Mengembangkan Konsep Diri yang Positif

Perspektif rang terdekat dan lingkungan yang positif

Kita pasti mengetahui bahwa manusia yang berada di muka bumi ini memiliki sifat dan karakter yang berbeda. Namun, bagaimana itu bisa terjadi? Hal itu terjadi karena adanya konsep diri. Lalu, apa yang dimaksud dengan konsep diri? Konsep diri merupakan cara pandang dan sikap seseorang terhadap diri sendiri. Konsep diri juga dapat diartikan sebagai gambaran persepsi individu dengan dirinya sendiri dan hubunganya dengan orang lain di dalam lingkungannya.

Meskipun hidup bersama dengan orang lain setiap hari, bahkan berada di dalam lingkungan yang sama, tetapi masing-masing individu pasti memiliki ciri khas yang berbeda. Konsep diri sangat berperan penting dalam hidup kita, melalui konsep diri itu pun kita jadi mengetahui perbedaan dari setiap individu dalam menghadapi berbagai hal.

Perkembangan dari kepribadian seseorang memengaruhi perkembangan dari konsep dirinya, yang pada akhirnya mempengaruhi setiap perilakunya. Konsep diri tidak dimiliki oleh individu sejak dalam kandungan, tetapi konsep diri dibentuk ketika individu berada pada masa pertumbuhan dan perkembanganya yang terbentuk secara bertahap.

Jika kita  mampu mengembangkan konsep diri menjadi konsep diri yang positif, tentunnya akan  mengarahkan kita  memiliki kepribadian yang positif juga. Namun, tidak semua individu mampu untuk mengembangkan konsep diri yang positif, sehingga ia menganggap dirinya tidak berdaya, lemah, dan sebagainya. Hal ini sangat merugikan, bahkan sifat itu pun akan berdampak kepada orang-orang yang berada di sekitarnya.

Konsep diri memunculkan pandangan, perasaan, dan penilaian terhadap dirinya sendiri yang didapatkan dari hasil interaksi di lingkungan sekitarnya. Lingkungan menjadi pengaruh penting dalam pembentukan konsep diri seseorang. Lingkungan akan memberikan stigma yang dapat mempengaruhi pembentukan dari konsep diri tersebut. Jika kita hidup di dalam lingkungan yang selalu memberikan dukungan yang positif, maka akan mempermudah individu untuk membentuk konsep diri yang positif.

Sebaliknya, jika lingkungan sering memberikan pengaruh negatif, maka akan membentuk konsep diri yang negatif juga. Seseorang yang selalu mengembangkan konsep diri yang positif, ia akan mudah untuk berdamai dengan dirinya sendiri maupun dengan masa lalunya. Selain terbentuk dari hasil interaksi dengan lingkungan, konsep diri juga dapat terbentuk dari pengalaman, perilaku diri, dan penilaian oranglain terhadap individu.

Karena itu, penting bagi kita untuk menilai lingkungan dan pengalaman agar terbentuk konsep diri yang benar dan positif. Konsep diri dilalui dengan proses yang panjang. Perlu digarisbawahi bahwa konsep diri tidaklah statis. Artinya, konsep diri dapat berubah karena prosesnya kontinyu atau terus berkelanjutan yang berkembang sepanjang hidup melalui komunikasi. Dari proses komunikasi itulah yang berperan penting dalam membentuk identitas dari individu.

Orang-orang terdekat seperti keluarga, sahabat, pacar, teman sebaya, rekan kerja, guru dapat memengaruhi pembentukan dari konsep diri. Orang terdekat tersebut bisa dikatakan sebagai orang-orang yang memiliki arti khusus didalam kehidupan kita. Anggota keluarga merupakan unit sosial pertama yang memberikan pengaruh yang signifikan terhadap cara kita memandang diri sendiri. Karena itu, keluarga merupakan awal dari terbentuknya konsep diri.

Secara garis besar, perspektif orang terdekat adalah mereka yang memiliki pengaruh besar terhadap diri kita. Bahkan, klasifikasi dari sebaya (pacar, sahabat, saudara) dapat menimbulkan perbandingan sosial antar sesama. Akibatnya, cara kita berpikir terhadap konsep diri tergantung dari sejauh mana kita membandingkan diri dengan sebaya. Orang-orang yang memiliki pengaruh besar tersebut dapat mengkomunikasikan tentang siapa kita melalui beberapa cara.

  • Penilaian langsung

Pemberian “label” dari orang terdekat kepada diri kita. Contoh pelabelan langsung dalam kehidupan sehari-hari, “Hari ini kamu cantik”, “Kamu pintar ya”. Pada penilaian langsung, orang terdekat memberikan penilaian langsung terhadap diri kita berupa pujian ataupun kritik secara langsung.

  • Penilaian reflektif

Penilaian untuk diri kita yang sifatnya konotatif atau harus dimaknai lebih lanjut. Dalam memberikan penilaianya, seseorang dapat menjadi:

1. Uppers (positif)

Penilaian ini bersifat positif, mengagumi kelebihan kita, dan membantu membangkitkan kepercayaan diri kita. Contoh penilaianya, “semangat terus ya, kamu pasti bisa melaluinya”.

2. Downers (negatif)

Cenderung menekankan kekurangan pada diri kita dan meremehkan impian dan tujuan hidup kita. Hal ini mengakibatkan hilangnya kepercayaan terhadap diri sendiri.

3. Vulture

Cenderung mencari titik sensitif dari diri kita dan memberi kritikan tajam. Contohnya dalam kehidupan sehari-hari adalah ketika ada seseorang yang mengejek masalah fisik. Tentunya, ketika seseorang berkata seperti itu kita dilatih untuk selalu sabar dan mempertahankan konsep diri yang positif.

Selain perspektif dari orang terdekat dengan diri kita, konsep diri juga hadir dari perspektif  dari kelompok sosial masyarakat umum. Menurut (Wood, 2013) konsep diri didapatkan dari 3 poin, yaitu:

  • Dipelajari ketika berinteraksi dengan oranglain. Contohnya, ketika sahabat kita sedang berbincang tentang kelebihan dari seseorang dan mengecap bahwa orang yang sedang dibicarakan adalah orang yang rajin belajar, lalu kita merefleksikannya ke dalam diri kita sendiri lalu muncul pemikiran “Apakah saya sudah melakukan hal yang sama?”
  • Didapatkan dari media massa yang mencerminkan nilai kebudayaan. Contohnya, ketika perempuan selalu melihat jargon “Putih itu cantik” lalu orang yang memiliki kulit sawo matang memiliki konsep diri “Tidak cantik”.
  • Perspektif sosial Lembaga pemerintahan. Contohnya, kita dianggap dewasa jika sudah memiliki KTP. KTP didapatkan ketika kita berusia 17 tahun dan diakui haknya sebagai warna negara lalu dianggap sebagai orang yang sudah dewasa.

Manusia dapat mencari identitas diri melalui berbagai hal. Contohnya, seorang anak yang meniru kegiatan yang sedang dilakukan oleh ibunya, menemukan dan menampilkan identitas, juga mengembangkan kapasitas diri untuk menjadi lebih baik sepanjang usia kehidupan.

Konsep diri memiliki beberapa dimensi, yaitu :

Advertisement

1. Kondisi fisik

tribunnews

tribunnews via http://www.google.com

Bagaimana seseorang memandang penampilan fisik. Contohnya, kondisi kesehatan tubuh dan penampilan tubuh.

2. Kemampuan intelektual

Kemampuan intelektual

Kemampuan intelektual via http://www.google.com

Sesuai dengan minat dan bakat masing-masing individu.

Advertisement

3. Kondisi emosional

Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menanggapi suatu hal. Ada yang pemarah, sensitif, bahkan banyak juga yang menanggapinya dengan ramah.

4. Lingkungan sosial

Lingkungan sosial

Lingkungan sosial via http://www.google.com

Ketika sedang berinteraksi, ada individu yang cenderung menonjolkan diri dan mendominasi percakapan, tetapi ada juga yang tidak menonjolkan diri dan biasanya hanya menjadi pendengar.

5. Peran sosial

Peran sosial

Peran sosial via http://www.google.com

Orang tua, anak, suami/istri, mahasiswa.

Advertisement

6. Aspek moralitas

Aspek moralitas

Aspek moralitas via http://www.google.com

Bersangkutan dengan etika. Contohnya, memberi salam ketika bertemu dengan orang yang lebih tua.

Kesimpulannya, konsep diri sangat penting untuk mengetahui siapa diri kita yang sebenarnya. Kita harus selalu mengembangkan konsep diri yang positif agar orang-orang disekitar kita ikut terbawa oleh konsep diri yang positif pada diri kita. Konsep diri memiliki sifat yang multidimensi karena tidak hanya menyangkut satu aspek. Konsep diri bisa menyangkut aspek fisik, sikap, latar belakang, dan sebagainya.

Bukan hanya dari diri kita sendiri, tetapi peran orang terdekat seperti orangtua, teman sebaya, pacar, sahabat juga berpengaruh dalam pembentukan konsep diri kita. Lingkungan juga menjadi faktor pendorong kita dalam membentuk konsep diri. Ketika kita berada di lingkungan yang benar, tentunnya akan memudahkan kita untuk mengembangkan konsep diri yang positif juga.

Wood, Julia. T (2013). Komunikasi Interpersonal: Interaksi Keseharian (Edisi 6). Salemba Humanika: Jakarta.

 

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE