Tulisan ini bukan bermaksud untuk menceramahi atau menggurui para pembaca, tapi lebih sebagai bahan renungan saja. Selain untuk pembaca, tulisan ini saya tujukan untuk diri saya sendiri yang merasa belum mampu menjadi anak yang berbakti.

Membahagiakan orang tua merupakan kewajiban setiap anak. Ada berbagai cara yang bisa dilakukan untuk membahagiakan orang tua. Bagi pembaca yang sudah memiliki penghasilan sendiri, memberikan sebagian penghasilanya atau membelikan barang tertentu kepada orangtua bisa menjadi salah satu cara membuat orang tua tersenyum dan bangga. Tapi, apakah membahagiakan orangtua hanya sebatas pemberian materi? Penulis rasa tidak. Banyak cara yang bisa kamu lakukan untuk membahagiakan orangtuamu.

Berikut 5 hal sederhana yang bisa kamu lakukan untuk membuat orangtuamu bahagia:

 

1. Bantu menyelesaikan pekerjaan rumah

Menyapu atau mengepel bisa menjadi pilihan untuk membantu orangtuamu

Menyapu atau mengepel bisa menjadi pilihan untuk membantu orangtuamu via http://www.republika.co.id

Hal sederhana pertama yang bisa kamu lakukan adalah membantu orangtua menyelesaikan pekerjaan rumah. Bagi kamu yang belum bekerja atau masih menempuh pendidikan, penulis yakin waktu yang kamu miliki di rumah cukup banyak. Daripada waktu terbuang percuma hanya untuk menonton televisi atau memandangi layar handphone, gunakan waktumu untuk membantu orangtua, khususnya Ibu, untuk menyelesaikan pekerjaan rumah.

Ingat, menyelesaikan pekerjaan rumah seperti menyapu, mengepel, memasak dan lainya bukan pekerjaan mudah. Butuh tenaga dan waktu yang cukup banyak. Bayangkan, betapa lelahnya Ibu kita. Dengan usianya yang semakin bertambah, beliau masih dengan tekunya membersihkan rumah agar nyaman untuk kita tempati. Mari kita sisihkan waktu dan tenaga kita yang masih berlimpah untuk membantu beliau. Kalau kita tidak bisa memasak, ya, paling tidak kita bisa mengepel, menyapu atau memasak air hangat untuknya mandi.

2. Berhenti mengeluh dan menurutlah pada perintahnya

Turuti perintahnya, meskipun perintah itu terdengar sepele

Turuti perintahnya, meskipun perintah itu terdengar sepele via http://www.edupost.id

Jujur, penulis terkadang masih sering menolak perintah dari orangtua. Tapi, betapa menyesalnya berbagai tindakan penolakan itu ketika penulis ditinggal oleh ayah penulis beberapa tahun yang lalu akibat meninggal dunia. Belajar dari pengalaman itu, penulis berusaha menuruti apapun yang diperintahkan oleh ibu penulis (meskipun belum maksimal).

Untuk pembaca yang masih memiliki orangtua lengkap, ayah dan Ibu, jangan sia-siakan kesempatan itu. Usahakan, apapun yang diperintahkan. Patuhi, meskipun perintah itu hanya sekedar membetulkan antena televisi. Senyumlah ketika mendapat perintah dan laksanakan. Niscaya hal itu menjadi pelipur lelah bagi kedua orangtua kita setelah menjalani rutinitas sehari-hari.

3. Segera selesaikan tanggung jawab akademikmu

Alasan kenapa kita tidak bisa menyelesaikan skripsi adalah karena kita terlalu banyak alasan

Alasan kenapa kita tidak bisa menyelesaikan skripsi adalah karena kita terlalu banyak alasan via http://www.tempo.co

Untuk pembaca yang masih berkuliah, khususnya yang sudah semester tua (akhir): segera selesaikan skripsimu. Jangan gunakan skripsi atau tugas akhir (TA) sebagai alasan penghambat kelulusan kalian. Kita molor lulus kuliah hanya ada satu alasan yaitu terlalu banyak alasan.

Salah satu cara membahagiakan orang tua, selain dengan pemberian materi adalah memberikan kabar bahwa bulan depan kita akan diwisuda. Jadi, berhenti menghabiskan waktu untuk nongkrong di kafe dan mulai kerjakan skripsimu. Orangtuamu tidak butuh kumpulan foto karcis bioskop yang ada di handphone-mu. Beliau hanya ingin foto dirimu yang sudah mengenakan toga.

4. Jangan banyak menuntut

Jika masih terlalu banyak menuntut, berdiri di depan kaca dan tanyakan

Jika masih terlalu banyak menuntut, berdiri di depan kaca dan tanyakan "apa saya masih waras?" via http://www.jabaprov.go.id

Pernakah kita berfikir mengenai berapa banyak uang orangtua yang sudah kita habiskan selama hidup di dunia? Jika belum pernah, silahkan dihitung, meskipun hanya sekedar hitungan kasar. Kalau mau jujur, sudah puluhan bahkan ratusan juta rupiah uang orangtua yang kita habiskan, dan terkadang kita masih mengeluh dan berkata, “Ibu pelit nggak mau beliin aku motor baru.”

Ingat, orangtua sudah merawat dan memberi kita kehidupan. Kalau kita masih ngambek hanya karena orangtua tidak memberikan barang yang kita inginkan, penulis anjurkan mari kita bercermin di depan kaca dan berucap, “Apakah saya masih waras?”

Tujuan penulis menganjurkan hal ini adalah agar kita tidak banyak menuntut kepada kedua orangtua kita. Penulis merasa miris melihat realitas sosial di sekitar. Banyak anak sekolah yang menuntut macam-macam kepada kedua orangtuanya. Bahkan, banyak kasus anak membolos sekolah karena tidak dibelikan sepeda motor oleh orangtuanya.

Hal ini tidak lepas dari tontonan televisi yang sudah tidak mendidik. Menurut Maman Suherman, atau kerap disapa Kang Maman, pengamat media, hampir 70% konten televisi bersifat Jakarta-Centris yang artinya televisi banyak menampilkan budaya hedonis dan konsumtif a la masyarakat perkotaan. Jadi, untuk pembaca yang masih menempuh jenjang akademik, kurangi nonton Si Boy dan belajarlah dengan giat. Raih cita-citamu dan balas jasa kedua orangtuamu.

5. Mereka butuh kehadiranmu

Hadirlah untuk mereka

Hadirlah untuk mereka via http://www.parentscrc.org

Penulis yakin banyak dari pembaca yang saat ini sudah bekerja atau berkuliah. Terkadang aktivitas kita di luar rumah cukup menguras waktu banyak, sehingga mengurangi interaksi kita dengan orangtua. Penulis menyadari betul jadwal rapat, entah itu di kampus atau di kantor, sulit untuk ditinggalkan. Tapi, penulis sarankan sempatkanlah meluangkan waktu untuk berinteraksi dengan kedua orangtuamu. Interaksi ini begitu penting untuk membangun dan menghangatkan kembali hubungan antara anak dan orangtua.

Jangan sampai, kita menganggap obrolan dengan orangtua itu merupakan hal yang sia-sia. Jika kelak kita sudah ditinggalkan oleh kedua orangtua kita, maka kita akan menyesal betapa berharganya momen itu. Momen dimana kita biasa ditanya mengenai: pekerjaan kita, sudah makan apa belum dan pertanyaan lain yang sering terlontar dari kedua orangtua kita.

Melalui obrolan pula kita bisa menghibur orangtua kita, karena dengan obrolan berarti kita sudah hadir untuk beliau. Bagi pembaca yang tidak sempat atau tidak bisa hadir di sisi beliau, karena alasan pekerjaan luar kota, sempatkanlah untuk menghubungi beliau lewat telepon atau lainya. Manfaatkan tekhnologi yang ada di genggamanmu untuk mendekatkanmu dengan beliau, jangan malah sebaliknya.