Kita bukanlah manusia sempurna yang tak pernah berlumur dosa. Hanya sekumpulan insan yang mencoba untuk menjadi yang terbaik untuk keluarga serta agama. Berjuang hingga tetes darah penghabisan menimba ilmu tanpa kenal putus asa. Semua demi menggapai masa depan cerah berwarna, berperantara usaha cipta penuh karya nyata.

Hal yang mustahil jika kita pernah mondok namun sama sekali tidak pernah mengingat kenangan apapun saat hidup di dalamnya. Berinteraksi dengan santri-santri yang lain selama beberapa bulan atau bahkan tahun membuat kita tak mudah melupakan berbagai rasa yang campur aduk. Yah, paling tidak hal-hal mendasar berikut ini pasti pernah kita rasakan.

Bangga menjadi santri, bangga menjadi pemuda harapan negeri. Hidup santri!

1. Makan tak pernah sendiri, sebab selalu ada sahabat yang siap menemani.

Gak ada loe, gak rame via http://foksass.files.wordpress.com

Tumben makan banyak, lagi perbaikan gizi ya?

Advertisement

Solidaritas kita tinggi, bro! Kita gak pernah makan sendiri walaupun hidangan di depan mata hanya sebutir combro. Kita setia kawan, man! Moto kita: makan tidak makan yang penting ngumpul, sambil membayangkan suatu saat akan bisa rame-rame makan ramen.

2. Aturan tak terlalu dipikirkan. Jika melanggar kita siap dihukum dan siap di-bully oleh teman-teman.

Gundul cuma sekali, pas lagi mondok via http://muslimoderat.com

Siap-siap digundul bro, loe sih tidur mulu pas ngaji…. wkwkwkwk

Ditakzir udah biasa bagi kita. Mungkin ada sebagian dari kita yang merasa bahwa kalau belum pernah dihukum, berarti nyantrinya belum "benar". Santri itu tidak selalu lurus, kita juga kadang ada yang memilih menjalani hari-hari yang tidak mulus di pondok. Tapi ada baiknya jangan dicontoh ya, maklum kita dulu anaknya agak ceroboh. Hehehe.

3. Kita adalah pasukan terlatih, siap antri mandi walaupun tahu menunggu itu letih.

Yang antri gayungnya, bukan orangnya via http://santrieabah.blogspot.com

Advertisement

Bro, antri gak?

Gak nih, tapi airnya habis

Oh… #tidurlagi

Kadang bukan antrinya yang lama, tapi nunggu airnya penuh yang memakan waktu. Bisa juga sebaliknya, airnya cepat penuh tapi antriannya panjang minta ampun. Kita biasanya membiarkan gayung berisi peralatan yang antri panjang di depan pintu kamar mandi.

Letih memang harus seperti itu setiap hari, tapi paling tidak penantian kita tidak sia-sia. Badan kita harum kembali dan siap ngaji lagi. Eaaa…

4. Saat akhir bulan datang dan dompet sudah mulai kerontang, selalu ada sahabat yang siap dijadikan tempat untuk ngutang.

Sedih, ya? via http://fotohumor.net

Duh, udah akhir bulan ya? Horor nih…

Walaupun di pondok makanan kita sudah dijamin, kadang kita juga sering minta izin keluar atau bila ada waktu makan bareng teman di warung makan atau semacamnya. Nah, pada saat itulah kemampuan manajemen keuangan kita sering diuji. Mengukur nafsu makan yang sudah menggebu-gebu dengan kuantitas lembaran kertas di dalam dompet harus dilakukan dengan penuh seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. #lho?

Tak ayal, jika sudah keadaan mepet seperti itu jurus memelas langsung dikeluarkan. Berburu mangsa berupa teman yang masih banyak persedian bekal di dompet maupun camilan ringan. Semua demi keberlangsungan hidup di pondok. Wkwkwk…

5. Tidak ada kepemilikan mutlak terhadap barang pribadi di pondok. Satu untuk semua, semua untuk semua!

Khusus santri, semua untuk semua! via http://masirul.com

Oy, yang warna ijo ini sandal siapa? Pinjem yak? Iya… #dijawabsendiri

Kan sudah dibilang kita ini rasa solidaritasnya tinggi. Makan bareng, mandi bareng bahkan barang pribadi hampir saja digunakan bareng. Khusus santri cowok, semua peralatan mandi sepertinya memang menggunakan motto: Satu untuk semua. Satu odol untuk semua santri pondok. Luar biasa, yah?

Tapi, justru itu seninya. Hanya kita para santri yang mampu bermurah hati menyerahkan barang pribadi yang udah susah payah dibeli pakai uang sendiri tapi malah dipakai oleh orang lain. Hebat, kan?

6. Kita gak pernah galau karena cinta, kita hanya galau jika muraja’ah kacau dan terbata-bata.

Minggu depan setoran ya, langsung satu juz. Persiapkan baik-baik.

Bukan santri tulen kalau bisanya cuma galau karena hal sepele seperti itu. Kita tak pernah mengejar cinta ala manusia, kita hanya mengharap cinta dari Sang Pencipta dengan perantara hafalan kalam suci-Nya. Galau kita bukan karena tidak mendapat balasan chatting dari si doi, bukan itu. Hati kita bisa jadi gelisah galau merana hanya karena muraja'ah tiba-tiba amburadul atau bahkan menguap entah kemana.

7. Persahabatan antar santri adalah yang paling loyal, tak akan pernah lekang hingga datang waktu ajal.

Persahabatan kita bagai kepompong, merubah ulat menjadi kupu-kupu…

Kata-kata di atas mungkin sudah cukup mewakili jenis pertemanan seperti apa yang terjalin di antara kita, para santri. Berasal dari daerah yang berbeda, latar belakang yang berbeda, kemampuan belajar yang berbeda dan kita solid dalam mengejar ilmu agama. Kebersamaan dalam pondok telah membuat hubungan kita melebihi saudara sekandung, kita bahkan merindukan untuk saling berkumpul suatu saat nanti.

8. Tidak hanya biasa ngaji berjam-jam, kita juga siap dengan alat tempur jika tiba saatnya waktu roan.

Jumat berkah. Saatnya kerja bakti untuk menjaga kebersihan pondok tercinta.

Tentu tidak selamanya kita berkutat dengan aktivitas keagamaan, dalam sekali seminggu kita juga rutin membersihkan lingkungan pondok agar terlihat selalu indah dan asri. Saat kerja bakti inilah kita bisa sejenak bisa bersantai, menggunakan pakaian bebas asalkan pantas, dan bercanda ria sambil bersih-bersih.

9. Sudah terbiasa tidur beralaskan tanah, beratapkan langit, berdempetan lengan, dan jungkir balik.

Yang penting bisa tidur via http://teknisiberpeci.blogspot.co.id

Tidur itu waktu yang paling ditunggu-tunggu setelah seharian penuh beraktivitas dengan penuh sungguh.

Bukan tidak ingin tidur berbantalkan empuk dan kasur yang nyaman, kita hanya lebih memilih untuk bisa tidur dengan tenang walaupun posisi sudah acak-acakan. Kadang kita tidak punya tempat untuk tidur yang tetap, asalkan bisa memejamkan mata saja sudah cukup.

10. Ketika kiriman dari keluarga santri lain datang, tiba-tiba kita bisa menjadi “predator”

Bukan berebut, cuma menikmati rezeki dengan cara yang berbeda via http://langitan.net

Menikmati rezeki yang datang dari orang lain dengan cara yang "buas"

Bukan kita tak tahu akhlak, tapi memang sudah seperti itu adatnya. Satu untuk semua, semua untuk semua. Tak ada kepemilikan mutlak. Saat ada rezeki pantang ditolak. Kiriman makanan yang datang dari teman-teman yang lain, juga merupakan rezeki kita. Tak ada kata pelit kalau sudah berada di lingkungan pondok. That's the rules!

11. Hati kita selalu rindu untuk kembali. Mengais berkah, mencari hikmah di penjara Ilahi.

Kadang pengen balik mondok lagi via http://sarungkyai.blogspot.com

Bro, reunian yuk. Lama gak ngumpul-ngumpul nih. Buka puasa bareng angkatan kita gimana?

Bisa berkumpul dengan teman-teman sebaya, melakukan banyak hal di pondok bersama-sama itu memang suatu kenangan yang takkan pernah terlupa. Setidaknya memori indah tersebut pernah muncul pertama kali sesaat wisuda akan terlaksana dan kembali terulang di lain waktu di saat raga mulai menua.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya