OCD: Ketika Pikiran Obsesif Menyebabkan Perilaku Kompulsif

Beberapa orang sering salah paham tentang apa itu OCD. Ada yang mengira bahwa kebiasaan menggigit kuku atau berpikiran negatif itu termasuk OCD. Akan tetapi, OCD ternyata tidak sesederhana itu, Dear.

OCD adalah sebuah gangguan yang dapat mempengaruhi pekerjaan, sekolah, dan hubungan yang dimiliki oleh seseorang, hingga membuat hidup penderitanya tidak normal. Hal ini dikarenakan pikiran dan tindakan penderita berada di luar kendali.

Lalu, gimana sih penjelasan tentang OCD itu? Simak penjelasan lebih lanjut mengenai apa itu OCD di artikel Riliv kali ini, ya!

Advertisement

1. Apa itu OCD?

Photo by Andrea Piacquadio from Pexels

Photo by Andrea Piacquadio from Pexels via https://www.pexels.com

Obsessive-compulsive disorder atau OCD adalah gangguan kecemasan dimana seseorang memiliki pikiran, gagasan, atau sensasi yang tidak diinginkan (obsession) dan membuat mereka merasa terdorong untuk selalu melakukannya secara berulang-ulang (compulsion).

Pada umumnya, orang-orang dianggap wajar bila memiliki suatu rutinitas yang selalu dilakukan berkali-kali sebagai suatu kebiasan.

Advertisement

Namun, kegiatan yang dilakukan secara berulang-ulang oleh penderita gangguan OCD ini justru merupakan rutinitas yang cenderung tidak diinginkan. Jika tidak melakukan hal tersebut, maka penderita akan merasakan stres yang luar biasa.

Bagi penderita OCD, mereka memiliki pikiran dan dorongan obsesif atau perilaku kompulsif yang berulang. Beberapa justru memiliki keduanya. Apa sih yang membedakan keduanya? Untuk mengetahui lebih lanjut, baca penjelasan di bawah ini yuk.

Advertisement

Obsession

Obsession atau obsesi adalah pikiran, gambaran, atau bayangan yang selalu dipikirkan secara terus-menerus oleh pengidap OCD, sehingga menyebabkan emosi dan perasaan tertekan.

Memiliki obsesi ini tidak terasa menyenangkan, justru merupakan sesuatu yang tidak diinginkan dan menjengkelkan. Frekuensi, intensitas, dan ketidaknyamanan ketika melakukan sesuatu menjadikan pembeda antara obsesi yang dirasa oleh penderita OCD dan obsesi normal yang dialami oleh setiap orang.

Sebenarnya, banyak penderita OCD yang merasa bahwa obsesi mereka cenderung tidak masuk akal dan berlebihan. Namun, pikiran-pikiran yang mengganggu mereka tidak bisa diselesaikan secara sederhana dengan logika atau penalaran.

Contoh kasus dari pemikiran obsesif adalah ketika penderita berpikir bahwa ia akan terluka jika tidak mengenakan pakaiannya dalam urutan yang sama persis di tiap paginya.

Compulsion

Untuk mengatasi obsesi, penderita OCD cenderung melakukan tindakan atau pikiran yang repetitif yang dilakukan secara berulang-ulang untuk membuat diri mereka merasa lebih aman.

Penderita OCD menganggap bahwa kompulsif merupakan ritual yang dapat membantu mereka mengurangi stres dan kecemasan akibat obsesi yang mereka punya.

Namun pada nyatanya, tindakan repetitif ini justru membuang-buang waktu karena tidak begitu berguna, sebab obsesi yang mereka miliki pun tidak rasional, sehingga dapat menghambat pekerjaan, sekolah, atau kewajiban seseorang dalam keluarga.

Contoh dari perilaku kompulsif ini seperti mencuci tangan berkali-kali setelah menyentuh apapun, membersihkan apa yang mengganggu pandangannya, atau memeriksa apakah sudah mengunci pintu atau belum.

Penderita OCD akan merasa tidak nyaman dan khawatir secara berlebihan jika tidak melakukannya.

2. Gejala OCD

Photo by Burst from Pexels

Photo by Burst from Pexels via https://www.pexels.com

Banyak orang yang mengidap OCD tahu bahwa mereka memiliki kebiasaan (obsesif dan kompulsif) yang tidak masuk akal. Mereka tidak melakukannya karena mereka menikmati, justru mereka tidak bisa berhenti melakukannya karena akan merasa cemas jika berhenti.

Pikiran obsesif dan kompulsif memiliki gejala yang berbeda. Gejala dari pikiran obsesif meliputi:

Takut terkena kuman dan menjadi kotor

Khawatir jika orang lain atau dirinya sendiri terluka

Tidak bisa melihat barang-barang yang tidak berada pada urutan yang tepat

Percaya bahwa angka dan warna tertentu bersifat baik atau buruk

Kesadaran konstan akan berkedip, bernapas, dan sensasi tubuh lainnya

Sedangkan kompulsif merupakan tindakan yang dianggap dapat mengurangi pikiran obsesif, sehingga dilakukan berkali-kali. Gejalanya meliputi:

Cuci tangan berkali-kali setelah memegang sesuatu

Melakukan tugas atau kegiatan dalam urutan tertentu yang dianggap baik

Memeriksa pintu, saklar lampu, dan hal-hal lainnya secara berulang-ulang sebelum meninggalkan rumah atau tempat tertentu

Keharusan menghitung beberapa hal, seperti langkah kaki atau botol

Menempatkan barang-barang pada urutan yang tepat, seperti meletakkan kaleng yang berlabel menghadap ke depan

3. Penyebab OCD

Photo by Kat Jayne from Pexels

Photo by Kat Jayne from Pexels via https://www.pexels.com

Para dokter sebenarnya tidak begitu yakin dengan apa yang menyebabkan seseorang menderita gangguan OCD. Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut sangat dibutuhkan untuk mengetahui hal ini.

Penderita gangguan ini lebih sering menjangkit wanita daripada pria. Sekitar 1,2 persen orang Amerika memiliki OCD. Beberapa juga sudah terjangkit ketika usia remaja (rata-rata muncul saat 19 tahun), sehingga terbawa hingga dewasa.

Pengaruh gen juga memungkinkan seseorang memiliki OCD, namun hal ini perlu diteliti lebih lanjut. Seseorang mungkin terkena gangguan OCD karena:

  • Orang tua atau anak kandung juga mengidap OCD
  • Adanya gangguan depresi dan kecemasan
  • Pengalaman dengan trauma
  • Riwayat pelecehan

4. Diagnosa OCD

Photo by bongkarn thanyakij from Pexels

Photo by bongkarn thanyakij from Pexels via https://www.pexels.com

Diagnosa OCD memerlukan adanya obsesi dan / atau kompulsi yang memakan waktu lebih dari satu jam dalam sehari yang bisa menyebabkan kesulitan dan mengganggu rutinitas sehari-hari penderita.

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan darah untuk memastikan bahwa gejala yang dialami penderita tidak disebabkan oleh hal lain. Dokter juga akan menanyakan tentang perasaan, pikiran, dan kebiasaan penderita.

5. Setelah mengetahui apa itu OCD, apa yang harus dilakukan untuk menyembuhkannya?

Photo by cottonbro from Pexels

Photo by cottonbro from Pexels via https://www.pexels.com

Tidak ada obat untuk menyembuhkan OCD. Tetapi, dengan perawatan dan penanganan yang tepat oleh dokter dan ahli medis, seorang penderita OCD mungkin bisa mengurangi gangguan kecemasan yang mengganggu hidup pendenderita akibat OCD yang dimiliki.

Dokter tentu saja akan meresepkan beberapa obat untuk mengurangi kecemasan dan mengarahkan untuk  melakukan psikoterapi.

Semoga artikel kali ini membantumu untuk mengetahui lebih lanjut mengenai apa itu OCD ya, Dear. Kalau kamu merasa memiliki gejala atau kebiasaan mengganggu yang mengindikasikan hal-hal yang sudah dijelaskan di atas, segeralah menemui dokter untuk mendapat diagnosa yang tepat!

Disadur dari:

  1. https://www.ocdtypes.com/
  2. https://www.psychiatry.org/patients-families/ocd/what-is-obsessive-compulsive-disorder
  3. https://www.webmd.com/mental-health/obsessive-compulsive-disorder#1

Ditulis oleh Khanza Sabrina Salsabila dari Riliv.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

CLOSE