Bicara Britania atau Inggris khususnya rasanya tidak bisa lepas dari yang namanya sepak bola. Inggris merupakan salah satu kiblat sepak bola di dunia, selain karena disana tempat lahirnya sepak bola itu sendiri, banyaknya tim besar yang berasal dari inggris juga merupakan salah satu sebab negara itu dikenal dengan tradisi kuat sepak bolanya.

Banyak dari kita sebagai fans olahraga khususnya sepakbola bermimpi mengunjungi inggris karena tim idola kita berasal dari sana, entah itu kota London, Manchester, atau bahkan Liverpool. Tapi, jika kalian bukan salah satu fans dari salah satu tim kota-kota tersebut dan menyukai sepak bola, rasanya tidak ada salahnya jika berkunjung ke Inggris kalian meluangkan waktu untuk mengunjungi kota Leicester.

Kenapa leicester? bukankah lebih baik kita ke selatan Inggris yang lebih modern dan mewah jika ingin wisata melihat klub sepak bola? buat apa kita ke tengah Britania tempat para banyak imigran dari berbagai belahan dunia mengadu nasib di negara baru ini? kenapa kita harus ke kota yang terkenal dengan industri kripik kentangnya ini kalau kita suka sepak bola?

Untuk mendapat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin kalian harus kembali lagi memutar waktu ke tahun 2015. Leicester seperti kota lainnya di Inggris sana, memiliki tim sepak bola kebanggan kota tersebut bernama Leicester City, dan tim inilah yang menjadi simbol bahwa tidak ada yang tidak mungkin dalam sepak bola.

1. The Great Escape

Mungkin inilah awal dari cerita dongeng yang manis ini, pada tahun 2015 Leicester City yang dilatih oleh Nigel Pearson kalah sembilan kali berturut-turut, catatan rekor yang pantas untuk tim underdog yang mungkin dipandang tidak layak berada di kasta teratas sepak bola inggris. Berada di peringkat terakhir klasemen Premiere League dan sudah nyaris terlempar ke kasta kedua, di mana hasil itu tidak membuat para pundit maupun kita terkejut, karena itulah standar mereka, tapi Leicester menolak menyerah begitu saja, mereka tetap berpegang teguh pada mimpi untuk tetap bermain di Premiere League, dan akhirnya ketika musim hampir berakhir di bulan Mei.

Mereka berhasil memperoleh lima kemenangan dari enam laga sisa, torehan hasil dari tim asuhan Nigel Pearson ini berhasil membuat mereka berhasil lolos dari jebakan degradasi turun ke kasta kedua, pada akhr musim mereka finish di posisi lime belas, cukup untuk tetap bertahan di Premiere League, sampai sekarang ini disebut sebagai salah satu momen menghindari degradasi yang dramatis dalam sejarah Premiere League.

2. The Tinkerman

Claudio Ranieri

Claudio Ranieri via https://www.fourfourtwo.com

Advertisement

Setelah melalui musim yang dramatis, cobaan Leicester tidak behenti, karena berbagai hal, pelatih yang membawa mereka berhasil tetap berada di Premiere League untuk musim selanjutnya Nigel Pearson dipecat oleh klub. Hal ini tentu saja mengejutkan semua orang, terlebih para fans Leicester City yang berharap musim ini tim mereka bisa setidaknya menembus papan tengah di Premiere League, terlebih nama yang menggantikan Nigel adalah nama yang tidak terlalu diharapkan oleh para fans, Claudio "The Tinkerman" Ranieri.

Tidak salah jika para fans skeptis terhadap Ranieri, sepanjang karir sebagai pelatih Ranieri sering dicap sebagai pelatih gagal, bahkan julukan Tinkerman itu bukan sanjungan, tetapi sindiran yang diberikan karena ia kerap mengutak-atik skuad yang berujung kegagalan, berbagai liga ia coba mulai dari Inggris, Spanyol, Italia bahkan sebelum di Leicester ia melatih tim nasional Yunani, yang berujung pemecatan tidak terhormat setelah Yunani dikalahkan Kepulauan Faroe.

Tapi sama seperti para imigran yang pergi Leicester untuk mencari kesempatan lain dalam hidupnya, di usia yang tidak lagi muda dan karir yang tidak cemerlang, Ranieri pergi ke Leicester untuk mendapat kesempatan itu dengan impian yang sama bertahun-tahun sebelumnya, menjadi juara.

3. The Foxes

Leicester City

Leicester City via https://talksport.com

Advertisement

Melihat skuad Leicester City, siapa berani memasang mereka sebagai taruhan, alih-alih menjagokan di awal musim. Leicester tidak memiliki nama-nama mentereng di sepak bola seperti halnya yang dimiliki tim-tim besar di Inggris lainnya, Leicester juga tidak memiliki dana super besar, mereka hanya tim kecil dari jantung Britania.

Nama seperti Jamie Vardy, yang sebelumnya pada usia enam belas tahun hampir menyerah pada impiannya di sepak bola dan harus bekerja di pabrik untuk menghidupi dirinya, main di kasta rendah sampai kasta ketiga hanya untuk dapat 850 poundsterling setiap mingggunya, sampai akhirnya takdir membawanya ke Leicester City. Riyad Mahrez, pemain asal Aljazair yang sebelumnya juga bermain di kasta kedua sepak bola Prancis ini tidak ada yang memperhitungkan di awal bakal bisa menjadi pemain yang sangat bagus, namun Leicester adalah tempat dimana impianmu tidak akan pudar begitu saja, setidaknya itu yang terjadi pada Vardy dan Mahrez yang bakal menjadi duo mematikan di inggris.

Pemain lain seperti N'Golo Kante, Danny Drinkwater, Shinji Okazaki, Robert Huth, Wes Morgan, Kasper Schmeichel adalah nama-nama yang tidak membuat mata kita tertarik ketika melihatnya, mereka semua cuma pemain yang bakal memiliki karir biasa-biasa saja, itu terbukti dari torehan mereka di klub mereka sebelumnya, karena itulah mereka berakhir di Leicester, tim biasa-biasa saja, dengan pelatih gagal yang biasa saja. Tapi para rubah ini tetap tidak menyerah, mereka disatukan lagi di Leicester dengan impian dan cinta yang sama, yaitu sepak bola, dan itu sudah cukup untuk membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin.

4. Foxes Never Quit

Juara Liga Premiere

Juara Liga Premiere via https://www.premierleague.com

Kalau hanya bermimpi semua orang juga tidak sulit melakukannya, yang membuat impianmu itu tidak mati adalah dengan memperjuangkannya. Leicester dan Ranieri bisa saja bermimpi menjadi juara, walaupun target yang diberikan kepada mereka hanya sekedar bertahan di Premire League, tapi hal itu hanya bakal menjadi angan biasa yang akan hilang jika mereka tidak memperjuangkannya.

Banyak sekali orang meragukan mereka, para pundit, fans tim lain, ketika mereka mengawali musim dengan kemenangan dan disusul kemenangan orang mulai bertanya, ada apa dengan tim ini? bukankah ini tim yang musim lalu bahkan berjuang agar tidak terlempar ke kasta kedua? Kenapa mereka bisa memperoleh hasil baik sejauh ini.

Tapi cerita dongeng tidak lengkap jika tidak ada hambatan, tepat setelah Leicester menuai hasil positif merek aharus berhadapan dengan Arsenal, dan hasilnya seperti yang diduga mereka kalah telak, ya selamat datang di kenyataan, mungkin begitulah pikir kita, tapi rubah-rubah ini tetap ngotot dan tidak menyerah, mereka tetap maju melewati rintangan mereka, satu demi satu tim-tim berhasil mereka lewati.

5. The Fairy Tale Ending

Fairy Tale Ending

Fairy Tale Ending via https://www.bola.net

Sampai juga kita di akhir dongeng ini, kisah manis yang akan tercatat dalam sejarah sebagai salah satu kisah paling manis dalam olahraga tidak hanya sepak bola. Pada awal Mei, Leicester berhasil menahan imbang Manchester United 1-1, dengan hasil itu Leicester hanya tinggal menunggu hasil dari pertandingan lainnya antara Tottenham yang akan berhdapan dengan Chelsea.

Pada saat itu hanya Tottenham yang masih punya kesempatan mengejar poin Leicester, dan mereka butuh kemenangan untuk tetap menjaga asa mereka, hal yang tidak mudah karena mereka harus bertandang ke markas Chelsea. Hal ini sebetulnya cukup ironis, karena Chelsea adalah tempat dulu dimana Ranieri melatih, dan seperti kita tahu karirnya disana tidak lebih dari kegagalan.

Partai berlangsung dengan alot, Tottenham berhasil mengungguli Chelsea 2-0 sampai turun minum, para fans pun berpendapat Leicester masih harus berjuang lagi sampai akhir musim untuk menjadi juara. Sampai setelah turun minum Chelsea berhasil memperkecil jarak menjadi 2-1 dan kemudian keajaiban di menit akhir terjadi, Eden Hazard berhasil merobek jala Hugo Lloris untuk membuat skor akhir menjadi 2-2.

Dan detik itulah sejarah di Britania berhasil dicatatkan oleh tim biasa yang sederhana dari jantung Britania, tim yang dilatih oleh pelatih yang gagal di berbagai liga, tim yang berisi pemain-pemain biasa tanpa nama besar yang telah gagal di tim sebelumnya, tim yang hanya dimiliki oleh orang asia tenggara bukan orang kaya dari timur tengah, tim yang berasal dari kota industri sederhana yang berisi para imigran yang memiliki impian yang sama, tim dari kota bernama Leicester yang mengajarkan bahwa tidak ada impian yang mustahil, uang bukan segalanya dalam sepak bola, tim yang mengajarkan apabila kita bersungguh-sungguh terhadap impian kita maka kita bisa mencapainya.

Itulah cerita paling manis di dalam dunia olahraga "Cinderella Story" yang sangat sempurna dari Britania. Mungkin setelah membaca ini, kalian yang menyukai olahraga tidak hanya sepakbola mau memasukan Leicester ke dalam rencana kalian apabila berkunjung ke Britania, karena sebagai penggemar olahraga mengunjungi kota dimana tim yang memiliki cerita bak dongeng adalah salah satu pengalaman berharga. Jadi, siapa yang ingin ke Leicester suatu hari? saya sih iya.

#AyoKeUK #WTGB #OMGB

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya