Pernah nggak sih kamu merasa putus asa karena banyaknya masalah yang kamu hadapi? Yap! Putus asa dalam menghadapi persoalan hidup terkadang memang sering dirasakan oleh sebagian orang, namun terlalu larut dalam keputusasaan juga dapat menjadi faktor pemicu seseorang untuk melakukan tindakan bunuh diri dengan cara menyakiti dirinya sendiri.

Fenomena bunuh diri yang marak terjadi ini berkaitan erat dengan adanya gangguan depresi yang dialami oleh para pelaku tindak bunuh diri. Gangguan depresi ini tidak serta merta hilang dengan sendirinya, melainkan membutuhkan penanganan yang tepat, baik dari para profesional seperti psikolog dan psikiater, maupun orang-orang di sekitar pelaku tindak bunuh diri.

Menurut hasil survey, 23 dari 26 mahasiswa mengaku tidak pernah mengkonsultasikannya pada dokter dengan beberapa alasan, yang sangat disayangkan adalah ketakutan mereka akan stigma yang beredar di masyarakat yang bilang bahwa “Kalau ke psikolog atau psikiater artinya gila”, sehingga sebagian dari mereka lebih memilih untuk memendamnya seorang diri dan sebagian lainnya memilih untuk menceritakannya kepada orang terdekat.

Lalu, apa yang kamu harus lakukan jika temanmu curhat soal keinginan bunuh dirinya?

1. Jadilah Pendengar yang Baik

Menjadi pendengar yang baik.

Menjadi pendengar yang baik. via https://unsplash.com

Jika kamu terpilih menjadi tempat mereka bercerita soal keinginan bunuh dirinya, maka hal ini berarti bahwa mereka mempercayaimu. Jangan kecewakan mereka dengan menunjukan sikap tak acuh, melainkan dengan menjadi pendengar yang baik dan membiarkan mereka bicara serta menceritakan apa yang mereka rasakan terlebih dahulu.

Advertisement

Lalu, jangan menunjukan reaksi yang berlebihan dalam menanggapi ceritanya dan redam semua emosi negatif yang diekspresikan olehnya dengan bersikap tenang.

2. Tidak Melempar Asumsi Pribadi Soal Kondisinya

Simpan semua asumsi negatif dalam diri.

Simpan semua asumsi negatif dalam diri. via http://americatv.com.pe

 Terkadang alasan yang mendorong mereka melakukan aksi bunuh diri terdengar spele bagi kamu yang mendengarkan, sehingga mungkin membuat kamu ingin mengeluarkan kata-kata seperti

“Begitu aja kok mau mati”
“Masalahmu nggak seberat itu kok! Lebay banget”
“Hidupmu ini kurang apalagi sih?”
“Jangan kayak orang kurang piknik gitu deh..”
“Ah kamu caper doang, dari dulu bilang kepingin mati tapi nggak jadi-jadi”

Advertisement

Kamu sendiripun nggak tahu seberapa besar tekanan yang ia hadapi saat itu. Tanamkan pada dirimu bahwa kekuatan setiap orang dalam menghadapi masalah itu berbeda-beda.

Mereka mungkin tidak sekuat kamu ataupun sebaliknya. Oleh karena itu, sebaiknya kamu tahan asumsi negatif itu didalam benakmu. Jangan sampai kata-kata itu keluar dari mulutmu dan semakin membuatnya terpuruk hingga mendorongnya untuk melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.

3. Usahakan untuk Tetap Dekat Dengannya

Tetap dekat dengannya

Tetap dekat dengannya via http://www.google.com

Untuk menghindari mereka dari akses bunuh diri, sebaiknya jangan meninggalkan mereka sendirian. Karena pada saat sendirian, kecenderungan untuk bunuh diripun semakin tinggi. Lain halnya bila kamu dekat dengan mereka, baik itu secara fisik maupun emosional yang dapat mempengaruhi pemikiran nekat mereka dengan pembicaraan yang kamu sampaikan atau afkesi sebagai tanda kepedulian yang dapat kamu berikan.

Kamu bisa mengajaknya jalan ke mall, makan di restoran, duduk santai di taman, maupun tempat asik lainnya. Sehingga ia nggak melulu memikirkan rencana bunuh dirinya.

4. Menganjurkannya untuk Mendapatkan Penanganan

Menyarankannya untuk mendapat penanganan dokter

Menyarankannya untuk mendapat penanganan dokter via http://www.google.com

Dalam menjalankan cara ini, pastikan kamu menggunakan kata-kata dan intonasi yang tepat pada saat berbicara dengannya, sehingga tidak menyinggung temanmu yang memiliki kecenderungan untuk bunuh diri.

Jangan sampai mereka menganggapmu sama seperti orang-orang pada umumnya yang memiliki stigma seperti “pergi ke psikolog itu artinya gila” dan stigma lainnya.

Gunakan pemilihan kata yang tepat serta yakinkan mereka bahwa stigma itu tidaklah benar adanya, karena depresi yang memicu keinginan untuk bunuh diri yang mereka alami itu tidak dapat sembuh dengan sendirinya. Bahkan jika kamu bersedia untuk meluangkan waktu untuknya, kamu dapat ikut mengantarkannya ke psikolog maupun psikiater agar ia tidak merasa sendiri.

5. Jangan Dipendam untuk Dirimu Sendiri Saja

Coba bicarakan dengan keluarganya

Coba bicarakan dengan keluarganya via http://www.google.com

Tidak memendamnya seorang diri bukan berarti kamu dapat menceritakan keinginan bunuh diri temanmu kepada siapa saja, tetap harus diingat bahwa nggak sedikit pelaku tindak bunuh diri yang sungkan untuk bercerita dengan orang terdekat.

Kamu harus tetap menjaga kepercayaannya. Namun dalam kondisi krisis dari temanmu yang hendak bunuh diri, diperlukan juga kerjasama dengan pihak keluarganya.

Untuk menyampaikan hal ini perlu dilakukan dengan sangat hati-hati agar tidak mengagetkan keluarga, sekaligus memberikan penjelasan perlahan-lahan supaya keluarga dapat mengerti dan menerima kondisi yang ada, serta dapat mencegah kecenderungan bunuh diri dari temanmu.

Sebab, nggak jarang ditemukan dalam banyak kasus dimana orang tua dan keluarga shock saat mengetahui anaknya nekat melakukan bunuh diri, karena di mata mereka, anak mereka dalam kondisi baik-baik saja seolah-olah tidak ada yang salah dengannya. Bagaimanapun juga, pelaku tindak bunuh diri membutuhkan dukungan dan perhatian dari pihak keluarga.

Walaupun bunuh diri di Indonesia masih menjadi hal yang cukup tabu untuk diperbincangkan dan masih banyak orang yang mempunyai persepsi negatif tentang hal ini, bahkan banyak dari mereka yang malah menjauhi pelaku tindak bunuh diri, tetapi jangan sampai kamu bersikap nggak peduli ya! Apalagi kalau hal ini terjadi pada orang terdekatmu.

Lakukan hal terbaik yang kamu bisa untuk menyelamatkannya. Bantu dia untuk keluar dari imajinasi bunuh dirinya sehingga ia bisa menjalani hidupnya seperti sedia kala lagi. Kamu orang terpilih sekaligus pahlawan baginya. Kamu patut bangga dengan dirimu!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya