Setiap kita bisa terkena monster ini. Kita perlu berhati-hati agar tidak terbunuh oleh monster maut ini.

Salah satu acara serial televisi yang sering saya tonton berjudul “Monsters Inside Me”. Serial ini merupakan kisah nyata dari orang-orang yang meninggal atau hampir meninggal dan diselamatkan karena ada monsters di dalam tubuhnya. Yang meninggal, misalnya, adalah seorang remaja putri dari Amerika yang waktu renang di sungai kemasukan bakteri yang sangat mematikan.

Yang hampir meninggal adalah seorang remaja putra yang tanpa sengaja menelan kawat kecil saat makan barbeque. Saat dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh ternyata kawat itu ditemukan sudah melintang dan menusuk ususnya sehingga terjadi pendarahan hebat.

Waktu menonton acara ini, saya katakan kepada orang-orang terdekat saya bahwa kita harus berhati-hati karena bisa saja peristiwa yang sama menimpa kita. Apalagi di Indonesia banyak berseliweran berita-berita negatif baik di bidang jasa maupun produk. Misalnya minuman teh dalam kemasan yang ternyata mengental dan tidak layak minum. Ada juga cacing dalam daging sarden merek tertentu padahal expired date-nya masih tahun 2020. Ada cicak mati dalam minuman yang dijual oleh jaringan resto terkenal. Sempat masuk mulut lagi!

Yang saya tidak duga adalah bahwa peristiwa itu hampir saja menimpa saya. Saya membawa satu kaleng kue kering ke kantor untuk mengganjal perut di antara dua jam makan utama. Kemasannya tampak premium. Rasanya oke. Namun, saya kaget waktu saya kunyah, saya merasakan ada sesuatu yang keras. Waktu saya muntahkan, saya menemukan sobekan seng yang panjangnya sama dengan garis tengah uang logam 100 rupiah.

Untung tidak tertelan. Rupanya logam itu tercampur dengan kue kering yang saya makan. Waktu makan di Jogja, saya juga menemukan satu batang paku berkarat di nasi saya. Yang menjengkelkan, penjualnya hanya mengatakan bahwa itu tidak disengaja tanpa meminta maaf. Saya tahu pasti bukan kesengajaan, namun kalau sampai paku itu tertelan kan sangat berbahaya?

Dari dua peristiwa yang saya alami itu, saya sepakat dengan ungkapan lebih baik mencegah ketimbang mengobati. Apa yang bisa kita lakukan untuk mengantisipasi kejadian yang tidak kita inginkan. Lima hal ini penting untuk kita perhatikan.

1. Saat membeli makanan dan minuman, pastikan makanan tersebut tidak berubah warna, bau atau rasanya.

warna, bau atau rasanya

warna, bau atau rasanya via https://www.google.com

Makanan yang berubah warna, misalnya roti yang memutih di permukaannya, biasanya menunjukkan bahwa makanan itu sudah rusak. Jika ada putih-putih di permukaan roti bisa jadi itu tepung atau gula halus, namun bisa juga jamur.

Jika kita memakan roti berjamur bisa menimbulkan sakit perut dan sakit. Makanan yang berbau beda dengan yang biasanya kemungkinan besar basi. Lebih baik dihindari. Apalagi kalau rasanya yang berubah.

2. Pastikan kemasannya masih baik, utuh dan tidak ada cacatnya.

baik, utuh dan tidak ada cacatnya

baik, utuh dan tidak ada cacatnya via https://www.google.com

Advertisement

Kemasan yang cacat biasanya bocor. Kalau bocor artinya ada udara luar yang masuk dan ini bisa menimbulkan penyakit karena bakteri dan bahan lain bisa masuk, tak terkecuali bahan kimia. Kemasan yang berubah bentuk, misalnya menggembung tidak layak untuk dikonsumsi karena ada gas yang keluar dari makanan itu.

Artinya, tidak baru lagi. Kemasan rusak bisa dari produsen, distribusi maupun saat berada di toko. Bisa jadi karyawannya ceroboh sehingga terjatuh menjadi sobek, peyok atak bocor.

3. Sedapat mungkin, pilih kemasan transparan ketimbang yang tetra pak karena kalau kemasannya tidak transparan, makan-makanan di dalam tidak bisa kita lihat.

transparan

transparan via https://www.google.com

Kotoran pun jadi terlewatkan. Apa saja yang ada di dalamnya jadi tidak ketahuan. Kita baru tahu kalau ada perubahan bau dan warna. Artinya, sudah terlambat. Satu kalau belum kita makan atau minum masih lumayan. Bagaimana kalau bentuknya cair dan terlanjur kita minum? Sedikit banyak minuman itu sudah masuk ke perut kita dan bisa menimbulkan sakit penyakit.

4. Cermati tanggal kadaluwarsanya.

kadaluwarsanya

kadaluwarsanya via https://www.google.com

Advertisement

Pastikan masih dalam rentang waktu yang aman. Ada produsen yang nakal dengan mengubah tanggal kedaluwarsa itu. Makanan yang menjelang habis masa berlakunya, biasanya diobral. Hati-hati meresponnya. Jangan sampai mengejar untung malah buntung. Meskipun belum habis masanya, tetapi kalau sudah mendekati habis masa berlakunya, kita bisa dirugikan.

Misalnya, jangan-jangan, meskipun masih berlaku, tapi sudah tidak segar lagi. Saya baru mendapat kiriman foto sekalang sarden yang kedaluwarsanya masih 2020 ternyata sudah berulat.

5. Pastikan membelinya di tempat yang baik dan tidak bercampur aduk dengan barang lain.

bercampur aduk

bercampur aduk via https://www.google.com

Meskipun makanan yang kita beli masih utuh dalam kemasannya, bau dan bahan tertentu ternyata bisa menerobos ke dalamnya. Jadi, carilah penjual yang bersih dan rapi dalam menjajakan dagangannya. Jangan sampai kita membeli, misalnya saja, air kemasan, ternyata hasil isi ulang dari kemasan lama yang direkondisi. Pastikan rak makanan ditempatkan tersendiri dan terpisah dari rak lain, misalnya obat-obatan dan bahan kimia.

Kecerobohan membuat kita menelan monsters. Jika kamu merasa memperoleh manfaat dari tulisan ini dan ingin berbagi kebaikan, sebarkan orang lain yang guys. Tindakan sederhana kita bisa menyelamatkan nyawa orang.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya