Meskipun Tidak Mudah, Move On Merupakan Proses yang Pasti

Move on, dua kata beribu usaha yang gagal.

Move on. Dua kata, beribu usaha yang gagal. Move on, terdengar gampang. Buang semua hal yang berhubungan dengannya, block dia dari media sosial, lakukan hal yang membuatmu senang. Namun di penghujung hari kamu akan menemukan dirimu berbaring di atas kasur, secara tidak sadar memikirkan dia. “Apa kabar ya, dia?” 

Move on itu memang sulit, tapi kamu perlu tahu cara agar move on-mu bisa lancar. Agar tidak ada “Karena hai setitik rusak move on sebelanga.” Satu Persen dapat membawamu ke dalam perjalanan singkat, membahas bagaimana agar kamu bisa move on dengan lebih efektif.

Advertisement

1. Mengapa move on itu sulit?

Photo by Tyler Lastovich from Unsplash

Photo by Tyler Lastovich from Unsplash via http://www.unsplash.com

“Kok susah ya, move on?”

Jawabannya ada banyak. Sangat banyak. Tapi mari mulai dengan hal yang ilmiah. Zeigarnik Effect. Teori ini secara garis besar menjelaskan bahwa manusia cenderung mengingat hal-hal yang belum selesai/tidak diselesaikan alih-alih hal-hal yang sudah selesai. (Psychologist World, 2020; Cherry, 2019)

Advertisement

Dalam hal hubungan, tentu saja “hal yang belum/tidak selesai” ini adalah proses kamu mendapatkan dia atau proses mempertahankan dia. Ketika proses ini belum selesai atau tidak selesai, otakmu akan cenderung lebih mudah dan sering mengingat hal ini, membuatmu berulang kali mendapati dirimu memikirkan kembali tentang dia.

Sayangnya, yang menentukan apakah proses ini selesai atau tidak itu kamu sendiri. Itu yang membuat kamu seringkali berpikir, “Masih ada kesempatan”, atau “Dia benar-benar cinta sejatiku!”, dan banyak hal lainnya. Kalau sudah begini, sulit juga ya? Oleh karena itu, berikut ada beberapa tips yang dapat kamu lakukan untuk mencoba move on dengan lebih nyaman.

2. Move on, tidak boleh terus bersedih

Advertisement
Photo by Priscilla Du Preez from Unsplash

Photo by Priscilla Du Preez from Unsplash via http://www.unsplash.com

Kamu harus bisa terus merubah kondisi sedihmu menjadi kondisi yang positif. Ciptakan mindset yang bisa membalikkan pemikiran seperti

“Apa sebenarnya memang aku yang kurang cocok sama dia ya….” menjadi “Kejadian ini berarti aku memiliki seseorang yang lebih baik lagi di masa depan!” Satu Persen juga punya tips soal ini, mungkin kamu harus menonton video ini.

3. Tetapi move on bukan berarti harus selalu tersenyum

Photo by Dollar Gill from Unsplash

Photo by Dollar Gill from Unsplash via http://www.unsplash.com

Boleh, kamu boleh bersedih. Kamu harus membiarkan perasaan-perasaan sedih itu mengalir. Jangan ditolak, jangan diabaikan. Rasakanlah perasaan sedih itu, biarkan dia keluar dari tubuhmu.

Peluklah sensasi patah hati itu, belajarlah dari perasaan tersebut sebelum kamu melepaskannya dan mengucapkan selamat tinggal. Bicarakan dengan teman, keluarga, atau kerabat jika perlu. Luapkan emosimu lewat tulisan, musik, atau karya seni lainnya. Yang jelas, jangan kamu kunci di dalam hatimu sendiri.

4. Move on tidak selalu berarti cerita yang selesai

Photo by Toa Heftiba from Unsplash

Photo by Toa Heftiba from Unsplash via http://www.unsplash.com

Terkadang, move on berarti kamu harus berusaha melupakan orang yang bahkan tidak harus berusaha untuk melupakanmu. Kamu harus bisa menerima bahwa dia tidak selalu berhutang penjelasan atau permintaan maaf padamu, begitu juga halnya denganmu. Ada kalanya hubungan atau usaha mengejar berakhir begitu saja, penyebabnya mungkin agama, prinsip hidup, restu orang tua, apapun itu.

Sayangnya kadang kamu tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Itu tidak apa-apa, kok. Dia tidak harus mengerti, kamu juga tidak harus mengerti. Jika memang dia dan kamu tidak cocok, mengapa harus memaksakan diri sambil menyakiti hati?

5. Self-care harus dilakukan dalam usaha untuk move on

Photo by Roberto Nickson from Unsplash

Photo by Roberto Nickson from Unsplash via http://www.unsplash.com

Ini adalah hal yang penting buat kamu! Self-care adalah hal yang penting karena kamu pasti lelah dengan semua malam-malam sunyi yang ditemani aura sendu. Lelah dengan constant reminder bahwa dia ada di luar sana, mungkin sedang baik-baik saja. Stop, hentikan dulu semua itu sejenak, lalu sayangi dirimu sendiri.

Entahlah, mungkin itu berarti kamu pergi membeli es krim, atau bermain game dengan teman-teman, atau membaca buku yang kamu sukai. Lakukan hal-hal yang bisa menggantikan posisi dia sebagai penghasil dopamin! Faktanya, dopamin berkaitan erat dengan rasa bahagia dan kesenangan diri (Putra, 2019).  Maka dari itu, sangat penting untuk perlahan-lahan menggantikan dia dengan hal-hal lain yang akan memberikanmu asupan dopamin dan rasa bahagia! Atau mungkin, mungkin saja, kamu mencari orang yang baru. Satu Persen punya tips buat kamu kalau memang kamu mau mencari pengganti dia!

6. Move on membutuhkan waktu

Photo by Aron Visuals from Unsplash

Photo by Aron Visuals from Unsplash via http://www.unsplash.com

Sedikit tidak mungkin kalau kamu bisa move on dalam waktu semalam atau sekejap setelah membaca artikel ini. Take your time, dan cobalah untuk melakukan tips-tips di atas! Move on itu sebuah usaha yang sangat menguras jiwa dan raga, dan jika kamu masih butuh tips lain, kamu bisa melihat postingan ini dan video ini dari Satu Persen untuk lebih lanjut menambah insight terkait Move on! Ingat! Dia tidak seharusnya memegang kendali penuh atas kebahagiaanmu!

Author : Nouvend Setiawan

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Platform tempatmu berkembang menuju #HidupSeutuhnya

CLOSE