Lakukan 8 Tips Detoks Media Sosial Ini, Agar Hidup Lebih Damai!

Penggila Media Sosial Wajib Tahu Nih! Biar Tidak Jadi Budak Konten

Hayoo siapa nih yang sering stalking medsos si mantan. Upss ketahuan nih. Siapa  yang gamau ketinggalan dengan berita terhot artis-artis yang sukanya mengumbar sensasi dan halu-halu ria nih. Pastinya kamu panik kan kalau seharian nggak posting dan scrolling media sosial? Pastinya kamu merasa FOMO kalau tidak segera kepoin alias gamau ketinggalan beritanya? Hati-hati guys kalau keadaan seperti ini bisa berlanjut. Kalau kamu merasakan hal-hal yang tidak kunjung selesai karena sibuk update status dan kepo-kepo media sosial. Saatnya kamu perlu melakukan detoks media sosial.

Berbicara soal media sosial seakan tidak ada habisnya deh guys. Kehadiran mereka seakan memberikan kita dua sisi layaknya pedang bermata dua. Satu sisi memberikan dampak positif karena media sosial membuat komunikasi lancar dan menjadi lebih mudah. Tidak dapat dipungkiri jika media sosial hadir sebagai platform untuk mengais cuan yang melimpah. Tetapi sisi negatifnya jika terlalu banyak paparan konten negatif malah berujung menyerang pada kesehatan mental kita sebagai pengguna dan konsumen media sosial.

Sederetan story berjajar mengupdate kehidupan pada setiap waktu dan detiknya. Rekaman dan frame stories instagram yang hanya berdurasi 15 detik seakan menyalahkan diri kita dan membuat stres bagi orang yang melihatnya. Media sosial seakan menjadi social comparison atas huru-hara kesenangan yang dihadirkan. Kenyataannya media sosial menjadi ajang untuk bersenang-senang dan meluapkan kebahagiaannya. Di satu sisi kita merasa senang tetapi satu sisi lainnya 15 detik story orang sudah menggambarkan kehidupan seseorang. Kurasa perbandingannya tidak sepadan kalau menilai kehidupan orang hanya dari unggahan storynya selama 15 detik.

Jika kalian merasa media sosial terganggu dengan kesibukan kalian, maka saatnya kalian perlu melakukan detoks media sosial. Masalah cara melakukan detoks media sosial tentunya setiap orang memiliki cara yang bervariasi. Bisa dengan menjauhkan sementara antara diri kita dengan gawai, menonaktifkan sementara akun media sosial kita, menghapus atau uninstall aplikasi media sosial yang membuat kita bising karena dentingan notifikasi yang bunyinya tiada henti, bahkan mengalihkan dengan aktivitas atau kesibukan lainnya. Jika kamu adalah orang yang mulai menerapkan detoks media sosial, berikut adalah beberapa cara yang bisa kalian lakukan. Cara-cara berikut pernah aku lakukan sendiri dan ternyata works di aku karena beberapa bulan aku memutuskan untuk detoks media sosial. So, let’s check this out!

ADVERTISEMENTS

1. Unfollow atau Hide Akun-Akun Yang Meresahkan

Photo by ready made from Pexels

Photo by ready made from Pexels via https://www.pexels.com

Cara yang pertama adalah kalian bisa memulainya dengan melakukan unfollow terhadap akun-akun yang meresahkan lingkungan media sosial kalian. Terserah apapun akunnya yang menurut kalian itu ada indikasi membawa dampak buruk bagi diri kalian.

Definisi meresahkan di sini bisa beragam. Kita bisa menilainya dengan apakah akun yang kita ikuti itu memiliki bad influence atau tidak di timeline media sosial kita, apakah akun tersebut mempengaruhi kita untuk berniat jahat dengan kita, apakah akun tersebut yang kita follow itu membuat kita tergerak untuk membicarakan keburukan seseorang, apakah mereka itu saling cekcok di media sosial atau hanya sekedar nyampah dan spam media sosial. Apakah ada akun fake atau fake account dalam media sosial kita? Sebisa mungkin silakan diwaspadai. Lingkungan media sosial kita yang toxic juga membuat penggunanya merasa tidak nyaman. Justru perlu dihindari agar tidak semakin meluas dan candu. Bahkan kalau perlu kalian bisa hide story akun-akun yang membawa toxic ke lingkungan media sosial kita.

Guys, di sini kalian sebagai pengguna media sosial harus bisa tegas. Mana akun yang bisa membawa manfaat bagi kalian dan mana yang tidak. Sebisa mungkin kalian ikuti akun-akun yang bermanfaat bukan malah membawa kalian kedalam arah yang sesat. Cara simple tapi biasanya dilewatkan orang. Fitur unfollow, hide, block dan mute adalah fitur yang bisa kalian manfaatkan demi kenyamanan bersama. Fitur itu ada dan dibuat pasti karena suatu hal dong. Bukan bermaksud apa-apa ataupun dianggap childish bagi sebagian orang. Justru saya bilang tidak. Sorry to say ya.

Fitur unfollow, hide, block dan mute menandakan kedewasaan. Kita tahu bagaimana cara mencintai diri kita sendiri. Kita tahu dengan memanfaatkan fitur unfollow, hide, block dan mute setidaknya kita menghindari orang-orang yang menurutnya mengganggu kenyamanan pengguna alias toxic.

Terkadang saya juga suka menerapkan detoks ini hanya dengan hide story beberapa akun gosip yang kadang meresahkan saya sehingga saya skip untuk tidak melihat storynya.

ADVERTISEMENTS

2. Minimalisir Paparan Konten Media Sosial

Photo by cottonbro from Pexels

Photo by cottonbro from Pexels via https://www.pexels.com

Media sosial datang bagaikan dua mata pisau. Ada sisi positifnya bahkan ada sisi negatifnya. Kita sebagai pengguna harus bisa memilah dan memilih konten-konten mana yang mendatangkan manfaat bagi kita sendiri. Mana konten yang menyajikan hal-hal yang negatif. Kita sebagai pemakai selain diibaratkan sebagai konsumen media juga sebagai produsen.

Artinya kita diberikan kesempatan untuk menyampaikan opini, gagasan dan ide melalui platform media sosial manapun. Kalau saya justru suka dengan konten-konten yang berbau hiburan dan receh tentunya. Konten ini selain menghibur juga bisa menambah imun tentunya agar kita selalu bahagia dan tidak mellow terus.

Apabila kalian adalah pengguna media sosial instagram maka kalian bisa meminta untuk menghilangkan konten-konten yang negatif dan meresahkan di explore instagram. Buka salah satu atau beberapa konten yang menurut kalian kurang pantas berada di laman explore. Kemudian klik ikon titik tiga yang terdapat pada sebelah kanan atas postingan. Klik laporkan dan pilih alasannya kenapa konten tersebut anda laporkan.

Misalnya tidak pantas makanya kalian bisa report. Nantinya laman explore kalian akan bersih dari konten-konten negatif. Selain itu cara yang biasanya aku lakukan adalah sering-sering bertamu ke akun kreator yang menyajikan konten inspiratif. Apapun kontennya kalian bisa ikuti. Misalnya akun-akun yang berbau self-reminder, pengingat, pendidikan, tips and trick, inspiratif, psikologi, mental health dan lain-lain. Silakan manfaatkan sosial media untuk mengkonsumsi karya-karya yang bermanfaat dan berkualitas. Minimalkan paparan konten yang negatif  yang menjerumuskan dirimu dalam kesesatan.

ADVERTISEMENTS

3. Utamakan Kontak-Kontak Penting

Photo by Vlada Karpovich from Pexels

Photo by Vlada Karpovich from Pexels via https://www.pexels.com

Ketika kalian memutuskan untuk melakukan detoks media sosial, silakan beritahukan kepada orang-orang terdekat. Kalian bisa informasikan kepada teman dekat atau teman online yang biasanya menghubungimu di media sosial. Kalian ini bisa dihubungi melalui apa agar mereka tidak kebingungan untuk mencarimu kesana sini. Misalnya kalian sedia dihubungi via SMS atau Whatsapp, sampaikan saja. Dari sini kamu bisa menerapkan komunikasi secara terpusat atau sentralis sehingga kalian tidak perlu bingung-bingung. Dengan menerapkan detoks media sosial, kamu tidak perlu capek-capek mengeluhkan ketinggalan berita hangat apa di media sosial.

 

Hidup jadi terasa syahdu dan tenang. Mungkin dulu aku adalah tipe orang yang kayak dikejar-kejar hewan. Diriku panik tanpa alasan dan sebabnya. Setelah ditelusuri ternyata aku orangnya sempat FOMO hanya masalah tidak mau ketinggalan info. Tapi setahun belakangan ini aku mulai bertindak bodoamat akan hal-hal itu. Berusaha untuk tidak menjadikan kehidupan dunia maya sebagai kebutuhan primerku. Karena kehidupan dan kenyamanan dalam hidup sekarang ini yang aku butuhkan. Itu pun sudah lebih dari cukup.

ADVERTISEMENTS

4. Hindari Membuka Media Sosial Saat Bangun Tidur

Photo by mikoto.raw Photographer from Pexels

Photo by mikoto.raw Photographer from Pexels via https://www.pexels.com

Hayoo siapa yang kerjaannya kalau habis bangun tidur enggak cuci muka? Malah cari hapenya dimana. Eh terus cek media sosial. Ngaku deh kalian. Sebuah survey dari Deloitte Global Mobile Consumer Survey 2016 melansir bahwa 61 persen orang membuka handphone lima menit setelah bangun tidur. Disini sudah ketebak kalau yang dibuka paling banyak di pagi hari bukanlah alarm. Melainkan media sosial guys. Panik nggak panik, ya paniklahh masa enggak.

Berarti sisanya 39 persen memang bukan media sosial yang dicek pagi hari. Dari hasil survei tersebut menggambarkan bahwa banyak orang menjalani harinya dimulai dengan scrolling-scrolling media sosial di pagi hari. Aktivitas seperti ini nyatanya sudah menjadi kebiasaan dan bahkan terbawa hingga sepanjang hari-hari berikutnya.

Nah, sebisa mungkin kalian hindari kebiasaan ini. Kalian bisa lakukan detoks di pagi hari dengan tidak menyentuh media sosial. Kalian bisa mengalihkan hal yang lainnya seperti mandi pagi hari, sarapan dulu, olahraga dan juga beres-beres rumah.

ADVERTISEMENTS

5. Retreat Digital Detox

Photo by KoolShooters from Pexels

Photo by KoolShooters from Pexels via https://www.pexels.com

Cara kelima adalah cara yang biasanya saya lakukan. Yap, dengan mencoba untuk melakukan retreat digital detox. Disini kalian tidak diperbolehkan untuk bersentuhan dengan media sosial pada kondisi-kondisi tertentu. Misalnya ketika jaringan internet kalian lagi tidak bagus atau WiFi-nya sedang trouble. Kalian kan susah untuk mengakses media sosial.

Di sini kita ditreat atau dipancing dengan kondisi yang susah untuk mengakses media sosial maka aku harus komitmen untuk tidak membuka media sosial sementara waktu. Disini biasanya saya memanfaatkan cara untuk melakukan hal-hal lain sebagai pancingan dan alihan untuk tidak terhasut mengakses media sosial. Seperti edit foto, edit video, jalan-jalan, meditasi, journalling, olahraga dan aktivitas lainnya tanpa pegang gadget dan aktifin media sosial. Di sini aktivitas aku direset total untuk tidak mengakses apapun.

Apalagi kalau lagi camping pastinya seru karena kita bisa berbaur dengan alam. Tanpa media sosial rasanya jadi lebih nyaman dan menikmati. Aktivitas Retreat Digital Detox ini juga dilakukan oleh seorang enterpreneur digital, Tanya Goodin. Dia menerapkan cara ini dengan tidak memperbolehkan segala hal yang berhubungan dengan media sosial. Dia sengaja memancing dengan mengalihkan aktivitas lain seperti yoga, bermain, olahraga dan aktivitas lainnya.

Detoks yang dilakukan Tanya Goodin juga diimbangi dengan kesehatan. Ia menjauhi makanan-makanan raw food dan melarang konsumsi alkohol. Sehingga dia memperdulikan kesehatan fisik dan mentalnya. Well cara kelima ini boleh kalian terapkan dalam melakukan detoks media sosial. Sangat recommended.

ADVERTISEMENTS

6. Sibukkan Diri dengan Aktivitas Lain

Photo by RODNAE Productions from Pexels

Photo by RODNAE Productions from Pexels via https://www.pexels.com

Mengalihkan kegiatan ataupun aktivitas lain adalah salah satu cara dalam melakukan detoks media sosial. Suasana timeline yang riuh rentah ditambah dentingan notifikasi berbunyi tanpa henti membuat kepala jadi pusing tujuh keliling. Terkadang aku tidak sesering biasanya untuk membuka media sosial. Dahulu setiap hari buka hape langsung update media sosial. Tetapi makin kesini sudah mulai jarang-jarang karena adanya kesibukan. Seperti bikin konten, kelarin project, menyusun content planner, riset-riset info dan aktivitas sehari-hari lainnya. Kalian bisa alihkan dengan kegiatan lainnya seperti menyibukkan diri dengan aktivitas bertemu dengan teman, membaca buku, jogging bareng. Detoks media sosial bukan semata-mata mengalihkan media sosial sebagai fokus utama. Tetapi bisa kita alihkan ke hal-hal lainnya yang bermanfaat. Tetapi bukannya media sosial tidak ada manfaatnya ya. Cuma jangan sering-sering untuk memantau berlebihan.

7. Komitmen dengan Waktu Membuka Media Sosial

Photo by PhotoMIX Company from Pexels

Photo by PhotoMIX Company from Pexels via https://www.pexels.com

Jika kalian merasa bahwa menghilangkan aplikasi media sosial terasa berat dan tidak rela, kalian bisa melakukan detoks media sosial secara perlahan. Tetapi saya sarankan kalian untuk memiliki komitmen yang kuat ketika melakukan ini. Misalnya kalian melakukan detoks media sosial dengan membatasi waktu penggunaan atau aktif media sosial. Saya ambil sebuah contoh ketika kalian menghabiskan waktu untuk scrolling media sosial, biasanya kita menghabiskan waktu 6 jam dalam sehari. Bahkan dirasa lebih dari itu untuk scrolling media sosial. Maka kalian bisa kurangi waktunya pelan-pelan hanya 1-2 jam saja.

 

Adanya pengurangan waktu mengakses media sosial ini dikarenakan kita tidak ingin terlalu terpapar dan terbiasa untuk komitmen tidak mengakses social media. Jika berhasil dalam waktu hanya 1-2 jam, cobalah untuk kurangi menjadi 30 menit saja. Cara ini ternyata works ketika saya lakukan. Saya mulai mengurangi scroll-scroll media sosial kalau tidak penting-penting banget. Saya pakai sesuai dengan kebutuhan. Apalagi kalau kalian trigger dengan kesibukan-kesibukan maka setidaknya dapat membantu untuk mengurangi cek-cek media sosial.

8. Hapus Aplikasi

Photo by Brett Jordan from Pexels

Photo by Brett Jordan from Pexels via https://www.pexels.com

Terakhir, cara yang paling sakti untuk melakukan detoks media sosial tidak lain dan tidak bukan adalah menghapus aplikasi. Kalian bisa menonaktifkan sementara akun media sosial kalian atau menghapus aplikasi media sosial yang kalian selalu pakai. Hal ini setidaknya membantu dalam melancarkan detoks media sosial. Awal-awal tentunya belum terbiasa untuk detoks media sosial. Tetapi lama-lama akan terbiasa. Kita jadi lebih beralih fokus kita dengan mengecek pekerjaan maupun tugas-tugas kita tanpa adanya bayang-bayang ketakutan untuk mengecek media sosial setiap waktu dan jam.

Detoks media sosial bukan semata-mata mengalihkan media sosial sebagai fokus utama. Tetapi bisa kita alihkan ke hal-hal lainnya yang bermanfaat.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penyuka Seblak dan Baso Aci