#HipweeDaebak–Catatan Pendek dari Pemula yang Mulai Gandrung dengan Hal-Hal Berbau Korea.

Demam budaya Korea telah menjalar ke seluruh penjuru dunia. Korea dalam hal ini merujuk pada Negara Korea Selatan tentu saja. Mendunianya budaya Korea erat kaitannya dengan perkembangan industri kreatif di Negeri Ginseng tersebut. Sebut saja K-Pop dan K-Drama, salah dua dari produk industri kreatifnya. Sebenarnya K-Pop dan K-Drama merupakan istilah dari produk musik dan serial drama dari Korea. Akan tetapi sejarah asal usul istilahnya kurang saya ketahui dan seperti muncul begitu saja kemudian dipakai oleh mungkin hampir semua orang.

Saya mulai berkenalan dengan K-Pop dan K-Drama baru beberapa bulan ini. Kondisi pandemi yang membuat banyak waktu mesti dihabiskan di rumah menjadi pintu pembukanya. Rasa bosan yang kerap menghampiri, di sisi lain tidak bisa bebas keluar rumah membuat mau tidak mau mesti mencoba satu dua hal baru di luar kebiasaan. Salah satunya mulai mencoba menikmati K-Pop dan K-Drama di waktu senggang. Meskipun mungkin dibilang masih karbitan, tapi tidak membutuhkan waktu lama bagi saya untuk menemukan kesenangan tersendiri dari menikmati kedua produk ini.

Saya menyebutnya produk karena memang menurut saya K-Pop dan K-Drama merupakan bahan mentah dari gagasan yang telah diolah melalui serangkaian proses industri kreatif sehingga menjadi hasil yang dapat dinikmati oleh siapa pun. Pun saya sebagai penikmat pemula dari produk ini merasa seperti, “wah, kenapa baru sekarang?!” Ya, kenapa baru sekarang saya mulai mendengarkan K-Pop atau menonton serial K-Drama? Kenapa tidak dari dulu-dulu? Tapi tidak apa. Tidak ada yang terlambat, semua akan demam Korea pada waktunya. Dari pengalaman saya yang masih singkat dalam menikmati hal-hal berbau kekoriaan, ada beberapa poin yang dapat saya ungkapkan.

Advertisement

1. Istilah K-Pop dan Bagaimana Penggunaannya yang Tepat

K-Pop sejauh yang saya ketahui merujuk pada lagu-lagu dari Korea. Tapi penggunaan kata pop di sini jadi semacam menimbulkan bias manakala musisi-musisi di Korea juga pastinya memiliki genre spesifik masing-masing. Misalnya saja BTS (siapa sih yang nggak kenal BTS?) di akun spotifynya menyatakan bahwa boy band ternama ini mengusung warna yang seimbang antara dance-pop dan hip-hop dengan lirik yang introspektif.

Saya pun mengamininya. Tapi kembali lagi ke penggunaan pop dalam istilah K-Pop, apakah sudah benar menggeneralisir seluruh band dan lagu dengan itu? Namun, tanpa bermaksud memperdebatkannya, saya suka-suka saja dengan lagu-lagu Korea. Rata-rata lagu Korea easy to listening dan nagih. Dan toh kalau sudah suka ya sudah tidak perlu melekat pada istilah apapun lagi.

Advertisement

2. Lagu-Lagu K-Pop itu Ajaib!

Dalam semesta imajinasi saya, kadang saya berpikir kalau beberapa lagu K-Pop itu tercipta dari magic. Saat suatu lagu release, para pendengar seakan langsung tersihir olehnya untuk selalu mendengarkannya lagi dan lagi. Ajaib memang.  Dan saya jadi salah satu yang tersihir.

Setelah itu timbul rasa kagum pada produser dan musisinya yang dengan kekuatan ide dan usaha mereka dapat merealisasikannya menjadi sebuah karya yang mampu menjangkau oleh ratusan juta bahkan hingga milyaran orang.

3. Tidak Ada yang Paling Ditunggu Setelah Debut selain Comeback

Advertisement
Debut Secret Number

Debut Secret Number via https://www.youtube.com

Awalnya saya masih bingung dengan istilah comeback. Yang saya pahami, band dari Korea sesudah debut dan mengeluarkan single atau album, mereka semacam hiatus sejenak untuk kemudian muncul kembali membawakan sejumlah karya yang pastinya akan memupuk kembali rasa cinta para penggemarnya.

Sejauh pengalaman saya menjadi penggemar K-Pop yang belum ada 3 kali panen padi, saya telah menyaksikan satu debut dan satu comeback. Debut dari secret number dengan single Who Dis? Dan comeback dari Blackpink yang belum lama ini dengan full album pertama bertajuk The Album.

4. Menonton M/V Sama Halnya Menyaksikan Mahakarya

Blackpink - Lovesick girl M/V

Blackpink – Lovesick girl M/V via https://www.youtube.com

Music video K-Pop selalu membuat saya tercengang setiap menontonnya pertama kali. Keseriusan dalam menggarap visual dari K-Pop tampak pada hasilnya.

Setiap kali menontonnya seakan tidak hanya membuat eargasm bahkan eyegasm juga. Maka tidak heran kalau salah satu nama dari grup band Korea yakni Blackpink memecahkan rekor dengan subscriber youtube terbanyak di dunia kedua setelah Justin Bieber. Per tanggal ini blackpink telah memiliki 52,5 juta subscriber lho!

5. Tidak Hanya K-Pop Saja yang Ajaib, K-Drama Juga!

The Lonely Shining Goblin

The Lonely Shining Goblin via https://www.dramabeans.com

Setelah tuntas melahap beberapa judul K-Drama ada satu hal yang masih mengganggu pikiran saya sampai sekarang. K-Drama yang rata-rata per episodenya bedurasi satu jam, tentu saja memiliki alur yang cenderung berjalan lambat. Tapi setiap kali menontonnya, seakan seluruh badan terpaku begitu saja.

Pun tidak ada hasrat untuk melewati beberapa detik dari setiap scenenya. Bagi saya ini ajaib dan sedikit memberi gambaran kalau para sineas dari Negeri Ginseng sangat-sangat mementingkan kualitas pada hasil karya mereka.

6. Tak Jarang di Dalam Drama Korea terdapat Beragam Informasi Menarik

Butterfly Hug

Butterfly Hug via https://larepublica.pe

Kadang kala kalau menonton drama Korea dengan jeli kita dapat menemukan beragam informasi. Sebut saja butterfly hug yang kemarin sempat viral. Teknik menjaga kestabilan emosi ini pernah viral sebab jadi salah satu scene di serial Its Okay To Not Be Okay. Selain itu, di episode awal Itaewon Class juga ada pemaparan singkat oleh Sae-Roy mengenai dasar membuka kedai semisal berapa harusnya jumlah karyawan, pengeluaran bahan baku dan juga biaya sewa tempat yang proporsional.

Ada pula dalam Flower of Evil mengenai respon yang tepat saat kita menelpon orang yang sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja. Kita lebih baik memberi pertanyaan dengan jawaban ya atau tidak kemudian membuat kesimpulan dari jawabannya daripada menyuruh orang tersebut menjelaskan kondisinya. Beberapa contoh ini menjelaskan bahwasanya dalam pembuatan serial drama Korea juga dilakukan beragam riset untuk menghasilkan cerita fiksi yang mendekati kenyataan.

7. Drama Korea Berkembang dalam Iklim yang Ideal

Menurut saya demikian karena yang pertama ada persaingan sempurna antara beberapa industri penyiaran yang memproduksi drama Korea. Perusahaan tersebut diantaranya seperti JTBC, OCN, KBS, SBS, dan tvN. Beberapa perusahaan ini berlomba-lomba untuk memproduksi drama dengan bermacam-macam tema dan cerita yang menarik untuk menyita perhatian para penonton.

Kemudian yang kedua ada dukungan dari pemerintah seperti penuturan dubes Korea yang dilansir dari CNN Indonesia. Dukungan ini berupa kemudahan dalam sektor regulasi dan bantuan finansial. Dan yang ketiga adalah penikmatnya yang setia menunggu penayangan episode baru dalam setiap serial yang mereka ikuti.

Gelombang budaya Korea barangkali akan terus berlanjut selama industri kreatifnya tidak pernah berhenti berkarya. Adanya tren ini sebenarnya dapat diambil sisi positifnya bagi kita-kita para penikmatnya pun juga bagi pemerintah. Apabila pemerintah dapat merumuskan formula regulasi yang memudahkan para pegiat industri kreatif dalam berkarya.

Lalu masyarakat tergerak untuk menikmati hasil karya tersebut secara berkelanjutan. Sudah barang tentu iklim yang ideal untuk industri kreatif dalam negeri pasti akan terbangun dengan sendirinya. Semoga suatu hari nanti bisa!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Seorang yang sedang mencari makna pendidikan. Berharap kelak dapat menjadi salah satu pendidik yang benar-benar bisa menjadi garda depan pencerdas kehidupan bangsa

CLOSE