Melihat lini masa ramai akan perbincangan Pengumuman SNMPTN, rasanya jadi kembali berkelana ke masa lima tahun silam. Memang sih, masa itu semua siswa di sekolah memiliki hak yang sama untuk mendaftar SNMPTN. Namun tetap saja, memilih jurusan dan kampus impian tetaplah memusingkan. Apalagi, detik-detik menjelang pengumuman.

Jantung sudah berdetak kencang tak karuan. Lebih-lebih, melihat binar mata kedua orang tua yang ikut menyaksikan. Tuhan, saat itu rasanya sedih jika harus menghadapi kenyataan yang tak sesuai harapan. Tapi, apadaya ada pepatah yang mengatakan, manusia berencana Tuhan yang menentukan. Sedih sudah pasti, tapi life must go on ‘kan?

1. Saat Realita Tak Mengamini Ekspektasi, Ekspresikan Saja Sesuai Porsi

Sedih dan kecewa adalah hal biasa

Sedih dan kecewa adalah hal biasa via https://www.pexels.com

Sedih dan kecewa adalah reaksi alami manusia saat kenyataan tak semulus harapan. Menghadapi hal ini, setiap individu tentunya memiliki beragam ekspresi. Beberapa bisa saja menangis semalaman saat sebagian yang lain berdiam diri di kamar seharian. Sah-sah saja sebenarnya, asalkan tak merugikan diri sendiri dan orang lain. Tetapi, usahakan untuk tidak menyalahkan keadaan dan tetap berpikir positif.

2. Berhenti Membandingkan dan Berandai-Andai

Photo by Plush Design Studio from Pexels

Photo by Plush Design Studio from Pexels via https://www.pexels.com

Advertisement

Barangkali sudah membudaya ya, pola pikir “Si itu nilainya lebih bagus dari aku, pantes kalau lolos.” atau “Anak si ini yang tak lebih baik nilai rapornya bisa lolos seleksi daripada aku.” Tolong, berhentilah berpikir demikian. Karena baik si dia, si itu, si ini, maupun kamu, semua orang memiliki porsi dan jalan hidupnya masing-masing.

Cukup jadikan cerita si dia, si itu, dan si ini sebagai pelecut semangat juangmu selanjutnya. Dengan terus menerus membandingkan kehidupan orang lain, membuat pengandaian menjadi lebih menyakitkan.

3. Agak Klasik, Tapi Selalu Ada Hal Baik dari Setiap Situasi Pelik

Photo by Gerd Altmann from Pexels

Photo by Gerd Altmann from Pexels via https://www.canva.com

Pepatah klise sebenarnya. Tapi yakinlah, ada sebuah akhir indah yang menantimu setelah perjuangan yang berdarah-darah. Lagi pula, gagal sekali tak harus membuatmu jadi mudah goyah. Mungkin saja, ada hal indah dibalik kisah ini kan?

4. Berteman dengan Pedih dan Perih untuk Gigih Meraih Peluang

Tak mudah lelah pun dengan menyerah

Tak mudah lelah pun dengan menyerah via https://www.pexels.com

Advertisement

Awalnya sempat berpikir, masa depan buram deh ini! Tapi terlarut dalam lingkaran kecewa dan putus asa tak menghasilkan apa-apa. Justru, yang hadir hanya kubangan rasa bersalah. Jadi, pedih dan perih yang ada harus jadi alasan kuat untuk bangkit dan introspeksi diri. Selanjutnya, merencanakan ulang target dan mengejar peluang.

5. Bangkit dan Tersenyum untuk Kembali Mengejar Kesempatan

Yuk, berjuang!

Yuk, berjuang! via https://www.pexels.com

Fokus adalah kunci. Dengan begitu, kamu akan bisa mengatasi segala situasi tanpa emosi. Mulailah dengan menghimpun berbagai informasi terkait seleksi masuk PT. Rajin mengikuti bimbel yang dulu bikin ogah dan gerah, mengurangi aktivitas sosial media dan foya-foya tak tentu arah. Apalagi, semua kan demi masa depan yang cerah. Kan seperti kata pepatah, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.

Selama ada kesempatan selalu ada jalan. Selagi kamu mampu menghadapi kesulitan dengan bijak. Yang terpenting jangan lelah berusaha dan berdoa. Berpeluh-peluh usaha akan memberimu kabar bahagia, percayalah!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya