Beliau bernama Ibu Susi Pudjiastuti. Lahir di Pangandaran, 15 Januari 1965 dari pasangan bernama Haji Ahmad sebagai Ayah dan Hajjah Suwuh sebagai Ibu. Kegerakannya dalam Menteri Kelautan dan Perikanan membuat pribadinya memotivasi rakyat-rakyat kecil bahwa tidak perlu berpendidikan yang tinggi asalkan memiliki tekad yang kuat dan besar.

Kemudian, apa yang menjadi Ibu Susi sukses seperti yang kita lihat sekarang?

Di balik faktanya yang meluas membuktikkan bahwasanya Ibu Susi hanyalah berpendidikan TK, SD, SMP, hingga kelas 2 SMA. Beberapa media online juga mengungkapkan alasan yang menyebabkan menteri kelautan ini berhenti di kelas 2 SMA, karena sakit, fokus dalam bisnisnya, atau kegerakannya dalam gerakan Golput. Tetapi patah semangat dan putus sekolah bukanlah api yang menyala-nyala bagi Menteri Susi untuk menyerah di masa mudanya. 

1. Keterbatasan dalam Pendidikan Bukanlah Halangan untuk Tidak Membaca Dunia

Semangat Ibu Susi

Semangat Ibu Susi via http://cdn2.tstatic.net

Menteri Susi gemar sekali membaca buku dari kecil. Mulai dari majalah Bobo, Intisari, majalah Pucung, Bukit Menoreh, sampai buku-buku Isaac Newton, Adam Smith, dan buku lainnya, semuanya itu dilakukan secara bahagia. Kebiasaan beliau juga tak mengenal waktu mengingat betapa pentingnya kehadiran buku bagi sosok Ibu Susi. Seperti mencuri-curi waktu saat jam pelajaran sekolah dan jam sebelum tidur.

Advertisement

"Tidak ada buku yang tidak saya baca di perpustakaan. Banyak kawan tidak tahu, tapi buku sudah bulukan, jelek, buku sudah rayapan tetap saya baca. ‎Bapak saya pun sering memberi hadiah buku ke saya," kisahnya.

Bahkan lebih mengejutkannya lagi, ternyata Susi merupakan penggemar eksperimen biologi. lho! Selain itu beliau juga menyukai hal yang berbau perkemahan.

"Cita-cita saya waktu kecil ingin jadi man from atlantis, punya kapal selam. Tapi sekolah tidak sabaran, jadi saya keluar. Meski begitu, belajarnya tidak berhenti, saya masih baca minimal 5-10 artikel per hari," seru dia.

2. Bukan Bedak Saja, Melainkan Percaya Diri dan Semangat Juang yang Dibutuhkan

Percaya Diri

Percaya Diri via https://www.google.co.id

Advertisement

Ibu Susi bukanlah orang yang menyukai make up mencolok. Bahkan kalau ditanya lebih menyukai riasan apa, beliau hanya minimal memakai bedak untuk sehari-hari dan selebihnya dandan khusus acara-acara penting saja, karena baginya waktu untuk mempercantik wajah sama dengan menghabiskan waktu yang berharga.

"Saya tidak habis pikir kalau ada perempuan mau ke acara, habis sejam (dandan). Tidak habis pikir saya," kata Susi di Ciputra Artpreneur, Kuningan, Jakarta Selatan.

"Kalau lima hari lima jam. Lima jam dalam sehari berarti seperlima, 20 persen. Kalau masih punya lifetime 50 tahun lagi, berarti 10 tahun sudah habis waktu untuk makeup."

Anak-anak muda saat ini haruslah meneladani sikap Ibu Susi. Lihatlah, perkembangan zaman mulai berkembang dan kita selalu tahu seseorang tidak dinilai hanya dari riasan wajah yang kita koleksi setiap hari, melainkan pengetahuan yang kita isi pun juga akan berguna bagi masa depan bangsa dan lebih bijak mengatur waktu dengan smart.

Kalau bukan kita yang mengatur hidup diri sendiri, akankah hidup kita selalu diatur oleh orang lain?

"Kita mesti confident. Kalau tidak punya confidence, akan salah tingkah. Kalau sudah salah tingkah tidak kelihatan cantiknya. Untuk bisa confident harus punya banyak pengetahuan. Orang yang kepalanya isi dan tidak isi, pasti lain," nasihat dia.

"Beauty is important. Tapi kalau setiap hari cuma buka "apa kelebihan powder ini, produk ini", what's best for your skin, that waste your time. Dan Anda tidak akan pede-pede."

3. Skak Mat!

Kegiatan Susi Pudjiastuti di kelautan Indonesia menjadikan sebuah ketegasan beliau bagaimana menghadapi tantangan yang amat membuatnya tidak mudah putus asa. Ibu Susi memang tidak masalah mau dikatai bodoh atau tidak, karena kita tahu sendiri bahwa ketika Ibu Susi hanya bersekolah mentok di pertengahan SMA. Dia juga merupakan peringkat pertama dari hasil kelulusan ujian paket C, itu tidak mencapkan dirinya sebagai anak bodoh. Bicara jelas, tegas, dan disiplin!

Pada konferensi PBB di New York, Amerika Serikat, Ibu Susi pernah dituai pujian oleh Leonardo Di Caprio soal keberhasilannya memberantas illegal fishing di Indonesia. Pria tersebut tak segan-segan menyebut Ibu Susi sebagai langkah kepemimpinan yang berani yang kita perlukan di seluruh dunia.

Selain aktor Amerika Serikat tersebut, ditambah Direktur Jenderal Badan Pangan dan Pertanian PBB (Food and Agriculture Organization/FAO) menyatakan Susi-lah yang menjadi orang pertama yang berpengaruh terhadap pemberantasan bentuk ilegal di kelautan Indonesia.

4. Bersuara Akan Kemimpinan dan Kerja Keras

Speech dari Bu Susi

Speech dari Bu Susi via https://www.google.co.id

"Perempuan harus berpikir mandiri, tidak bergantung pada sekelilingnya, mau bekerja keras, dan membebaskan pemikirannya dari hal-hal yang membuat batasan untuk bisa tumbuh dan berkembang," berikut citraannya.

Menurut Presiden Joko Widodo, Ibu Susi adalah sosok wirausahawati yang pekerja keras mulai dari usahanya yang masih nol hingga melonjak menjadi sebuah gerbang kesuksesan. Apalagi Bapak Presiden kita mengenal Susi memiliki bidang yang lebih di jasa perhubungan dan maritim, yang itu tidak membuatnya salah mengambil keputusan mengapa Jokowi menunjuk Susi sebagai Menteri Kelautan periode 2014-2019.

5. Terima kasih Ibu Susi! Bagiku Kaulah Wanita yang Berbahagia dengan Tetap Menyibukkan Diri

Kerja Keras dan Bahagia

Kerja Keras dan Bahagia via https://www.google.co.id

Ibu Susi Pudjiastuti membawakan kunci kebahagiaan kepada rakyat Indonesia yaitu tetap menyibukkan diri; membaca buku. Tak perlu berdandan berjam-jam di depan cermin. Tak perlu mendengarkan lagu-lagu galau yang membawa suasana lara di hati kita. Tak perlu meniru gaya hidup orang lain ialah kuncinya.

Semua adalah hidup dan semua dimulai dari kita sendiri. Kita yang menentukan seberapa kuatkah kita terhadap permasalahan sosial di luar. Seberapa pedulinya dan seberapa cintanya kita terhadap negara Indonesia.

Penulis mengingat satu quote dari Ibu Susi yang berkata demikian,

"Cari pekerjaan yang Anda suka. Berkarir, berpikir, bereksplorasi dengan kegembiraan. Kalau Anda gembira, tenaga Anda juga besar. Kalau tenaga Anda juga besar, Anda akan mencapai hal yang lebih besar. Kalau Anda tidak suka, cari yang Anda suka, belajar yang Anda suka. Kegembiraan adalah energi."

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya