#KompetisiYoungMom-Drama Ibu Menyusui: Dari Autoimun, Postpartum, Anxiety Dirsorder Hingga Eping Mom

Exclusive Pumping Jalan Ninjaku

Setiap Ibu tentu saja ingin memberikan yang terbaik buat anaknya, salah satunya yaitu dengan memberikan ASI eksklusif di enam bulan pertama kehidupan anak dan berlanjut  hingga 2 tahun. 

Ada rasa bangga ketika seorang Ibu dapat memberikan Full ASI ke Anak hingga 2 tahun. Tapi sayangnya, hal itu enggak berlaku buat saya. Ya, saya hanya bisa memberikan ASIP untuk anak saya. Sama-sama ASI tapi beda media kok.

Bukan karena enggak mau dbf ya. Please jangan salah sangka tetapi semua ini berawal dari masa-masa kehamilan di mana saya lebih fokus terhadap persalinan alih-alih memikirkan soal per ASIan. Saya di diagnosa Prolonged Pregnancy dan harus di operasi sesar. Saya sangat takut dengan tindakan operasi dan dan di saat bersamaan saya pun memiliki gangguan kecemasan yang berlebihan. Semenjak operasi sesar, saya pun mengalami Autoimun, saya enggak begitu paham Autoimun yang di maksud, tetapi seluruh badan dan payudara timbul bercak merah lalu Ibu mertua saya enggak memperbolehkan untuk dbf. Lalu karena operasi, saya mengalami postpartum. Trauma pasca persalinan tetapi saya mengusahakan agar anak saya tetap mendapatkan asi meskipun dengan cara pumping. Dan semenjak itu pula saya resmi menjadi Eping Mom. 

Namun, perjalanan menjadi seorang Eping Mom itu ternyata amat sangat enggak mudah. Banyak problematika yang harus dihadapi, loh ferguso! Baik dari dalam diri sendiri maupun dari luar. ASI seret lah jadi inti problematika yang terus membuat saya menagis di pojokan, Alhasil makin seret dong, hasil pumping menurun di fase postpartum itu dan bersamaan anxiety dirsorder yang ada pada saya menjadi jadi. Ketika dalam episode manic, akhirnya saya bad mood, pesimis, sedih, kepikiran, Anxiety kumat. Nah, ASI makin seret lagi deh. Kalau udah begitu biasanya saya langsung nenangin hati, me time dulu nyoba disiplin lagi, optimis lagi, puasa sosmed, borong belanjaan ASI booster, alat pumping biar ASI deres lagi.

Jadi teorinya kan semakin hepi makin deres ASI yang keluar. Ini nih drama menjadi Eping Mom

1. ASIP 30ml di Buang

Drama marmet dapat 30 ml langsung di buang!

Awal-awal jadi Eping Mom ASIP yang di dapatkan kudu di buang. Itu kata Ibu mertua yang minim edu. Saat itu saya yang sedang dalam kondisi sakit pasca operasi dan mengalami baby blues karena shock bagaimana caranya memberikan ASI sementara badan merah-merah karena Autoimun dan otomatis enggak di bolehkan Ibu mertua dbf langsung

Pompa terus buang sampai ASI nya lancar. Alhasil Kolostrum kebuang dong. Gimana, saya pun di awal kalut dalam ke frustasian.

2. Pompa Asi Enggak Cocok di PD

Pompa Asi

Pompa Asi via http://hellosehat.com

Jangan salah, pompa ASI salah satu hal jadi drama-nya Eping Mom loh. Enggak semua pompa cocok di PD. Saya tim Marmet di awal pumping, capek euy. Lalu beli lah Saya pompa handsfree dengan pemikiran lebih praktis, efisien dan hemat waktu pemakaian sehari-hari.

Ternyata dugaan saya salah. Mulai dari corong nya yang kurang cocok, metode hisapannya yang kurang nyes alias kurang mampu buat naikin produksi ASI saya yang turun  drastis dikarenakan skip pumping di masa postpartum. Jadilah makin sedih di pojokkan.

Saya pun berpetualang mencicipi dunia per pompaan. Mulai dari sewa menyewa pompa yang mulai wow harga nya hingga membeli pompa ala kadarnya di marketplace. Dari yang biasa hingga yang rekomendasi dari RS.

Pemilihan jenis pompa dan corong memang menentukan hasil akhir ketika di pumping. Saya pernah pumping nihil alias enggak keluar ASI sama sekali. Sedih, ya sedih banget. Dan saya terus berjuang dan rela berkorban ngeluarin duit banyak demi mencari pompa hingga nemu pompa yang cocok, nyaman, aman dan bikin produksi ASI tetep stabil bahkan semakin meningkat.

3. Tetek Kendor

Enggak tahu lagi deh pemikiran orang jaman sekarang. Banyak di circle merasa jadi Eping Mom itu karena dengan sengaja enggak dbf alias takut kalau tetek-nya kendor.di pandang sebelah mata kayak gini udah jadi makanan sehari-hari kami yang Eping Mom. Kami bukannya takut tetek kendor nih mom, tapi kami punya permasalahan yang berbeda sehingga memilih jalan Eping Mom.

4. Merasa Insecure

Setelah drama ASIP dibuang. Pergilah saya untuk mendatangi konselor laktasi. Saat konsultasi, ternyata Konselor tersebut enggak pro Eping Mom. Apalagi yang bisa saya lakukan selain menangis. Meski menangis bukan penyelesaian masalah.

Jadi drama Eping Mom yang paling krusial adalah enggak di dukung oleh beberapa Konselor Laktasi untuk jadi Eping Mom. Para Eping Mom disarankan harus dbf dan dbf. Lantas bagaimana nasib saya yang enggak bisa dbf karena faktor medis dan psikologis?

Nangis aja terus di pojokan. Saya semakin insecure menghadapi banyak mom di circle, juga capek dan lelah terus menerus menjelaskan alasan enggak dbf. Alih-alih jelasin, saya milih mengatakan baby bingung punting saja karena saya datang ke Konselor Laktasi sehingga mendiskusikan soal laktasi bukan ke psikolog maka saya memutuskan enggak cerita kondisi saya yang sebenarnya.

Belum lagi kalau ngumpul keluarga. Kok baby-mu minum dot? Sufor yaaa??? eh nggak baik loh sufor itu.

Tapi dalam hati suka ngedumel itu ASIP mom. Sedih ya.

5. Pengorbanan Duit, Tenaga, Waktu

Drama lainnya yaitu rela ngeluarin dut lebih banyak untuk mendapatkan pompa yang cocok dan pas. Enggak hanya pompa. Drama Eping Mom juga adalah rela kehilangan waktu. Waktu lagi asyik ngumpul keluarga, saya rela menyingkir sejenak buat pumping. Waktu lagi main sama baby, saya sambil pumping. Tenaga yang di keluarkan Eping Mom sama hal nya dengan mom dbf.

Kami sama-sama membutuhkan estra tenaga untuk mengASIhi anak dengan cara dan media yang bagi kebanyakan orang ribet dan enggak efisien. Yang harusnya saya bisa buka tutup baju menyusui sekarang cuci streril pompa dan harus disiplin waktu tiap 2 jam sekali hanya untuk pumping.

#KompetisiYoungMom

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Writer Ig : @crsudiyono Email : riska.erixchon@gmail.com