pengalamanku. Lalu, aku berdiskusi dengan mereka, bagaimanakah selanjutnya, baik untuk pelajaran pribadiku atau untuk urusannya.

Bukankah begitu lebih indah?

1. Perlahan aku mulai mengorbankan kebahagiaan dengan meninggalkan circle pertemanan yang hanya memberiku kebahagiaan sesaat

Pernah sesekali aku merasa iri dengan mereka yang telah dijamin oleh keluarganya, tentang masa depannya. Lalu bahagia menghabiskan uang tanpa memikirkan tabungan

Pernah sesekali aku merasa iri dengan mereka yang telah dijamin oleh keluarganya, tentang masa depannya. Lalu bahagia menghabiskan uang tanpa memikirkan tabungan via http://weheartit.com

Namanya hidup, aku bahkan tidak bisa memilih siapa yang akan aku temui, siapa yang harus aku kenal, siapa yang harus aku ajak kerja sama, apapun itu. Semua sudah ditakdirkan. Sama halnya dengan circle orang-orang yang harus aku jadikan teman. Katanya, “Perbanyaklah teman karena teman itu relasi,” tetapi apakah benar semua orang itu bisa menjadi relasi? Menurutku relasi di sini sifatnya sangat kontekstual. Setiap orang memiliki pola pikir yang berbeda-beda. Keberagaman itulah yang membuat orientasi relasi mereka juga berbeda-beda.

Advertisement

Tidak sedikit dari mereka justru ikut arus pergaulan dan melupakan tujuan awalnya (cita-cita). Itulah mengapa, aku memilih untuk mengorbankan lingkaran pertemanan yang tidak ada korelasinya dengan tujuan hidupku. Bukan berarti menghapus secara total, tetapi hanya mulai memberi jarak. Semakin dewasa, aku semakin berpikir, bahwa bukan saatnya aku bermain-main. Banyak yang harus aku persiapkan. Terlebih, usia bumi semakin tua, semakin sedikit aku jumpai kemudahan dalam mempertahankan hidup.

Aku selalu ingat, orangtuaku sering berkata bahwa dirinya tidak akan memberi anaknya apapun selain petuah. Anak-anaknya harus berjuang, walau hal sekecil skincare pun, kami sudah diajari untuk menabung dan mendapatkannya sendiri. Itu sebabnya, kadang aku iri, bisa menghamburkan uang demi kesenangan. Tapi apa daya, aku harus mempertimbangkan segala hal yang kulakukan dalam hidupku, termasuk urusan uang.

2. Terkadang merasa sepi, tapi aku memang harus melepaskan orang yang sangat aku cintai

Orang bilang hidup tanpa cinta itu sepi. Benar. Tapi, aku merasa usiaku belum cukup matang

Orang bilang hidup tanpa cinta itu sepi. Benar. Tapi, aku merasa usiaku belum cukup matang via http://weheartit.com

Orang bilang, semakin kamu mencintai seseorang, maka artinya kamu memang harus melepaskan. Ternyata itu adalah hal yang benar. Entah aku yang belum matang atau memang begitulah cara Tuhan yang tidak ingin diduakan. Orang akan menilai aku adalah seorang pengecut, tapi siapa sangka bahwa aku juga sering memperjuangkan cinta sebelumnya. Bukan itu perkara utamanya. Namun, seiring berjalannya waktu, di usia yang masih awal menginjak kepala 2, rasanya masih terlalu dini mengejar cinta. Masih banyak yang harus aku perjuangkan, nasib masa depanku misalnya.

Advertisement

Aku bukan orang yang ingin menggantungkan hidup pada pasanganku kelak. Aku ingin menjadi pribadi mandiri yang bersama-sama menghidupi keluarga. Aku juga tidak ingin menelantarkan anak-anakku hanya karena urusan kerja. Oleh sebab itu, kematangan diriku dari segi pola pikir dan mental harus aku asah sejak dari sekarang. Bayangkan saja, jika aku habiskan waktuku untuk menggalaui urusan cinta, berapa banyak waktu yang akan terbuang sia-sia?

Aku percaya bahwa Tuhan Maha Hidup. Sesekali aku berlari, mengadu, bahwa aku lelah berbohong pada diriku sendiri. Aku juga butuh pendamping. Ketika aku bertemu seseorang baru lagi, lebih tepatnya mencoba membuka hati, membatasi diri agar tidak terlalu mencintai lagi, yang ada malah banyak drama yang aku dapatkan (lagi). Cinta memang perkara yang rumit, bukan? Sebenarnya tidak rumit, jika itu terjadi di waktu yang tepat. Jadi, tidak usah terburu-buru dengan cinta. Cukup jalani dan doakan saja.

Aku tidak mau menjadi perawan tua hanya karena sibuk menata hidup. Tapi, memang usia 20 bukanlah waktu yang tepat.

3. Aku selalu berusaha meyakinkan bahwa aku telah mengerjakan sesuatu yang benar. Jangan goyah! Tetaplah bertahan

Menjadi pribadi yang berusaha mandiri, bukanlah hal yang mudah. Terlebih aku harus sadar, bahwa waktu tidak akan pernah bisa diputar

Menjadi pribadi yang berusaha mandiri, bukanlah hal yang mudah. Terlebih aku harus sadar, bahwa waktu tidak akan pernah bisa diputar via http://weheartit.com

Entah apakah aku hanyalah satu dari sekian juta remaja yang merasakan bimbang dan kebingungan. Merasa takut, terhadap apa yang aku kerjakan sekarang. Aku takut, ketika aku salah melangkah, tetapi aku terlambat menyadari bahwa aku melakukan suatu kesalahan. Lalu, aku tidak bisa memutar waktu dan memperbaiki segalanya.

Seringkali aku mengajak lingkaranku berdiskusi. Berbagi pandangan hidup. Aku yakin, brainstorming adalah hal yang penting. Setiap hal, aku curahkan juga kepada Sang Pencipta. Aku sadar, hanya Dia satu-satunya harapan. Orang tuaku? Aku bukan tipe anak yang sedikit-sedikit lari ke orang tua.

Aku terbiasa, dididik sejak kecil untuk menyelesaikan segalanya sendiri. Lagipula, orang tuaku sudah terlalu banyak masalah. Mereka berjuang, bagaimana bisa mendidik anak-anaknya hingga jadi orang. Apakah aku sanggup membebaninya lagi? Sesekali aku memang butuh petuah dari mereka. Bukan bentuk ungkapan keluhan, tetapi hanya sekedar bentuk cerita. Misalnya, “ma, kakak tadi lihat berita, ada anak remaja bisa sukses gitu ya ma”. Lalu, di situ dia akhirnya berpetuah. Nasihatnya begitu menenangkan. Aku butuh itu.

Kemudian aku mengkomparasikan segalanya dan aku meyakinkan, “bismillah, insya Allah aku sudah berada di jalan yang benar.” Biar aku berhenti menyalahkan diri sendiri. Kasihan

4. Seringkali aku masih takut berlari keluar zona nyaman

Seringkali aku hanya berani membaca, tetapi tidak berani mencoba hal yang sama. Harusnya aku lebih berani lagi untuk mencoba sesuatu, jika memang niat awalku adalah mencari jati diri dan memperbanyak pengalaman

Seringkali aku hanya berani membaca, tetapi tidak berani mencoba hal yang sama. Harusnya aku lebih berani lagi untuk mencoba sesuatu, jika memang niat awalku adalah mencari jati diri dan memperbanyak pengalaman via http://weheartit.com

Aku meyakini bahwa setiap orang memiliki cara untuk berproses yang berbeda-beda. Kepribadian dan karakter masing-masing orang juga beragam. Mungkin aku adalah orang yang serba berhati-hati dan banyak pertimbangan, hingga akhirnya kemungkinan-kemungkinan buruk yang termunculkan membuat aku takut untuk mencoba.

Aku selalu menanamkan sugesti dalam diriku sendiri bahwa ketika aku melakukan kesalahan, mungkin aku hanya akan ditertawakan. Lalu aku sakit hati, kemudian menangis. Setelah itu aku harus bangkit kembali, memetakan kesalahan yang membuat aku menangis karena menanggung rasa malu. Akan tetapi, setelah itu semua, aku tidak akan mati. Maka untuk apa aku harus takut mencoba? Toh ketika aku mencoba, tidak ada aku sekalian setor nyawa.

5. Aku selalu berusaha belajar dari rasa sakit yang aku rasakan

Aku percaya bahwa setiap rasa sakit yang Tuhan berikan, Tuhan juga telah menyediakan kebahagiaan dan pelajaran setelahnya

Aku percaya bahwa setiap rasa sakit yang Tuhan berikan, Tuhan juga telah menyediakan kebahagiaan dan pelajaran setelahnya via http://weheartit.com

Kita hidup dengan beragam tipe manusia dan tidak bisa kita pukul semua rata biar sama dengan karakter kita. Yang ada, kita harus mencoba mengubah diri menjadi se-fleksibel mungkin agar bisa bertahan hidup. Mudah? Tentu tidak. Berkali-kali aku merasa sakit hati hanya karena mendapatkan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang aku inginkan. Ya memang begitu, cara Tuhan menyayangi makhluk-Nya. Masalah yang datang bukan berarti tanda Tuhan tidak saying, tetapi justru di saat itu Tuhan ingin kita berlari, mengadu dan menangis. Tuhan memang berbeda dengan makhluk-Nya.

Maka setiap hari aku berjuang, seringkali aku merasa gagal. Tapi siapa bilang usahaku sia-sia? Tidak. Justru di setiap proses dan kegagalan yang aku dapatkan, aku mendapatkan pelajaran. Bukan berarti aku selalu ingin gagal. Hanya saja, menikmati proses. Namanya manusia, semakin tinggi, semakin merasa kurang. Tetapi, aku selalu berusaha, semakin hari, agar tidak ada yang merasa tersakiti, karena aku.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya