Seperti yang sudah kita ketahui, Indonesia berada di area ring of fire yang menyebabkan hampir seluruh kawasannya rawan terkena bencana alam seperti gempa bumi. Puluhan ribu hunian warga kerap sekali hancur setiap gempa mengguncang Indonesia.

Hal ini disebabkan oleh masih banyaknya rumah warga yang tidak dibangun sesuai dengan persyaratan rumah tahan gempa. Konsep rumah tahan gempa adalah bangunan yang dapat bertahan dari reruntuhan akibat getaran gempa dan juga memiliki fleksibilitas untuk meredam getaran.

 

Memiliki rumah yang tahan gempa pun sangat menolong keluarga Bapak I Ketut Oka Arijasa, salah satu korban gempa bumi di Lombok kemarin. Saat gempa terjadi pada tanggal 5 Agustus 2018, Pak Oka sekeluarga sedang berada di rumah. Sekitar pukul 19.30 WITA, Pak Oka sudah tidur karena kondisi badannya yang tidak enak sedangkan istri dan anaknya masih melakukan aktivitas seperti biasa. Lalu, tiba-tiba saja Pak Oka mendengar teriakan istrinya, “Gempa!!! Gempa!!!” dan saat itu juga Pak Oka langsung terjaga. Pada saat Pak Oka membuka matanya, seisi ruangan sudah gelap gulita karena padamnya listrik.

 

“Saya kaget sekali saat itu, istri dan anak-anak saya sudah di luar teriak-teriak. Saya masih diam di dalam kamar kebingungan, tidak bisa buka pintu atau cari arah keluar kerena keadaannya gelap sekali. Setelah gempa besar selesai, baru saya bisa keluar. Sempat terpikir, wah roboh deh rumah saya karena gempanya sangat kuat.

 

Kalau saja rumah saya roboh.. saya pasti sudah ikut di dalamnya. Syukur rumah saya memang sudah dibangun memenuhi syarat rumah tahan gempa dan Tuhan masih melindungi saya.” ucap Bapak satu anak itu penuh syukur.

 

Pak Oka kemudian lanjut menceritakan bagaimana ide untuk membangun rumah tahan gempa pertama kali terlintas di pikirannya. Ternyata, Lombok memang sudah sering diguncang oleh bencana alam tersebut, namun biasanya hanya gempa-gempa yang kecil. Hal inilah yang membuat Bapak berusia 47 tahun ini berfikir kalau penting sekali untuk membangun rumah dengan konstruksi yang tahan gempa.

 

Kebayang nggak sih kalau saja Pak Oka tidak membangun rumahnya dengan konstruksi rumah tahan gempa? Maka dari itu, kesadaran untuk membangun rumah tahan gempa memang sudah harus ditingkatkan. Masih banyak yang menganggap ini hal sepele, padahal banyak sekali nyawa yang terenggut akibat tertimpa oleh bangunan rumahnya sendiri saat gempa terjadi.

 

Nah, membangun konstruksi rumah tahan gempa tidak bisa sembarangan lho! Ada 5 persyaratan dasar yang ternyata harus diperhatikan dan dipenuhi. Penasaran apa saja? Yuk, kita simak sejenak!

1. Pondasi

Pondasi

Pondasi via http://google.com

Hal pertama yang harus diperhatikan saat membangun rumah yang tahan gempa adalah pondasi yang akan digunakan. Pondasi sangat penting untuk diperhatikan karena berfungsi untuk menyalurkan beban ke tanah.

Advertisement

Selain itu, struktur dari pondasi rumah tahan gempa harus terhubung kuat dengan sloof melalui pembuatan angkur antara sloof dan pondasi yang berjarak 1 cm. Tidak hanya harus berdiri di permukaan tanah yang keras, minimum kedalaman pondasi harus 60 sampai 75 cm.

2. Pemilihan beton

Pemilihan beton

Pemilihan beton via http://google.com

Hal kedua yang harus menjadi perhatian kita adalah pemilihan beton. Karena beton merupakan bagian umum dari konstruksi bangunan, komponen beton pada rumah tahan gempa harus dengan komposisi pasir (agregat halus), kerikil (agregat kasar), air dan semen yang presisi sehingga dapat mengurangi resiko terjadinya retakan yang berujung pada patah atau runtuhnya beton pada saat gempa.

Advertisement

3. Struktur beton bertulang

Betong bertulang

Betong bertulang via http://google.com

Selanjutnya dalam membuat konstruksi rumah tahan gempa, struktur beton bertulang juga perlu diperhatikan. Harus dipastikan tulangan telah dihitung dengan detail sehingga dapat menahan beban inersia gempa.

Lalu, pastikan komposisi dari campuran beton diukur dan dicampur dengan presisi, jadi beton bertulang yang dihasilkan memiliki kualitas terbaik.

4. Pemilihan beban material

Pilih beban material yang tepat

Pilih beban material yang tepat via http://google.com

Lalu, pastikan komponen struktur dari rumah tahan gempa telah baik dan benar. Pilihlah material rumah tahan gempa yang tepat, yaitu dengan meminimalisir berbagai material bangunan yang bisa menambah beban dari bangunan tersebut saat terjadi gempa.

Material batu bata atau batako juga bisa diganti menjadi bata ringan. Konstruksi atap konvensional juga dapat diganti dengan konstruksi baja ringan. Dengan menggunakan material yang tepat, efek goyangan gempa pada hunian bisa diminimalisir.

5. Pastikanlah setiap komponen elemen bangunan terikat dengan baik satu sama lain.

Komponen bangunan terikat dengan baik

Komponen bangunan terikat dengan baik via http://google.com

Selalu pastikan bahwa setiap komponen-komponen elemen bangunan, baik struktural dan non-struktural, terikat dengan baik satu sama lain. Hal ini akan memperkokoh kekuatan bangunan dan juga membantu bangunan menyalurkan beban gempa secara lebih merata.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya