Ketika kami memilih pendidikan diploma setelah lulus dari SMA/SMK atau sederajat, ada banyak tantangan dan pernyataan dari lingkungan yang membuat kami harus ikhlas dan lebih bijak dalam menyikapinya, karena pada umumnya diploma masih dianggap pendidikan tinggi kelas dua daripada sarjana. Tidak semua masyarakat mengetahui prioritas visi misi antara kedua jenjang pendidikan tersebut, namun kami percaya bahwa kesuksesan adalah hak semua manusia jika berusaha. Bagaimana menghadapi stereotip inilah tantangan yang akan kalian hadapi dalam menjaga idealisme cita-cita di saat menempuh pendidikan diploma.

1. Menjawab pertanyaan, “Tanggung banget, kenapa enggak sarjana sekalian?”

Kenapa enggak pilih sarjana aja? via http://tumblr.com

Ketika teman atau sanak saudara bertanya mengenai jenjang pendidikan, "Oo.. Diploma. Kenapa enggak sarjana sekalian?", disitulah kadang kami harus lebih bersabar.

Terkadang kami menghindari seperti topik percakapan di atas dan membawa ke arah pembicaraan lain.

Jika memang sudah terlanjur masuk ke topik ini kami akan menjelaskannya dengan sangat detil bahwa diploma dikhususkan pada pendidikan keahlian tertentu dan terapan, bukan seperti sarjana yang memang fokus pada riset.

2. Merasa telah memilih jalan yang salah

Salah jalan ya? via http://tumblr.com

Advertisement

Diantara teman-teman kami banyak yang mencoba tes perguruan tinggi lagi di tahun kedua. Ini tidaklah salah, namun sangat disayangkan waktu yang sudah mereka habiskan di tahun pertama.

Cobalah untuk fokus dan menggali relasi dan kemampuan diri daripada menghabiskan waktu untuk mempersiapkan tes perguruan tinggi lagi — yang mungkin hanya untuk mencapai gengsi.

3. Iri kepada teman yang sarjana

Jokowi dan Merkel via http://www.setneg.go.id

Di suatu waktu kami memang iri terhadap teman-teman kami yang sarjana karena lebih mendapatkan perhatian seperti syarat penyelenggaraan kompetisi, termasuk beasiswa, juga di dunia industri.

Namun di lain waktu kami bersyukur sehingga melihat peluang di sekitar kami, dan kami mendapatkannya lebih banyak. Termasuk saat kunjungan ke Jerman beberapa waktu yang lalu, Presiden Joko Widodo mulai memprioritaskan pendidikan diploma/vokasi dalam kerjasamanya untuk meningkatkan kualitas SDM.

Bahkan kalian bisa lulus lebih cepat, ya kan?

4. Anggapan bahwa wawasan kami terbatas

Mari berwawasan luas via http://bi.go.id

Jika kami mengiyakan stereotip masyarakat yang beranggapan bahwa wawasan kami terbatas, maka kami tidak akan pernah berkembang. Akses pengetahuan dan informasi kini dapat diakses oleh siapa saja untuk berkarya, bahkan mereka yang belum pernah kuliah sekalipun. Bagi mereka yang dapat menerapkannya, dialah yang jadi pemenang.

Seimbangkan bidang akademis dan keahlian yang kau miliki, juga pada keahlian di luar akademis.

5. Tidak bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi

Persatuan Pelajar Indonesia di London via http://ppilondon.files.wordpress.com

Minimnya informasi di negeri ini mengenai pendidikan lanjut setelah diploma kadang membuat kalian ingin menyerah. Padahal, jika mencari dengan kata kunci yang sesuai, banyak peluang dan negara di luar sana yang sedang menunggu kalian.

Belum banyak yang mengetahui bahwa jenjang Diploma 4 (D4) bisa melanjutkan ke S2 Terapan (Applied Science) atau bahkan Pre-Master, yaitu yang memungkinkan dari jenjang D3 transfer ke S2 dalam waktu satu setengah tahun yang sudah berlaku di beberapa universitas di Inggris.

Eropa memiliki sebuah lembaga pendidikan vokasi atau diploma yang bernama CEDEFOP, kalian bisa mengeksplorasi banyak peluang disana.

Beberapa pilihan lain yang dapat kalian pertimbangkan yaitu studi paralel dan ekstensi yang sudah ada di berbagai universitas di Indonesia.

6. Hanya dunia kerja dan kerja, tidak bisa bergabung dengan proyek dan riset

Presentasi riset via http://ictp.it

Pada dasarnya diploma memang dikhususkan untuk keahlian dan terapan tanpa berkutat dengan riset. Namun jika kalian memiliki bakat riset, mengapa tidak?

Sudah banyak sahabat diploma kami yang bergabung dalam proyek dan riset skala nasional dengan mengikuti Pekan Kreatifitas Mahasiswa yang diadakan oleh DIKTI, dan tidak jarang pula yang menjadi ketua riset bersal dari jenjang diploma. Dan beberapa teman kami yang menjadi asisten riset dengan dosen berkat keahlian yang dimilikinya, atau bahkan berinisiatif membuat proyek sains teknologi yang didanai oleh swasta.

Masih banyak lahan yang bisa kalian tanam karena Indonesia telah melahirkan pemikir-pemikir dan doktor-doktor hebat, namun 80% nya bukan dalam bidang sains.

7. Pendapatan dan posisi lebih rendah daripada sarjana?

Semua memiliki kesempatan yang sama via http://www.isigood.com

"Tuhan tidak mengubah suatu kaum sehingga kaum itu berubah." Kalian adalah manusia yang dipenuhi oleh bakat yang berasal dari Tuhanmu.

Kekhawatiran pendapatan dan posisi jabatan di masa depan pernah mengekang kreatifitas karir kami sebagai diploma. Namun saat mindset kami berubah, maka lingkungan pun berubah menjadi lebih baik.

Sekarang adalah eranya kolaborasi. Kami lebih sering berkolaborasi dengan kolega kami yang berasal dari berbagai latar belakang; sarjana, spesialis, hingga profesor, untuk membangun ide-ide dan proyek hebat. Bahkan pendapatan kami tidak jauh berbeda satu dengan lainnya, karena penghasilan dihitung dari kontribusi yang dilakukannya.

Lebih dari itu, kami saling menghargai satu sama lain di setiap lingkungan, termasuk lingkungan profesional.

8. Saatnya buktikan dengan attitude dan karya

Ayo berubah via http://tumblr.com

Tidak ada batasan untuk menambah ilmu di era digital sekarang ini, yang terbatas hanyalah kemauan dan niat. Hanya menuntut hak bukanlah solusi, namun ada hal yang lebih penting daripada itu.

Kewajiban untuk membuktikan karya yang selaras dengan sikap, adalah jawaban agar masyarakat dan industri memperhatikan kalian dengan sendirinya.

Mulailah untuk bersikap baik dan bijak terhadap lingkungan disekitar terhadap jenjang diploma yang kau tempuh saat ini walaupun mungkin mereka terlihat tidak menghargai.

Belajarlah dari manapun dan siapapun, perhatikan apa yang mereka butuhkan, dan ciptakanlah peluangmu. Disamping hal itu dapat membuat karyamu bertambah, lingkungan akan berfokus terhadap manfaat pencapaianmu dan kalian pun bisa menjadi seorang inspirator.

Kalian bisa menambah wawasan, inspirasi, dan keahlian dari berbagai sarana, seperti membaca buku di perpustakaan, mengikuti seminar, atau melalui kuliah/kursus online gratis di TEDx, EdX, dan Coursera.

9. Jangan khawatir, keahlianmu akan dibutuhkan oleh banyak pihak termasuk oleh masyarakat internasional

Motivasi via http://tumblr.com

Di era revolsi industri keempat saat ini yang dikenalkan oleh World Economic Forum, konektivitas global merupakan salah satu syarat bagaimana potensi antar negara terjadi, bahkan tanpa terbatas ruang dan waktu.

Dunia digital dan internet memungkinkan ini semua terjadi. Sering-seringlah bermain ke forum pekerjaan online untuk mengetahui apa yang sedang mereka butuhkan di masing-masing negara, seperti Freelancer.com, F6S, Angel.co, dan Crunchbase. Ketika keahlianmu tertulis dan tersedia, jangan takut untuk melamar atau berinteraksi sebagai bagian dari mereka.

Di lain sisi, kalian bisa mengikuti berbagai konferensi, fellowship, dan workshop tingkat internasional seperti yang tertera di WikiCFP dan Youthop.com.

Cobalah mulai meningkatkan kemampuan wawasan bahasa internasional, minimal kemampuan berbahasa Inggris agar dapat bersaing di masyarakat global dan agar peluangmu lebih banyak terbuka.

Siap?