Di sini, di bumi Indonesia ini, siapakah yang belum mengenali Soekarno? Dengan sapaannya Bung Karno yang kerap kali disebut Sang Putra Fajar? Yah, kita pasti mengetahui bahwa Soekarno adalah Bapak Proklamator Indonesia sekaligus presiden pertama Negara Ibu Pertiwi.

Bapak pencetus sejarah kemerdekaan Indonesia pertama kalinya. Beliau yang rela memberikan semua jasa dan paruh waktunya demi memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Semangat dan rasa patriotismenya yang begitu tinggi membuat rakyat Indonesia terkagum-kagum oleh karenanya.

Di sisi lain, selain banyaknya peristiwa yang berhubungan dengan segi politik antara Soekarno dan Indonesia, ternyata pria kelahiran Juni tersebut memiliki segi kehidupan pribadi yang dibilang cukup kontroversial oleh masyarakat dunia. Sejarah mencatatkan bahwa ada sembilan istri Soekarno yang diakui sah secara pernikahannya.

Mereka ada Siti Oetari Tjokroaminoto, Inggit Garnasih, Fatmawati, Hartini, Kartini Manoppo, Ratna Sari Dewi, Haryati, dan Heldy Djafar. Kesembilan wanita itulah yang pernah disunting oleh Bapak Proklamator Indonesia secara resmi. Betapa dia merupakan pria pemuja keindahan wanita di balik bola matanya.

Namun tidak sampai disitu saja. Sebagian tidak berjalan mulus sesuai dengan kemauan manusia seperti sedia kalanya. Ada yang diceraikan secara baik-baik baik dari keputusan Soekarno maupun inisiatif dari sang istrinya sendiri, ada pula yang langgeng alias tetap berstatus sebagai istri Bung Karno hingga akhir hayatnya berakhir.

Siapa sajakah mereka? Lalu, bagaimana di balik konsukuensi cinta diterima Soekarno terhadap istri satu dengan istri-istri yang lainnya?

1. Siti Oetari Tjokroaminoto

"Lak, tahukah engkau bakal istriku kelak? Orangnya tidak jauh dari sini, kau ingin tahu? Boleh.

Advertisement

Orangnya dekat sini kau tak usah beranjak, karena orangnya ada di sebelahku."

Perkenalkan wanita inilah yang pertama kali dipersunting oleh Soekarno. Dialah Siti Oetari Tjokroaminoto. Seorang putri yang berasal dari keturunan H.O.S. Tjokroaminoto, seorang guru yang sekaligus induk semang Soekarno. Sang ayahnya-lah yang mengajari orasi kepada Soekarno.

Advertisement

Makanya setiap kali kita mendengarkan orasi Sang Putra Fajar, terasa memukau dan terngiang-ngiang di kepala otak kita. Terasa semangatnya yang berkobar-kobar. Kehebatan orasi Soekarno yang tak tertandingi dengan orasi-orasi biasanya.

Oetari baru berusia 16 tahun ketika dinikahi oleh Soekarno yang lebih berumur empat tahun darinya. Pada zaman itu, usia 16 tahun tidak tergolong begitu belia untuk menikah. Mungkin masih banyak orang tua yang beranggapan bahwa wanita tidak perlu mencapai pendidikan yang ‘setinggi bintang di langit’, karena pada akhirnya wanita akan kembali pada pekerjaan ibu rumah tangga.

Pada kenyataanya, Oetari kurang mampu mengiringi kehidupan Soekarno. Dunia keduanya sungguh berbeda, ditambah adanya perbedaan opini politik dengan sang mertua. Jelas saat itu jugalah Soekarno harus menyelesaikan kuliah tekniknya di kota Bandung.

Alasan utama Soekarno ingin bercerai secara baik-baik dengan Oetari dikarenakan telah berjumpa sebelumnya dengan wanita lain, yakni Inggit Garnasih. Kita bisa melihat secara sudut pandang Oetari bahwa dia harus memiliki sikap mengalah dan berbesar hati kepada suaminya tersebut.

Padahal ia telah mengetahui bahwa Inggit juga sudah bersuami. Teganya Inggit menyingkirkan posisi Oetari pada saat itu sebagai istri yang pernikahannya masih seumuran biji jagung. Tetapi jangan salah, Oetari sudah merelakan takdir terakhirnya dengan Soekarno untuk dijadikannya sebagai mantan istri pertama.

2. Inggit Garnasih

"Aku tidak bermaksud menyingkirkanmu. Merupakan keinginanku untuk menetapkanmu dalam kedudukan paling atas dan engkau tetap sebagai istri yang pertama."

Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa Soekarno dan Inggit sama-sama sudah berumah tangga, alhasil mereka sepakat untuk menceraikan pasangannya masing-masing demi mereka dapat menikah.

Kurang lebih sekitar 20 tahun mereka hidup dengan kondisi susah senangnya bersama-sama. Apalagi kedekatan Soekarno dengan Inggit tak bisa diragukan lagi. Inggitlah yang membawa Soekarno pada masa puncak kesuksesan.

Saling menyemangati dan saling perhatian. Saling mendukung dan sama-sama hidup di serba kesusahan. Pada kenyataannya ketika sang suami sedang menjalani hukuman di Ende, Flores, Inggitlah yang rela mendampingi hidup Soekarno.

Usia Inggit terbilang cukup tua dari usianya Soekarno. Masa dimana Soekarno selalu suka menciptakan suasana yang hangat dan nyaman bersama-sama dengan Inggit seorang. Bahkan dengan tulus hatinya, Inggitlah yang merupakan induk semang dari percintaan Soekarno-Oetari hijrah dari Surabaya menuju ke Bandung. Soekarno dan Inggit memang sudah selayaknya menjadi sepasang sepatu. Mereka saling jatuh cinta, menikah, dan lebih manisnya lagi Soekarno selalu menerima masakan buatan Inggit yang seadanya berikut.

Tetapi apalagi yang mau dikata, Soekarno tetap saja tidak setia dan mencari lagi tambatan hati yang baru. Ketika perjuangannya dibuang ke Bengkulu, justru itu Soekarno bertemu dengan Fatmawati, sahabat anak angkat mereka.

Dan pada akhirnya Inggit meminta perceraian dari suaminya, dan resmilah mereka bercerai. Inggit tegas meminta untuk dipulangkan tidak mau dimadu oleh Fatmawati yang telah ia anggap sebagai seorang anaknya.

3. Fatmawati

"Dari ribuan dara di dunia. Kumuliakan engkau sebagai dewiku. Kupuja dengan nyanyian mulia, kembang dan setanggi dupa hatiku."

Dari Fatmawati, Soekarno berharap adanya keturunan. Yah, mereka dipertemukan di Bengkulu. Salah satu tokoh Muhammadiyah menitipkan anak gadisnya kepada keluarga Soekarno. Yang pada akhirnya putri tersebut diangkat menjadi istri Bapak Proklamator dan menggeser posisinya Inggit sebagai istri seperti sedia kalanya.

Kita telah mengetahui bahwa Fatmawati ialah penjahit pertama bendera merah putih dalam sejarah bangsa. Bahkan Fatmawati diagungkan sebagai ibu negara untuk pertama kalinya bagi Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Sebagaimana kita tahu Fatmawati sudah bertanggung jawab menjalani kehidupan rumah tangganya dengan amat baik.

Terutatama kehidupan sosialnya. Fatmawati ialah seseorang yang sayang dan patuh terhadap suaminya itu. Dari pernikahnnya tersebut, dikaruniailah lima anak, yaitu Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri dan Guruh Soekarnoputra.

Apakah dari istrinya ini Soekarno tiba-tiba berhenti untuk mencari wanita yang lain? Ternyata tidak, Hartini yang keempat yang datang dengan masakan sayur lodehnya di Salatiga membuat Soekarno kembali tergila-gila dengan seorang perempuan.

Istilahnya ialah "Cinta Dalam Semangkuk Lodeh", karya keromantisannya Soekarno. Hal inilah yang terulang dan terjadi kembali kepada Fatmawati. Dia enggan untuk dimadu. Akhirnya dia pergi begitu saja tanpa meminta untuk diceraikan. Sebab kemutlakan hati Soekarno yang ingin menikahi pujaan Hartini, wanita Jawa itu.

4. Hartini

"Tuhan telah mempertemukan kita Tien, dan aku mencintaimu. Ini adalah takdir."

Berkali-kali Soekarno mencari wanita agar menjadi mahkota rumah tangganya, berkali-kali juga ia lakukan cerai terhadap istrinya. Yah, pada saat dirinya masih berkeluarga dengan Oetari, Inggit dan Fatmawati, kehebohan soal perceraiannya tersebut hanya terdengar di kalangan keluarganya saja.

Lain beda hal dengan Soekarno yang sudah berkeluarga dengan Fatmawati dan memiliki anak sebanyak lima orang. Hal itu mengakibatkan timbulnya kehebohan keluarganya sendiri, ditambah dengan sejumlah aktivis feminisme, yang menantang adanya poligami. Poligami khususnya istilah bagi Soekarno ialah tidak menghargai perempuan. Padahal diri sendirinyalah yang menentang adanya poligami, tetapi pada kehidupan nyatanya tidaklah ia praktikkan dan hanya sekedang omong kosong doang.

Menurut berbagai sumber, pada suatu hari Soekarno bertemu langsung dengan Haji Agus Salim. Keduanya tengah memperbincangkan soal poligami, dimana Haji Agus Salim jelas betul memahami arti poligami. Si Soekarno kurang setuju dengan sikap poligami, sementara Haji Agus Salin sangat setuju terhadap cerita poligami.

Tetapi, apa daya setelah hari dan tahun kemudian? Soekarno yang dahulu menentang adanya poligami malah punya beberapa istri. Sementara Haji Agus Salim yang sangat setuju dengan adanya poligami hanya beristri satu dan tetap setia beristri satu. Apakah itu hanya sebagai canda gurauan saja di mata masyarakat dunia?

Meskipun Fatmawati telah meninggalkan Soekarno sepenuh raga, tidaklah ada keterbatasan bagi Hartini untuk melanjutkan pernikahannya dengan sang presiden dan tidak perlu menceraikan Fatmawati, karena dialah yang sudah resmi menjadi ibu Negara yang pertama kalinya. Alhasil keduanya pun menikah.

Mereka saling sayang satu sama lainnya. Dan Hartini tidak membatasi suaminya tersebut untuk di kemudian harinya jikalau Soekarno ingin menikah lagi dengan wanita lain. Kata lainnya yaitu sudah direstui lebih duluan daripada yang diduga.

Bahkah dengan hubungan statusnya sebagai istri presiden dan ibu negara kedua, Hartinilah yang menjadi istri yang paling setia daripada istri-istri lainnya. Hartinilah setia untuk mendampingi Soekarno di tengah keterbatasan Indonesia yang masih memburuk.

Dari kritisnya dia di Wisma Yasso hingga sampai berhembusnya napas Sang Putra Fajar tersebut, dialah yang sigap dan mendampingi Bapak Presiden tersebut. Tidak ada kata perceraian di keduanya masing-masing, walaupun Soekarno tetap gigih untuk menikahi wanita yang lain.

5. Naoko Nemoto alias Ratna Sari Dewi

"Kalau aku mati, kuburlah aku di bawah pohon yang rindang. Aku mempunyai seorang istri, yang aku cintai dengan segenap jiwaku. Namanya Ratna Sari Dewi. Kalau ia meninggal kuburlah ia dalam kuburku. Aku menghendaki ia selalu bersama aku."

Panggil saja Dewi Soekarno, dari sebuah nama Ratna Sari Dewi. Seorang wanita Jepang dengan nama aslinya ialah Naoko Nemoto. Pribadi yang sangat cantik, memikat, rupawan, memiliki pesona yang begitu indah. Tak heran jikalau Soekarno bersanding dengan wanita asing ini. Sama-sama memiliki pesona dan gambaran yang bisa melukiskan bagaimana Soekarno memikat daya hati seseorang wanita Jepang.

Beda latarnya, beda agamanya, beda sukunya dan beda pola hidupnya. Pada awalnya sang ibunda dari Naoko Nemoto tidak menyetujui pernikahan anak gadisnya dengan pria asal Indonesia. Ayahnya pun sudah meninggal terlebih dahulu sebelum pertemuannya dengan Soekarno di hotel negara matahari terbit tersebut.

Konon, Naoko Nemoto diperpakaikan oleh pihak Jepang menjadi geisha demi negosiasi alias memperlancar segala urusannya dengan presiden RI. Saat itu usia Dewi berumur 19 tahun dan Soekarno telah menginjakkan umur 57 tahun. Persamaannya di keduanya yaitu sama-sama suka mencari perhatian dan berdiskusi soal ilmu politik membuat hatinya tegas dan terkesima untuk melanjutkan status ke jenjang pernikahan.

Hingga akhirnya Soekarno dan Dewi berkukuh menjadi satu pasangan, ibundanya di Jepang meninggal dunia. Tak berselang selama dua hari kemudian, adiknya laki-laki pun bunuh diri. Hati Dewi sangatlah sedih saat itu. Telah kehilangan keluarga intimnya dan satu-satunya yang tertinggal ialah keluarga barunya. Soekarno tidak berdiam diri saja saat itu.

Dia yang sudah menganggap istrinya itu orang yang selalu paling nyambung kalau diajak ngomong soal politik, plus Dewilah yang suka memberi masukan-masukan khusus kepada Soekarno, akhirnya dia memutuskan untuk mendirikan Wisma Yasso. Yasso diambil dari sebuah nama adiknya Dewi satu-satunya. Tempat bersejarah itu ialah tempat tahanan rumah Soekarno, sekaligus tempat perhembusan yang terakhir kalinya di pangkuan istri keempatnya.

6. Haryati

"Untuk Yatie Isteriku.

Petundjuk Hidup

Soekarno

26/1/65

Hidup adalah satu rangkaian kedjadian-kedjadian, pengalaman-pengalaman, persoalan-persoalan, dan agar manusia dapat mendjalani rangkaian itu dengan baik, maka diberikanlah oleh Tuhan kepada manusia, Quran ini sebagai pandu dan petundjuk.

Yatie, ikutilah petundjuk-petundjuk itu!

Tjintaku

Soekarno"

Meskipun Dewi dikenal sebagai wanita yang cerdas, berkarakter, pandai memikat pesona para kalangan, ternyata itu bukanlah kemauan Soekarno untuk terakhir kalinya. Dia kembali menikahi Haryati, seorang penari istana dan staf sekretaris negara di bidang kesenian. Dahulunya sebelum dinikahi oleh Soekarno, Hartini telah memiliki kekasih hati.

Namun ia berhasil diluluhkan oleh pria yang sudah berkali-kali menikah. Dia dikaruiniai seorang anak dan resmi bercerai dari pernikahannya sudah berangsur-angsur ada selama kurang lebih tiga tahun lamanya. Soekarno dan Haryati sudah tidak menemukan kembali adanya kecocokan.

7. Yurike Sanger

"Yury, I came to you today, but were out (to Wisma School) I came only to say "I love you.

Yours,

Soekarno"

Pertemuannya terlintas pada pandangan pertama. Yurike Sanger pertama kalinya dipertemukan oleh Soekarno di acara kenegaraan pada saat Yurike masih berstatus pelajar SMA dan ikut organisasi Barisan Bhineka Tunggal Ika.

Rupanya pernikahan itu hanya terjalin singkat sekali. Soekarno yang kekuasaanya di ambang kehancuran rupanya tahu diri. Dia merasa kemungkinan kecil ia akan dibebaskan di Wisma Yasso. Jadi untuk keselamatan Yurike juga, dia menyarankan wanita muda tersebut untuk segera menggugat cerai atas saran bapak presiden tersebut. Walaupun Soekarno masih menyayangi Yurike apa adanya.

8. Kartini Mannopo

Berita Trans

Berita Trans via http://beritatrans.com

"Aku mencintai kamu, aku ingin kau membalas cintaku. Sekarang juga saya minta kepastian darimu ya atau tidak."

Wanita ini dikenal sebagai pramugari Garuda Indonesia. Dia menikah setelah Soekarno memperistri Yurike Sanger di tahun 1965. Manoppo berasal dari keluarga terpandang di Bolaang Mongandow, Sulawesi. Perkenalan mereka berawal dari menonton lukisan Basuki Abdullah, yang sejak pernikahannya tersebut sang istri selalu menemani suaminya ke luar negri.

9. Heldy Djafar

"Dear dik Heldy,

I am sending you some dollars,

and Miss Dior, and Diorissimo, and Diorama.

Of course also my love,

Mas."

Resmilah Heldy menjadi istri sah dari Soekarno terakhir kalinya. Lagi-lagi Soekarno menggandrungi wanita yang masih belia, seperti Heldy yang sejak usianya 18 tahun menikah dengan Soekarno. Gadis keturunan Kutai Kartanegara itu diambil oleh Soekarno pada saat pemerintahannya sudah di ujung tanduk, sejalan dengan pengasingan Soekarno di Wisma Yasso, makin rengganglah hubungan di antara keduanya.

Itulah alih-alih kisah perseteruan cinta yang bisa kita ambil dari tokoh Soekarno. Maka yang untuk perempuan maupun laki-laki, kondisikanlah hatimu dengan hawa nafsumu. Kita tidak boleh sembarangan mencari pasangan yang menurut tampangnya saja baik, namun susah untuk mengatur soal kepribadiannya.

Peranan di setiap kesembilan istri Soekarno tersebut menjadi debutan karier Soekarno dari nol hingga seratus persen. Titipan pelajaran cinta tokoh seorang Soekarno yang begitu mendalami keindahan banyak wanita.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya