1. GUE NGGAK APA-APA KOK!!!!!

fight in public

fight in public via https://zanfadli.wordpress.com

Tipe orang yang pertama ini sih, idealnya nggak masuk ke dalam lingkaran terdalam pertemanan kita. Atau kalau emang udeh terlanjur jadi temen deket (atau lebih nelangsanya lagi adalah saudara sendiri) ya, sebaiknya kalian belajar dari pengalaman aja kali, ya! Ibaratnya nih, kalau mereka lagi diterpa masalah, mereka bakal bahaya banget. Nggak sampai impulsif nggebukin orang yang tak berdosa juga sih.

Tapi tipe yang pertama ini punya kemungkinan paling besar buat marah balik ke kalian.

A: “Beb, kamu lagi kenapa? Kok dari tadi diem aja?”

B: “HEH! UDAH DEH! NGGAK USAH NANYA-NANYA! EMANG KAMU BISA BANTU APA? KAMU JUGA DARI TADI NGGAK ADA GUNANYA JUGA KAN DEKET-DEKET AKU? TERUS, ITU APA PULA KAMU PAKEK KOMEN DI PATH-NYA SI JABLAY ITU? KAMU MASIH SUKA SAMA DIA? SELERA KAMU TUH YAAA, NGGAK PERNAH BERUBAH! JABLAY KUTILAN GITU AJA DILADENIN. KAMU TAHU NGGAK? AKU NYESEL TIDUR SAMA KAMU? KAMU TAHU NGGAK KENAPA AKU SEDIH DARI KEMAREN? AKU LAGI HAMIL ANAK KAMU!!!! PUAS?!!!!!”

2. GUE NGGAK APA-APA KOK!!!

syedih banget :(

syedih banget :( via https://zanfadli.wordpress.com

Sebagaimana masalah yang datangnya tak ada yang tahu (kecuali Tuhan), orang tipe kedua ini menurut gue lumayan seru juga kalau lagi bete dan dapet masalah di hidupnya. Umm, bete yang cenderung rese sih. Sedikit destruktif, tapi masih bisa dikendalikan.

Cara paling bijak menghadapi orang-orang yang masuk kategori nomor dua ini adalah meladeni apa yang mereka tanyakan. Memberikan pengertian tidak dengan logika, namun mengikuti alur fantasi mereka. Yang tentu saja, sebagai orang yang lebih waras, kalian harus mengakhiri percakapan dengan sebuah nasihat terselubung. Lebih baik jika disisipi peringatan!

Kasus paling ideal buat orang tipe yang kedua ini adalah cewek yang diputusin sama cowoknya. Saat pertanyaan baik-baik kamu dijawab dengan “Gue nggak apa-apa” yang lengkap dengan empat buah tanda seru, diselingi dengan tuduh sana-sini, dan pembelaan diri sendiri, yang akhirnya ditutup dengan derai air mata.

3. GUE NGGAK APA-APA KOK!

(masih) Menurut gue, tipe yang ketiga ini adalah yang paling banyak secara kuantitas. Karena memang sebagian besar orang akan lebih nyaman untuk menyimpan masalahnya sendiri. Bukan sebagai bentuk ketidakpercayaan terhadap orang lain, tapi lebih kepada keraguan akan pertolongan dari orang terdekat (eh? sama aja ya?).

Ummm, gini, gini maksud gue. Orang jenis ketiga yang kalo ditanya “lagi kenapa” dan jawabnya datar “gue nggak apa-apa” tapi terdengar sedikit ketus, Sering dong ngadepin orang yang macem gitu? Mereka juga umumnya akan menggerutu sendiri. Tanpa memberikan subjek yang jelas atas apa yang tengah mereka gerutu-kan. Nah lo? Bingung, kan?

Intinya, mereka akan senang ada seseorang yang menanyakan apa yang sedang terjadi, tapi mereka memutuskan untuk melenggang pergi. Dan membiarkan semuanya menjadi teka-teki. Tenang aja, besok atau malah sejam lagi mereka juga bakal biasa lagi kok. Entah karena masalahnya telah usai, atau malah bertambah njelimet.

 

4. GUE NGGAK APA-APA KOK.

Semakin dekat dengan mereka yang gue sebut sebagai Peri Baik Hati, mereka yang masuk dalam kategori nomor empat ini adalah salah orang yang favorit-able! Saat yang lain jengah dan terusik dengan pertanyaan “Kamu lagi kenapa?”, yang satu ini akan dengan senang hati menjelaskan akar masalah yang dihadapi. Merunutkan problematika kehidupan dengan sistematis dan sesuai hirarki.

Ini semua bisa jadi dipicu oleh pertanyaan sambungan dari kita selanjutnya. “Serius nggak apa-apa? Cerita dong, mungkin gue bisa bantu.”

A: “Kak, kamu lagi kenapa sih? Kok Whatsapp aku cuma dibaca doang dari kemarin?”

B: “Ummm, gimana ya bilangnya. Aku bingung mau mulai cerita dari mana, Dek. Sebenernya sih bukan masalah yang penting-penting banget. Serius deh, Aku nggak apa-apa kok”

A: “Tuuukan, kamu gitu, kan? Cerita dong, Kak. Aku kan adek kamu banget”

B: “Semester kemarin aku ribut sama Dosen PA. Aku nggak tahu aku salah apa,, Dek. Yang aku ingat, aku cuma nggak masuk kelasnya satu kali. Iya, cuma satu kali. Tapi sekarang, aku duah mau kelar Skripsi, dia masih nggak pernah nyapa aku sama sekali. Coba kamu bayangin, berkali-kali papasan di kampus, jangankan nyapa, ngeliat aku atau sekadar ngangkat alis aja nggak pernah? Aku kan jadi kepikiran. Aku pingin lulus dengan hati lapang, Bukan dengan kebencian kayak gini. Dia kan juga dosen aku. Aku menghargai beliau banget. Aku sedih dan nggak tahu harus gimana. Aku pingin coba buka omongan duluan, tapi dia selalu menghindar. Aku mau coba lewat perantara tapi aku nggak tau harus minta tolong siapa. Aku pingin kasih beliau hadiah atau sesuatu, tapi aku takut dikira cari perhatian. Aku nggak bisa gini terus, Dek.”

A: …

B: “Terus nih ya. Kayak kemaren banget pas aku mau bayar uang sidang. Dia lagi ketawa-tawa sama orang akademik, pas ngeliat aku amsuk, mereka semua langsung diam. Dia langsung keluar ruangan. Aku bisa apa, Dek?”

A: Ummm

B: “Apa mungkin dia suka sama Kakak ya, Dek? Tapi, dia kan cowok juga! Huhuhuhuhuhuhuhuhuhuhuhuhuhuhuhuhuhu”

5. GUE NGGAK APA-APA KOK ;)

Dengan segala ketulusan hati, gue minta maaf kalau gue suka banget sama orang-orang yang macem kayak gini. Ibu Baik Hati dari semua Peri Baik Hati di dunia. Ya, kurang lebih beginilah ilustrasi yang bikin kenapa gue suka banget sama mereka yang masuk ke dalam kategori nomor lima ini.

A: “Say, kamu lagi kenapa dah?”

B: “Eh, Say, Laper nggak? Temenin aku makan Hollycow yo! Aku yang nyetir deh!”

(setelah dua porsi Hollycow dia pun nawarin buat take away. Apa kamu bisa nolak? Tentu tidak!)

A: “Wuiih! Baru dapet bonus ya, Beb? Hehehe! Makasih yo! Anyway, kok tumben Si Ganteng nggak nelpon?”

B: “Ohya, aku lupa banget! Kemarin ada klien yang ngasih voucher MAP. Nih buat kamu aja deh, Beb”

A: “Dua juta? Semuanya banget nih buat aku?”

B: “Iya. Buat kamu aja. Karoke yuk!”

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya