Pergi ke Britain adalah mimpi banyak orang, mulai dari sekadar traveling sampai melanjutkan sekolah di Britain. Siapa sih yang tidak mau menikmati indahnya negara yang terkenal dengan industrinya ini? Tentunya, pergi ke Britain dan berkeliling untuk menikmati budaya dan keindahannya bukanlah hal yang gampang seperti pergi ke mall. Butuh banyak persiapan, diantaranya adalah kesiapan material, mulai dari membeli tiket pesawat, membuat VISA sampai dengan menyewa penginapan dan transportasinya.

Karena Britain adalah negara yang maju, maka biaya sehari-harinya tergolong mahal. Jika di Indonesia kita bisa membeli satu porsi makanan dengan harga 15.000 rupiah, di Britain, dilansir dari situs harga.web.id, harga minimal satu satu porsi makanan adalah 2 euro, atau setara dengan 33.000 rupiah. Mahalnya biaya hidup di Britain dan kesiapan-kesiapan lainnya untuk pergi ke Britain membuat kebanyakan orang di Indonesia memilih menikmati Britain lewat opsi-opsi lainnya seperti menonton film berlatar belakang Britain atau sekedar mencari tahu di internet seperti apa Britain itu.

Tetapi apakah kamu tahu kalau sastra juga bisa mengantarmu berkeliling Britain dengan biaya yang murah dan hasil yang memuaskan? Sastra adalah salah satu pintu gerbang menuju ruang imajinasi seseorang yang membuat seseorang merasa lebih hidup.

Meskipun hanya sekedar imajinasi, sastra bisa membuat kamu melihat lebih ke dalam sesuatu yang lain. Selain itu, pengetahuanmu tentang Britain yang didapat dari sastra juga memiliki pengaruh besar untuk kamu yang berencana akan pergi ke Britain. Empat novel ini bisa membuatmu melihat indahnya Britain.

1. Ingin tahu seperti apa Inggris pada abad ke-18? Yuk baca novel-novel Jane Austen!

Kamu suka dengan film-film Inggris yang berlatar waktu jaman dulu? Suka dengan klasiknya Britain di abad ke-18 dan 19? Kalau begitu kamu harus membaca novel-novelnya Jane Austen agar lebih tahu tentang seperti apa sih Britain jaman dulu. Jane Austen adalah penulis Inggris pada akhir abad ke-18 yang terkenal dengan enam novelnya, yaitu Sense and Sensibility (1811), karya terpopulernya Pride and Prejudice (1813), Mansfield Park (1814), Emma (1816), Northanger Abbey (1818), dan Persuasion (1818). Ke enam novel Austen ini menggambarkan kritiknya terhadap bangsawan Inggris pada akhir abad ke-18.

Kebanyakan dari ke enam karyanya ini menceritakan tentang ketergantungan perempuan Inggris pada abad itu terhadap pernikahan untuk meningkatkan status sosial mereka. Novel-novel Austen selain dapat mengantarkan pembaca seperti apa masyarakat Inggris pada akhir abad ke-18 juga menggambarkan seperti apa Inggris pada akhir abad ke-18, dari mulai rumah-rumahnya, tradisinya, sampai dengan jalanan dan pemandangan alamnya.

Advertisement

Meskipun beberapa dari novelnya sudah ada yang dibuat film, seperti Pride and Prejudice yang difilmkan pada tahun 1940 dan Sense of Sensibility pada tahun 1995, tetapi tetap saja gambaran yang lebih lengkap dan terasa adalah saat kamu membaca bukunya.

2. Kamu suka cerita detektif? Sherlock Holmes akan mengajakmu berkeliling London, lho!

Sherlock

Sherlock via http://bigthink.com

Pasti tahu kan dengan Sherlock Holmes? Karakter detektif buatan Sir Arthur Ignatius Conan Doyle ini bisa dibilang sangat laris di pasaran, mulai dari novel-novelnya, filmnya, sampai dengan TV serinya. Kepopuleran Sherlock Holmes ini tentunya tidak lepas dari Indonesia. Banyak masyarakat Indonesia yang jatuh cinta dengan karakter detektif dengan kemampuan deduksinya yang detail dan tinggi ini, sampai-sampai rela merogoh koceknya untuk membeli pernak-pernik ala Sherlock Holmes.

Sherlock Holmes karya Doyle ini berlatar tempat di London, Britain, dengan lebih mespesifikasikannya lagi menjadi Baker Street 221B, yaitu latar tempat apartemen yang merupakan tempat tinggal dari protagonist cerita, Sherlock Holmes dan Dr. Watson. Saking terkenalnya, latar tempat apartemen Holmes dan Dr.Watson menjadi salah satu tempat berfoto untuk turis, loh.

Advertisement

Kebanyakan latar tempat yang digunakan Doyle dalam novel serial Sherlock Holmes adalah di London, jadi selain kamu bisa mengetahui serunya petualangan Sherlock Holmes dalam menganalisa sebuah kasus, kamu juga diajak Doyle berkeliling London dan tempat-tempat lainnya yang dipakai untuk latar tempat novel seri Sherlock Holmes ini. Gimana? Siap untuk berpetualang bersama Sherlock Holmes? Siap untuk mengelilingi kota London?

3. Seperti apa kehidupan suburban di Britain? Kamu bisa baca The Buddha of Suburbia karya Hanif Kureishi

The Buddha of Suburbia

The Buddha of Suburbia via https://www.amazon.co.uk

Hanif Kureishi juga menyumbang karya penting dalam menggambarkan wilayah luaran di Britain. The Buddha of Suburbia menceritakan tentang Karim Amir. Lelaki Britain yang merupakan anak campuran dari ayah yang berasal dari India dan ibu yang berasal dari Britain. Novel ini menggambarkan wilayah-wilayah luaran Britain dan juga rasisme terhadap kaum minoritas pada saat itu. Berlatar waktu pada tahun 1970an, Kureshi membawa pembaca berkeliling pinggiran kota London dan London yang membuat kita merasa berada dalam ceritanya.

Jika sebelumnya Jane Austen mengantar kita mengetahui seperti apa Britain pada abad ke-18 akhir, Hanif Kureishi mengantarkan kita ke pinggiran kota London Utara. Bukan hanya menggambarkan pinggiran kota London Utara saja, Kureishi juga menggambarkan bagaimana London pada waktu itu melalui mata Karim Amir, yang selalu berpendapat bahwa London itu sangat berbeda dengan tempat dimana dia tinggal. Selain itu, Kureishi juga menggambarkan budaya Britain pada waktu itu. Melalui novelnya, kita bisa melihat indahnya London pada tahun 1970an.

4. Selain Sherlok Holmes, NW karya Zadie Smith juga bakal mengantarmu mengelilingi kota impian London, lho!

Zadie Smith juga akan mengajak mu berkeliling London dengan karyanya. NW adalah novel Smith yang dirilis pada tahun 2012 silam. Novel ini masih terbilang baru dibandingkan novel tiga pengarang yang disebutkan sebelumnya. Maka dari itu, penggambaran Smith akan London masih sangat baru dibandingkan novel-novel pengarah sebelumnya. Novel ini bercerita tentang sekelompok orang yang tinggal di daerah NW di London. Meskipun latar tempat pada novel ini fiksional, tetapi Smith tetap menggambarkan London dalam novelnya. Selain menggambarkan London, Smith juga menggambarkan sistem kelas yang ada di Britain, terutama di London.

5. Kamu sudah siap berangkat ke UK dibekali informasi dari novel-novel diatas?

Gimana? Terlihat seru kan novel-novel yang menggambarkan Britain di atas? Kalau kamu berniat untuk mempelajari Britain sebelum benar-benar menginjakan kaki disana, novel-novel di atas akan membantu mu untuk mengetahui gambaran umum seperti apa Britain itu. Tapi, gambaran umum yang dimaksud bukan hanya gambaran yang benar-benar umum yang digambarkan oleh para traveler saja, lho.

Gambaran-gambaran umum dalam novel-novel di atas berasal dari orang Britain asli dan orang-orang yang benar mengetahui Britain, jadi akan berguna sekali untuk kamu yang berencana untuk mengunjungi Britain atau untuk kamu yang penasaran seperti apa Britain itu terlihat dari sastranya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya