5 Alasan Si Kecil Susah Dibilangin dan Cara Mengatasinya

Karena nggak hanya kita yang ingin didengar, tapi si kecil juga!

Sering nggak sih, sebagai orangtua atau sebagai orang dewasa, ketika kita ngomong gak didengerin dan ngerasa kok anak susah banget ya dibilangin? Jadinya, kita sering berpikir kalau anak kita itu bandel, nakal, dan gak bisa diatur. Tapi tahu nggak sih? Sama seperti orang dewasa, mereka juga punya alasan kenapa mereka itu kadang susah dibilangin lho! 

Terkadang, kita sebagai orang dewasa terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan dan menghakimi mereka, terus jadinya kita gak sabar, kita panik, dan malah emosi. Kira-kira apa nih, alasan mereka susah dibilangin dan gimana sih cara mengatasinya? Yuk simak penjelasan berikut. 

1. Terlalu Banyak Informasi yang Diberikan

Photo by Alex Green from Pexels

Photo by Alex Green from Pexels via https://www.pexels.com

Sering nggak sih, saat memberitahu sesuatu ke anak berasa nggak berhenti? Misalnya, kita minta mereka untuk membereskan mainan setelah digunakan. Terkadang kita mengeluarkan banyak sekali kosakata. Misalnya:

“Tolong bereskan mainannya ya dek, itu berantakan banget. Kalo gak diberesin, besok gak boleh main lagi ya. Ini udah malem saatnya tidur, kalo gak tidur sekarang, besok kesiangan lho. Kalo kesiangan, nanti kamu berangkat sekolahnya bisa terlambat”.

 

Apakah anda sering bilang seperti itu ke anak atau instruksi lain tapi dengan kalimat atau kosakata yang panjang? Padahal, anak belum bisa menangkap informasi sebanyak dan sepadat itu.

Apa yang ditangkap oleh mereka itu hanya informasi ” Tolong bereskan mainan.” Jadi, sebenernya kita hanya cukup memberikan instruksi dengan kalimat yang singkat ke mereka. ” Adek, minta tolong ya bereskan mainanya.” Dengan begitu, mereka lebih mengerti dan lebih paham informasi apa yang disampaikan oleh orangtua.

2. Si Kecil Lagi Sibuk

Photo by Alex Green from Pexels

Photo by Alex Green from Pexels via https://www.pexels.com

Sama seperti orang dewasa, anak kecil pun tidak suka diganggu ketika dia sedang sibuk. Tentu, ukuran sibuk untuk anak kecil dan orang dewasa berbeda. Misalnya, si kecil sedang sibuk bermain, kemudian kita memberikan instruksi atau informasi kepada mereka. Mereka juga merasa terganggu ketika kita menyampaikannya kurang tepat.

Ketika mereka bermain, mereka sedang mengembangkan imajinasinya. Jadi, gak heran kalo mereka kurang mendengarkan kita, ketika mereka sedang sibuk bermain. Mencari waktu yang tepat itu perlu agar instruksi atau informasi yang kita sampaikan bisa diterima oleh mereka. 

Lalu bagaimana jika anak malah keasyikan main dan susah berhenti?

Kembali ke prinsip awal, bahwa sampaikanlah dengan kalimat yang singkat dan mudah dipahami. Misalnya, ” Adek mainanya udah dulu ya, kita teruskan besok. Masih bisa kok. ” Itu akan lebih mudah dipahami dan mereka akan merasa bahwa kita tidak membatasi. Seringkali orangtua memberikan kalimat-kalimat ancaman yang membuat si kecil tidak nyaman dan merasa dibatasi. 

3. Si Kecil sedang Lelah

Photo by Matheus Bertelli from Pexels

Photo by Matheus Bertelli from Pexels via https://www.pexels.com

Meskipun mereka masih kecil, mereka juga merasakan lelah. Walaupun kita hanya melihat kegiatannya hanya sebatas bermain, tapi bagi mereka itu adalah kegiatan yang penting dan menguras energi. Tentunya, ketika kita memeberikan instruksi kepada mereka pada kondisi seperti itu, tidak jarang anak malah merasa kesal dan tantrum. Misalnya, menyuruh si kecil segera mandi sesaat setelah bepergian.

Nah, kebanyakan orang tua mungkin melakukan hal itu. Padahal, si kecil itu dalam kondisi yang lelah dan kemampuan mendengarnya menurun. Kita saja, sebagai orang dewasa terkadang perlu istirahat atau jeda sesaat setelah kita melakukan kegiatan.Mereka juga sama ya! Jadi, berilah waktu sejenak pada mereka terlebih dahulu sebelum memberikan instruksi. 

4. Si Kecil Merasa Kurang Terhubung dengan Orang Tua

Photo by Ketut Subiyanto from Pexels

Photo by Ketut Subiyanto from Pexels via https://www.pexels.com

Sama seperti orang dewasa, mereka juga ingin didengar. Sesekali kita perlu memahami dan menanyakan bagaimana perasaannya atau apa yang ia butuhkan. Kita berusaha untuk memahaminya. Ketika si kecil merasa dipahami dan terhubung dengan orangtua, mereka cenderung akan mengesampingkan hal-hal yang sedang dilakukan. Lalu gimana sih supaya kita bisa terhubung dengan si kecil ?

Saat berkomunikasi dengan anak, pandangan mata kita sejajar dengan mereka (eye level). Hal ini agar anak merasa lebih aman dan merasa nyaman. Jangan sekali-kali berbicara kepada anak dalam posisi berdiri bahkan dengan posisi tangan dipinggang ya,  yang mengisyaratkan kita sedang emosi. Tentu, itu akan membuat si kecil takut dan tidak mau terbuka.

Selain itu sebagai orang tua perlu untuk memvalidasi dan memberikan label perasaan pada anak. Hal ini berfungsi agar anak bisa belajar mengenali emosi yang sedang mereka rasakan sehingga mereka merasa bahwa apa yang mereka sedang rasakan itu diakui. Disamping itu suara dan tindakan non verbal sebagai orangtua sangat penting dalam menjalin kedekatan dengan anak.

Komunikasi non-verbal sangat penting dalam menjalin komunikasi yang baik dengan anak. Misalnya, dengan memegang lengannya ketika kita berbicara dengannya. Itu membuat anak merasa aman. Atau bahkan memberikan pelukan. 

5. Si Kecil Belum Tahu Aturannya

Photo by Ketut Subiyanto from Pexels

Photo by Ketut Subiyanto from Pexels via https://www.pexels.com

Tentu orangtua menginginkan agar anaknya bisa belajar untuk disiplin. Tapi terkadang orangtua kurang jelas dalam memberikan instruksi. Misalnya, karena sudah sore, anak diminta untuk mandi. Si kecil menolak mandi dan malah asyik bermain. Sebagai orangtua seringkali merasa emosi. Padahal, si kecil sendiri belum mengenal adanya konsep waktu. Mereka belum paham jam berapa harus mandi, mengapa di jam tersebut mereka harus mandi.

Hal-hal inilah yang terkadang membuat hubungan si kecil dan orangtua kurang dekat. Si kecil merasa terlalu di batasi dan tidak dimengerti bahkan disalahkan, sedangkan orangtua menganggap bahwa si kecil susah dibilangin dan ngeyel. Untuk itu sangat perlu kita belajar untuk meregulasi emosi sebagai orang dewasa, karena si kecil belum bisa melakukan itu.

Ibaratnya, ketika kita naik pesawat, kita dulu yang pasang masker oksigen baru kita bisa menolong yang lain. Maka, tenangkan diri dulu dan pahami kondisi si kecil sebelum kita memberikan instruksi, agar instruksi kita bisa didengar. 

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Seorang pembelajar ulung yang sedang berpetualang mencari makna kehidupan.