Tak terasa tahun 2018 telah pergi meninggalkan kehidupan manusia di bumi ini selamanya, dan membuka kembali lembaran di tahun yang baru ini. Menyoal kehidupan di tahun 2018 tak memungkiri jika terdapat hal yang tak bisa dianggap mudah atau pun mulus bagaikan perjalanan di tol, berbagai lika-liku telah banyak dirasakan selama catatan hidup tahun 2018 ini. Dari suka, duka, manis, dan pahit, semuanya begitu lengkap menemani hari-hari ini.

Tak cukup sampai disitu saja, tahun 2018 ini pun diwarnai dengan cerita hidup bersama teman dan keluarga, sehingga tidak hanya bercerita tentang diri sendiri saja. Kebahagiaan bisa bertemu dengan teman berbeda kota, berbeda jurusan, hingga berbeda universitas, itu sungguh menjadi pengalaman yang berkesan sepanjang tahun 2018 ini, namun di tahun yang sama pula hati ini harus ikhlas melepas orang terdekat balik ke kota asalnya. Jika seperti itu, betapa cepatnya perasaan ini berganti. Namun, hati ini tak boleh berlarut-larut terhanyut ke dalam suasana keterpurukan. 

Tak dapat dipungkiri apabila suasana hati di tahun 2018 ini memang bisa dibilang seperti wahana permainan roller coaster, kadang berada di atas, kadang pula berada di bawah. Segala upaya dan usaha telah ditempuh untuk bisa merealisasikan semua resolusi yang sudah tertulis, mulai dari sidang, wisuda, lulus CPNS, hingga mendapat pekerjaan. Namun apalah daya dari semua resolusi yang telah dibuat, hanya beberapa saja yang bisa diraih, seperti: sidang dan wisuda.

Tetap bersyukur atas pencapaian tersebut, walau belum puas 100% dengan harapan selama ini. Namanya juga #ManusiaBolehBerencana, tentunya hanya bisa merencanakan dan berikhtiar, untuk selebihnya itu tergantung kepada Tuhan, apakah iya atau tidak.

Setiap harapan tentu ingin berujung indah, namun kalau Tuhan belum meridhoi ya tentu saja kita harus terima dan tak boleh mengeluh, apalagi menggerutu. Karena kita tak tau rencana Tuhan ke depannya bagaimana dan seperti apa. Nah, agar tak berlarut-larut meratapi, alangkah indahnya bila penghujung tahun digunakan untuk introspeksi diri dan mengambil hikmahnya. InsyaAllah selanjutnya bisa lebih sabar dan ikhlas lagi.

1. Sidang pun sudah, namun panggilan kerja belum kunjung datang. Hikmahin saja, masih disuruh istirahat dulu

PHP (Penunggu Harapan Panggilan HRD)

PHP (Penunggu Harapan Panggilan HRD) via http://www.google.com

Memang tak mudah menjadi seorang wisudawan atau wisudawati di kemudian hari. Terlebih menyandang status baru, dari mahasiswa menjadi sarjana. Sungguh berat!

Advertisement

(Dylan saja tak akan mampu :D). Disinilah babak kehidupan sebenarnya dimulai. Roda kehidupan terus berputar begitu pula dengan pertanyaan orang sekitar, biasanya bertanya kapan lulus? Sekarang berganti menjadi kapan kerja? Kerja di mana? Dan seterusnya. Namun, nasib seseorang tak ada yang mengetahui bagaimana ke depannya.

Walau usaha sudah dilakukan dengan mati-matian, tetap saja ketetapan Tuhan menyertai. Seperti, ada orang lulus tepat waktu di umur 22 tahun, tetapi lambat mendapat kerjaan, atau ada orang yang belum lulus, tetapi sudah mendapat kerjaan, fenomena kehidupan ini jelas ada.

Maka, agar pikiran tak menjadi rumit bagai benang kusut, alangkah indahnya untuk menghikmahi hidup jika hari ini disuruh istirahat dulu, sebelum dikejar deadline pekerjaan.

2. Resolusi 2018 belum semua tuntas? Jangan khawatir, 2019 mari semangati kembali untuk melunasinya!

Semangat 2019!

Semangat 2019! via http://pixabay.com

Advertisement

Satu hal yang biasa dilakukan saat resolusi gagal, biasanya adalah menyimpannya, lalu meresolusikan kembali, sampai resolusi tersebut tercapai. Namun dibalik resolusi yang gagal, jangan lupa tanamkan rasa optimis.

Walaupun resolusi 2018 sebagian atau bahkan semuanya belum tercapai, janganlah kau risau apalagi takut, mintalah kepada Tuhan agar diberikan umur yang panjang, supaya nantinya bisa mengejar dan menggapai sekuat tenaga resolusi hingga tercapai semua. Aamiin.

3. Husnudzon kepada ketetapan Tuhan, karena rencana tak pernah ada yang gagal, hanya tertunda saja

Be positive yaa

Be positive yaa via http://pinterest.com

Sangat manusiawi apabila kita pernah mengalami kesedihan atau kekecewaan yang luar biasa pada suatu hal, terlebih itu adalah resolusi. Niat hati resolusi bisa terealisasi semua, namun apalah daya saat perjalanan ternyata tak semua bisa terealisasi. Ada saja resolusi yang harus berakhir sedih, apakah itu hanya satu atau dua, atau bahkan semuanya.

Jika sudah seperti itu, seringkali kita berubah menjadi manusia yang mudah mengeluh, menggerutu, atau bahkan menghardik ketetapan Tuhan. Namun tindakan seperti itu hanyalah membuat kesia-siaan belaka. 

Pantasnya adalah untuk lebih bersyukur dan selalu husnudzon (berprasangka baik) terhadap ketetapan Tuhan. Mungkin saja resolusi 2018 bisa terealisasi di tahun berikutnya atau bahkan diganti dengan yang lebih baik.

4. Tetap bersyukur masih diberikan kesehatan dan kesempatan kumpul bersama dengan orang-orang tercinta

Harta yang paling berharga adalah keluarga

Harta yang paling berharga adalah keluarga via http://google.co.id

Tak ada yang lebih bahagia dari apapun, selain bisa kumpul bersama dengan keluarga, baik keluarga besar maupun keluarga kecil (orangtua). Walaupun saat berkumpul ada saja celetukan atau pertanyaan yang tak enak di hati dari saudara-saudara, atau orangtua.

Sederhananya saja seperti ini sudah lulus? Atau sudah kerja? Dan seterusnya. Memang itu keliatannya begitu simpel, namun percayalah itu akan membuat kepala pusing tujuh keliling.

Terlebih pertanyaan tersebut ada sangkutannya dengan resolusi. Tapi tak apa, namanya juga penasaran maka tanggapi saja, bisa jadi pertanyaan tersebut sebagai penyemangat atau pun doa. Maka, hikmahin saja, dan jangan sampai dimasukin ke hati ya.

5. Tak ada salahnya mencoba sesuatu yang baru, atau bahkan mendalami hobi yang disuka

Tekun bersama hobi

Tekun bersama hobi via http://google.com

Ada hal yang lebih menyenangkan, selain hanya terus-terusan mengeluh dan meratapi resolusi yang tak tercapai, seperti melakukan aktivitas atau hobi yang disukai. Terlebih kalau selama ini memiliki hobi menulis, tentu saja itu sangatlah beruntung karena bisa langsung disalurkan ke media blog menulis, contohnya: Hipwee.

Oleh karena itu, boleh jadi kita meratapi kegagalan resolusi dalam waktu sehari atau dua hari, namun setelahnya ambillah hikmah kalau jangan terlalu fokus pada apa yang diresolusikan saja, tapi latih dan tekuni bidang di luar resolusi itu termasuk bagus.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya