Kita adalah permata dunia.

Percaya atau tidak, dunia sedang digerakkan oleh orang-orang muda dengan visi dan tekad yang kuat. Di abad milenial ini, orang-orang mulai berpacu untuk memberi dampak pada dunia, mencari solusi untuk menolong dunia dari kerusakan ekosistem dan menolak tindak-tindak non-humanis.

Orang-orang muda adalah permata abad ini. Lahirnya generasi emas di masa mendatang terletak pada langkah kita di masa muda. Coba cek diri kita, apakah kelima karakter ini telah hidup dalam semangat muda kita. Jika iya, selamat, kamulah Permata Dunia.

1. Adu Prestasi

Rival berkualitas. via http://pexels.com


Musuhan adu status, sudah bukan jamannya. Ini jaman adu prestasi.

"Jika tidak bisa jadi teman yang baik, jadilah musuh yang hebat." (P. Sandra D.)


Advertisement

Jangan sia-siakan citra baik kamu dengan sesumbar menulis status yang tak berfaedah di sosmed hanya karena kamu angkat bendera merah dengan teman kamu. Punya teman beda pendapat itu biasa, dan nggak heran juga perbedaan pendapat berujung pada percekcokan. Hanya saja orang muda milenial harus punya cara keren meski dalam kondisi selisih paham.


"Rival yang dapat memacu semangat kompetensi, adalah rival yang keren."


Jika memang terpaksa jaga jarak, jangan jadikan itu sebuah pemicu kehancuran, tapi jadikan itu api yang melecut semangat kompetisi kalian. Berselisih dengan adu bakat dan prestasi jauh lebih baik dari pada menulis status berisi cerca di sosmed. Nyatanya rival yang demikiam jauh lebih manis ketimbang pacar ganteng/cantik kamu yang tahunya hanya nge-kepo-in, ngekorin, mencampuri urusan pribadi kamu, membatasi kamu, dan gak ngerti cara mendobrak potensi kamu.

Advertisement


Ucap selamat tinggal pada "Mantan Terindah". Ini jamannya "Rival Terhebat".


2. Teknologi Untuk Intelektual

Ponsel pintar. via http://pexels.com


Smartphone hanya buat eksis medsos dan stalk, sudah bukan jamannya. Ini jaman teknologi untuk intelektual.

Disebut ponsel pintar karena tujuannya mendukung pencapaian intelektual penggunanya.


Adakah dari kamu yang telah memanfaatkan fitur Play Books yang ada di ponsel kamu? Berapa buku yang kamu download? Berapa banyak aplikasi belajar di ponsel pintar kamu? Coba bandingkan dengan aplikasi medsos atau game kamu? Mana yang lebih mendominasi? Hal ini sangat di sayangkan, karena dari 10 pengguna ponsel pintar di Indonesia hanya 3 yang memanfaatkan ponselnya sebagai media belajar. Selebihmya digunakan untuk melejitkan popularitas diri di media sosial atau memata-matai seseorang, misalnya mantan, gebetan, atau saingan.

Ayo, jadikan diri kamu generasi milenial yang bijak dalam berteknologi. Kurangi penggunaan medsos dan mulailah memperkaya diri kamu dengan pengetahuan yang disediakan aplikasi-aplikasi pintar.

3. Menabung Untuk Investasi Masa Depan

Ini masa emas. via http://pexels.com


Punya uang habis untuk jalan dengan doi dan teman, sudah bukan jamannya. Ini zaman bijak menabung untuk investasi masa depan.



"Ma, bagi uang dong. Mau jalan sama teman nih!"

"Loh, bukannya kamu udah kerja? Masa masih minta uang ke rumah sih?"


Pernah seperti itu, artinya kamu belum jadi orang muda keren yang bijak mengelola keuangan. Nggak salah kok kalau kamu jalan sama si doi, atau dengan teman-teman, karena kita juga butuh waktu untuk bersama. Tapi jangan sampai karena jalan dan makan di luar, kamu jadi kena kanker (kantong kering) dan ujungnya jadi ngerepotin orang tua dengan meminta tambahan jajan.


Masa muda adalah masa emas.


Masa muda adalah masa kejayaan kita. Jangan mulai masa muda dengan hidup loyal dan boros. Jadilah menteri keuangan bagi diri sendiri. Atur pengeluaran, sisihkan tabungan, cukupkan dana untuk jalan dengan si dia dan teman-teman. Pacaran dan berteman bukan berarti kita harus rela bermiskin-miskinan.

4. Mengukir Karya di Kancah Dunia

Aku di mata dunia. via http://pexels.com


Kuliah, kerja sementara, dan sibuk kejar target nikah, sudah bukan jamannya. Ini zaman mengukir karya di kancah dunia.


Kalau kamu orang muda yang sedang menginjak tangga usia 20an dan kebakaran jenggot mencari pasangan hidup, artinya kamu belum menjadi generasi milenial yang keren. Eits! Bukan berarti kita tidak perlu mencari pasangan hidup ya. Menemukan seseorang yang tepat itu memerlukan seni penantian. Jika kamu merasa menanti adalah hal yang membosankan, artinya kamu belum mencapai daya kreatifitasmu. Justru menanti adalah hal yang sangat bermanfaat bagi mereka yang kreatif. Kuliah, cari kerja sementara, kocar-kacir mencari calon, bukan lagi hal relevan di jaman yang lincah ini. Sembari mencari dan menanti, tingkatkan potensi dan idemu di bidang masing-masing. Raih pencapaian-pencapaian kecil yang akan membawamu pada pencapaian besar.


Siapa aku di mata dunia?


Kita punya Chairil Anwar, Habibie, Dee Lestari, Reza Rahadian, Iko Uwais, Agnes Monica, Joey Alexander, dan masih banyak lagi. Mereka semua adalah orang-orang biasa yang dengan kerendahan hati dan tekad yang kuat berani jatuh bangun demi meraih impian-impian kecil mereka. Ketika sedang melangkah menuju tangga sukses, kita tak jarang mendapat cercaan, dianggap tak layak, terlalu bermuluk-muluk, dihadang, dan lain sebagainya. Kondisi itu sebenarnya hanya kerikil-kerikil kecil yang sedang menguji kesungguhan kita. Jangan pernah patahkan impian kita di masa muda, karena masa muda hanya terjadi sekali.

5. Bekerjasama Membangun Humanisme

Menjadi ada. via http://pexels.com


Punya pacar yang hanya tahu mengatur dan membatasi, sudah bukan zamannya. Ini zaman bekerjasama membangun humanisme.

"Kita benar-benar ada jika kita ada bagi mereka." (P. Sandra D.)


"Kamu ke mana aja sih? Telepon gak diangkat, sms gak dibalas."; "Kamu ke mana tadi siang? Aku liat kamu jalan sama seseorang?"; "Nggak usah jauh-jauh kuliahnya. Emang kamu gak sayang lagi samaku?"; "Pasti kamu udah punya yang lain kan? Alasan berlajarlah, kerjalah, ke perpustakaanlah."

Punya pasangan yang tahunya hanya fokus sama kamu, sebaiknya mulai atur langkah deh, move on. Jika seluruh waktunya dia pakai hanya untuk fokus dengan kamu, artinya dia tidak punya ide apa pun untuk dirinya dan masa depannya. Begitu juga dengan kamu, jika setiap waktu kamu habiskan hanya untuk memantau sang kekasih, artinya kamu belum menjadi pemuda milenial yang keren.


Pasangan keren itu memang saling memperhatikan tapi bukan lagi hanya untuk dirinya sendiri; mereka mulai terbuka untuk berempati pada lingkungan sosial.


Pernahkah kamu dan dia membicarakan isu-isu kemanusian? Kelaparan, ketertindasan, bencana alam, marginalisasi, kekerasan, dan lain sebagainya? Mungkin terlalu jauh jika kita ingin melihat ke luar; di sekitar tempat tinggal kita, pasti ada mereka yang sesungguhnya sedang menantikan kepekaan kita. Cinta yang kalian miliki sesungguhnya dapat menjadi pintu pembebas dan mantra senyuman bagi banyak orang. Meski terlihat sederhana, cobalah bicarakan hal-hal kemanusiaan, carilah rekan-rekan yang se-ide dengan kita, mari berpikir untuk meraih tangan-tangan yang letih memohon perhatian kita. Banyak hal sederhana yang dapat kita lakukan untuk menolong mereka dan memberdayakan semangat hidup mereka.


Tinggalkanlah dunia ini dengan namamu yang akan selalu membuat orang tersenyum ketika mengingatnya. (P. Sandra D.)


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya