Kami nggak tau apa yang ada di pikiran orang ketika berhadapan sama orang yang sifatnya pemalu + pendiam pooll. Mungkin mereka mikir kok ada ya orang kayak gini? Betah diam lama, antisosial pula… tapi pernah nggak sih kalian berpikir, apa yang ada di otak kami yang pemalu dan pendiam ketika ketemu sama kalian?

1. Kami yang pemalu + pendiam sering dianggap sombong

kami nggak sombong kok via http://www.flickr.com

Padahal ada keinginan dari kami untuk ikut bergabung bersama kalian yang ekstrovert. Kami yang pemalu memang lebih suka mendengar daripada berbicara, karena itu sudah takdir. Kami mencoba memahami karakter seseorang sebelum kami berinteraksi dengannya. Kami para pemalu juga berpikir, apakah kami akan diterima dengan baik jika ikut bergabung. So, don’t judge tus as an arrogant please…

2. Berpikir gimana caranya berinteraksi

kami pun mencobanya juga via http://morguefile.com

Kami sadar, kami tidak hidup sendirian dan TIDAK MUNGKIN bisa hidup sendirian. Sering terlintas di benak kami cara bersosialisasi. Kami mengamati saudara kami yang ekstrovert, bagaimana mereka mengawali suatu komunikasi hingga komunikasi itu berjalan tanpa masalah. Lalu terlintas dipikiran kami untuk mencoba hal yang sama seperti apa yang saudara kami lakukan. Tapi saat kami mencoba untuk merealisasikannya, tiba-tiba terbersit pikiran,

Advertisement

‘aku dianggap nggak ya?’ ~~ ‘suaraku terdengar nggak ya?

Lalu keinginan kami untuk bersosialisasi perlahan turun. Kami berpikir ‘ah nanti ajalah pas nggak terlalu rame’. So, what do we have to do?

3. Tau nggak sih, kami juga pengen nyapa kalian

pengen deh bilang hai via http://www.flickr.com

Ketika pertama kalian bertemu kami, dalam waktu yang singkat. Lalu berkenalan dengan kami, kami begitu senang karena bertemu dan mengenal sosok baru dengan kepribadian yang JELAS baru juga. Lalu kita berpisah karena waktu yang kita punya memang singkat.

Di kemudian hari kita bertemu kembali dalam kondisi yang berbeda, mungkin dalam suasana yang lebih ramai. Kalian bersama dengan teman-teman kalian dan kami berjalan sendirian. Kami melihat obrolan kalian yang begitu asyik. Saat kami berjalan semakin mendekat, kami melihat kalian, tapi kalian tidak melihat ke kami.

Kami yang pemalu, terkadang/memang memiliki suara yang lirih hingga suara kami nyaris tidak terdengar. Kami ingin menyapa kalian, tapi mungkin kalian tidak mungkin mendengar suara kami yang begitu lirihnya. Hingga kami urungkan niat kami untuk menyapa kalian. So, kami dianggap sombong deh,,, So sad 🙁

4. Kami juga tidak betah menyendiri

cerita yuk via http://www.flickr.com

Kami juga ingin bergabung, tertawa bersama, dan saling berbagi cerita. Namun, pikiran kami tentang keberadaan kami yang mungkin kalian dianggap ABSTRAK selalu menghantui kami. Ketika kita berjalan bersama, kalian bersama teman kalian, kami seolah berpikir kalian selalu membelakangi kami. Kami selalu berpikir positif dengan menganggap, mungkin itu nyamannya kalian. Tapi tidakkah kalian berpikir, kami merasa tidak dianggap.

Kami ingin berbagi cerita, seperti teman kalian bercerita, tapi cerita kami mungkin tidak menarik bagi kalian. Sekali kami bercerita tentang pengalaman kami yang mungkin nggak lazim, such as mountain climbing, kami takut kalian anggap kami ini pamer padahal tidak. Atau mungkin ketika kami bercerita tentang koleksi kami, mungkin ada dari kalian yang menganggap kami pamer. Kami hanya ingin menjalin hubungan yang baik, itu aja kok 🙂

5. Then …

jangan ngasih kacang ya via https://pixabay.com

Mungkin kami memang agak kaku dalam berkomunikasi di awal perkenalan. Tapi ketika kami sudah mulai nyaman dan akrab sama kalian, ekstrovert, kami bisa bercanda juga kok. Bahkan mungkin kalian bakal geleng-geleng kepala karena ulah kami yang terkadang konyol, dan mungkin bisa di luar dugaan kalian. Tapi kami nggak mungkin membahayakan kalian kok. Kami cuma ingin bersahabat dengan kalian, dan membina hubungan yang baik dengan kalian. So, jangan kacangin kami ya :))