Bagi mereka yang sudah lulus dari kampus, tentu sangat merindukan masa masa kuliah. Mengikuti segala macam bentuk orientasi masa kuliah dengan pakaian yang diatur oleh senior, lengkap pula dengan segala macam ornamen aneh. Meski begitu, kita tetap melaksanakan nya, dan sebenarnya asik-asik aja. Tidak hanya sampai disitu, baru masuk dunia kampus pun mata langsung lirik sana sini kepada lawan jenis. Aahh sangat merindukan sekali masa kuliah itu.

Masa-masa kuliah boleh dikatakan sebagai miniatur dari kehidupan nanti yang sebernarnya. Kita belajar berorganisasi, berkontribusi terhadap masyarakat, dan masih banyak kegiatan yang bisa mengembangkan diri kita semasa kuliah. Lebih dari itu pun, di masa kuliah kita bisa menemukan rekan bisnis untuk di masa yang akan datang. Namun, bagi penulis momentum-momentum berikuti ini yang tetap singgah dan enggan pergi dalam ingatan.

1. Skill mengetik sepuluh jari yang nyatanya tak sia-sia.

Pelajaran di SMP yang paling ku suka saat itu mata pelajaran komputer. Melihat guru ku yang sedang mengetik buku tanpa melihat itu membuat ku terpana ‘keren banget nih.’ Duduk dengan santai, melihat buku dan mengetik tanpa melihat keyboard, hanya bulak balik melihat buku dan monitor komputer. Ku mulai mempelajari mengetik dengan sepuluh jari. Dan nyatanya ilmu yang kupelajari dari SMP ini sangat berguna untuk memudahkan tugas-tugas saat kuliah.

Suatu hari, ada dosen yang yang meminta tolong untuk mengetikkan suatu naskah. Tentu hal ini, gayung bersambut, dengan senang hati saya terima tawaran beliau ini.

Advertisement

‘Untung ada mas nya nih, jadi kerjaan cepet’ tukas dosen ku.

‘Iya Pak.’ Jawabku sambil mengetik naskah tersebut.

‘Nanti saya, ada kerjaan lagi Mas, bisa?’

Advertisement

‘Insya Allah bisa sekali Pak..’ saya bergembira

Tenang, dosen pun mengerti kok keadaan kantong mahasiwa. Ya hasil dari project pengetikan ini lumayan lah buat bensin ongkos bulak balik dari rumah ke kampus.

2. Belajar ilmu hidup dari dosen, staff kampus, hingga pedagang di kantin.

Sudah dipastikan, sosok dosen banyak sekali memiliki pengalaman dalam hidup nya, baik pengalaman di dunia akademik atau pun non-akademik. Sesekali dalam mata kuliah, dosen akan berbagi cerita mengenai pengalaman yang pernah diarungi nya. Tak sedikit dosen yang bercerita mengenai perjuangan semasa kuliah, hingga kini menjadi dosen. Yang selalu saya ingat dari perkataan dosen saya,


‘Mahasiswa itu harus pura-pura tertidur ketika orang lain bergerak, dan harus bergerak ketika orang lain tertidur’


Dalam hati saya ‘So deep’. Artinya kita harus menjadikan diri kita senantiasa produktif dalam bidang yang sedang kita tekuni. Dan sebisa mungkin usaha yang kita lakukan itu ‘diam diam saja’, karena tak semua orang kadang tak peduli dengan usaha kita.

Tak hanya dari dosen, ilmu hidup saya dapatkan dari staff kampus dan pedagang di kantin. Kerutan di wajah mereka, mengisyaratkan pahit dan manis nya kehidupan telah dilalui. Ada yang bercerita dengan diiringi air mata dan rintik hujan kala itu. Ibu kantin yang bercerita mengenai, perjuangan mereka menguliahkan anaknya. Ya, mengapa orang tua ingin melihat anaknya berpendidikan tinggi, karena mereka yakin harta yang paling berharga adalah ilmu ‘ilmu tidak akan membusuk’

3. Menghidupkan idealisme, meski akhirnya padam juga.

Diskusi mahasiswa

Diskusi mahasiswa via http://www.mic.ac.id

Mahasiswa harus memiliki idelisme yang tinggi. Saya menginginkan di kampus saya yang gersang ini, memiliki oase dari sebuah idealisme yang diwujudkan oleh mahasiswanya. Bukan hanya dengan gerimis tipis yang menghilangkan kegersangan kampus, akan tetapi lewat pemikiran-pemikiran mahasiwa serta membuat kegiatan di kampus ini menjadi hidup.

Saya dengan teman yang memiliki sepemikiran, sevisi, serta sepenanggungan yang sama ini memiliki cita-cita untuk membangkitkan kegiatan yang berdasar pada kesastraan. Waktu itu, nama komunitas telah dibuat, visi dan misi telah disusun rapi, kegiatan yang dilakukan pun sudah dirancang dengan sebaik mungkin. Sudah berjalan selama sebulan, diskusi soal buku sudah dilaksanakan.

Diskusi soal penanggung jawab tak luput dari pergerakan. Kala itu semangat masih membara. Perekrutan pun sudah dilakukan, baik secara bawah tanah atau pun terang-terangan. Seiring tugas kuliah makin bertumpuk, berimbas kepada kegiatan rutinan yang mulai berantakan. Urusan pribadi terkait tugas, sudah tak terelakan. Cukup bertahan dalam setahun.

Pada akhirnya semua impian untuk membangun sarana diskusi berbalut sastra kandas juga. Tak ada perpisahan yang dirayakan. Hingga pada akhirnya, terpaksa untuk saling melupakan.

4. Membuatkan bekal nasi untuk dia yang selalu membuat hari-hari di kampus menjadi betah.

Nasi goreng

Nasi goreng via https://cookpad.com

Sudah puluhan sks dan beberapa semester hampir tak ada sosok wanita yang dekat dengan saya. Jujur, saya cukup minder untuk dekat dengan wanita, walaupun di kampus jumlah wanita lebih banyak dari kaum pria. Tak ada wanita yang terjalin antara hati ke hati selama hampir menjadi mahasiswa tingkat akhir. Hingga pada akhirnya, sosok itu ada. Nyata. Yaiya lah masa hantu.

Sosok yang membuat saya nampak begitu berbunga-bunga ketika melihat nya. Teduh dan sosok yang menghibur. Semua nya berawal dari tugas kuliah. Komunikasi yang cukup intens mengenai tugas, mulai bergeser ke ranah pribadi. Walaupun warga kampus tak ada yang mengetahui soal ini, kami pun tetap senang menjalani nya. Kita mencoba profesional ketika pembelajaran dan di luar kampus.

Hingga pada suatu hari, saya mencoba untuk membuatkannya bekal Nasi Goreng. Seperti pada umumnya nasi goreng yang saya buat untuk dia. Namun, sedikit diberi hiasan wortel sebagai hidung dan mulut tersenyum, kemudian brokoli sebagai mata yang saya tancapkan di nasi goreng itu. Entah terlalu asin atau tidak, yang jelas nasi goreng itu pedas, karena dia menyukai pedas. Sudah dikemas sebaik mungkin, tak lupa saya berikan tulisan di kertas yang saya tempel di bagian tempat nasi itu yang bertuliskan,

‘Makan yang banyak ya, ngadepin kenyataan perlu tenaga J’

5. Skripsian sambil berdagang, no problem.

Mahasiswa

Mahasiswa via http://www.umy.ac.id

Penguhujung kuliah pun mulai tiba, mau tidak mau saya harus siap menjalani ini semua. Meski banyak statistik mahasiswa tingkat akhir yang menunjukkan, bahwa skripsi akan membuat pola makan dan tidur menjadi berantakan. Tak hanya itu, rumor yang beredar skripsi membuat kita akan seperti zombie, berkantung mata, dan di kantung mata itu terdapat kantung mata lagi.

Masa skripsi ini menjadi masa-masa yang akan saya paling ingat. Perjuangan, tawa, sedih, haru, dan penuh keringat sudah tercampur aduk. Walaupun masa-masa skripsi ini kita tidak setiap hari ke kampus, namun tetap ini masa-masa yang paling kritis untuk menentukan kelulusan. Tentu jenuh sudah mencapai titik klimaks. Entah kenapa, menjadi terpikirkan untuk skripsian sambil berdagang. Saya menjual Es Yoghurt dan Peuyeum ketan produksi tetangga saya. Pada awal-awalnya memang terasa berat, malu harus mengiklankan di media sosial sampai-sampai teman saya bosan melihat posting-an tiap hari status saya soal dagangan saya. Saya hanya tertawa saja, tak diambil pusing.

Sembari bimbingan kepada dosen, saya mencoba untuk menawarkan dagangan saya. Tak hanya kepada dosen bimbingan, kepada dosen yang lainnya pun saya coba menawarkan dagangan, hingga kepada wakil direktur pun tak luput dari incaran penawaran dagangan. Gengsi sudah saya buang jauh-jauh. Karena yang terpikir saat itu,


‘Yang penting saya berusaha dengan benar dan halal.’


Alhamdulillah orderan dari staff kampus dan para dosen cukup membludak. Hingga akhirnya setiap kali saya bimbingan, saya membawa jinjingan dan revisian. Jika mahasiswa lain masuk ke dalam ruangan dosen untuk berkonsultasi, lain halnya dengan saya yang mengantarkan orderan. Dan terbesit di pikiran saya, sebegini sulitnya orang tua mencari uang untuk biaya sekolah anaknya dan keluarga. Meski lelah dan terbagi pikiran, saya tetap senang menjalaninya. Hargai ya, pemberian orang tua.

6. Mengantar dosen keliling kota Bandung

Memang ada untungnya ketika kita dekat dengan dosen. Selain kita mendapatkan pengalaman-pengalaman, kita juga mendapatkan bongkahan ilmu dari dosen. Bahkan dekat dengan dosen pun, memiliki keuntungan informasi mengenai event kampus begitu cepat tersampaikan kepada mahasiswa yang memiliki kedekatan dengan dosen. Tak hanya itu, dosen memang sangat memerlukan bantuan dari mahasiwanya. Termasuk, ketika dimintai untuk mengunjungi tempat-tempat penelitian.

‘Bisa saya antar ke tempat-tempat ini?’ Sambil menunjukkan beberapa tempat yang dituju pada map hijau.

‘Bisa Bu, hanya lokasi nya ini pada jauh.’ sambil membuka Google Maps mencari tempat yang dituju.

‘Jadi, bagaimana bisa antarkan saya?

‘Bisa Bu, tapi motor saya motor bebek jadul juga.’ sambil tersenyum malu

‘Gapapa yang penting bisa antar saya’ suara dengan penuh keramahan

Keesokan pagi, kami mulai mengunjungi beberapa tempat penelitian. Kami berjumpa dengan beberapa pimipinan sekolah untuk penelitian. Ada yang memang menerima kami dengan senang hati, namun ada juga yang beranggapan, bahwa penelitian ini akan mengganggu kinerja guru yang bersangkutan. Tapi ini pelajaran berharga bagi saya nanti. Tak ada yang sia-sia. Dan akhirnya nikmat itu datang, nikmat ditraktir dosen. Pertama kalinya, bisa makan santap bareng dengan dosen dan sekaligus bersenda gurau yang jarang saya alami di lingkungan kampus.

7. Teman yang super konyol, hiburan saat tugas deadline bertumpuk.

Tentu suatu keberuntungan memiliki teman yang bisa menghibur kita disaat kita sudah stres dengan deadline tugas kuliah. Saya rasa, banyak mahasiswa lain yang memiliki teman yang konyol di saat kuliah. Teman yang konyol, jujur dan polos memang menjadi hari hari kita menjadi happy, walau revisian selalu menanti.

Biasanya ketika semasa kuliah ada satu tempat kost yang biasa dijadikan ‘markas’ kita melepas penat. Mulai dari bermain kartu, bermain alat musik, atau pun bermain PES yang akhir-akhirnya kita saling ejek. Mungkin permainan PES ini cukup lumrah dimainkan anak kuliahan lelaki. Ketika menjalani kritis tingkat akhir, kelakuan yang konyol itu datang, atau bahkan super konyol yang dilakukan oleh sekaliber mahasiswa tingkat akhir.

Ketika itu ada diantara kumpulan kami yang sedang dilanda putus cinta, sampai bawaannya ‘sensian’. Mungkin ada yang pernah mengalami menjadi dirinya atau temannya? Jika menjadi seseorang yang putus cinta bersabarlah, apalagi teman-temannya yang selalu menyindir tiap hari. Karena sensian nya itu, hanya menjadi bahan tertawaan kita semua.

Kejadian hal lainnya, ketika seseorang dari kumpulan kami disuruh untuk menanak nasi. Nasi sudah dimasukan ke dalam rice cooker dan sudah ditambahkan air. 2 jam sudah berlalu, namun nasi tak kunjung matang. Masyarakat kosan mulai lapar, ketika dicek kabel rice cooker itu tidak dicolokkan ke terminal listrik. Kami pun mengucapkan ‘astagfirullahahaladzim

Hingga akhirnya masyarakat kosan mulai berpisah, ketika skripsi dari kami selesai silih berganti. Tak ada yang dirindukan dari kalian, soal kesetiaan kawan dan kekonyolan. Tetap baik-baik di kampung halaman atau di tanah perantauan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya