Benda tak berdaya di atas tanah itulah yang kita sebut sebagai sepah. Habis manis, sepah dibuang.

Memangnya harus diapakan lagi sepah itu jika tidak dibuang. Kita sering menggambarkan hidup yang sudah tidak berguna sebagai sepah. Kita sadar jika sudah tidak berguna, tetapi masih ngotot untuk tidak dibuang. Itu mengindikasikan bahwa ini adalah saatnya untuk mengubah paradigma tentang hidup.

Tidak perlu lagi untuk merasa kecewa karena telah dihempaskan oleh lingkungan yang Anda harapkan memberikan penerimaan. Mungkin mereka benar telah menghempaskan kita karena kita belum bisa memberi rasa manis yang mereka butuhkan. Mungkin juga mereka keliru karena tidak bisa menghargai rasa manis yang kita miliki. Tetapi, bukan itu yang perlu menjadi fokus perhatian kita sekarang. Cukuplah untuk selalu memikirkan bagaimana caranya agar kita bisa memberikan lebih banyak lagi rasa manis.

Karena dengan rasa manis yang kita tebarkan, kita tidak perlu meneriaki para semut untuk mengerubuti. Insya Allah, cepat atau lambat, mereka akan datang sendiri.

1. Jadilah pemanis kehidupan

Ketika ke dalam seduhan kopi pahit itu kita bubuhkan gula dan kita menikmatinya. Bahkan menjadikannya sebagai minuman favorit. Jika kita bisa membuat rasa pahit kehidupan menjadi terasa manis. Tentunya kita tidak akan lagi harus disiksa oleh rasa pahit itu.

Bahkan boleh jadi, kita menjadi penikmat rasa pahit itu. Kita bisa menari dalam deraan tantangan dan rintangan. Kita masih bisa tersenyum di tengah terpaan angin cobaan. Dan kita masih bisa bersyukur meski tengah berada dalam pahit getirnya cobaan hidup. Semoga kita bisa menjadi pribadi yang mampu memaniskan kehidupan.

2. Jadilah pribadi yang manis, maka akan selalu dikerubuti

Advertisement


Seperti halnya semut, di mana ada gula di situlah mereka berbondong beriringan.


Pernyataan ini tidak hanya benar bagi para semut, tapi sama halnnya dengan manusia. Sudah menjadi fitrah manusia untuk mengerubuti segala sesuatu yang terasa manis. Coba saja perhatikan orang-orang yang bisa memberi manfaat bagi lingkungannya. Para dermawan, selalu dikerubungi oleh para pengikut setianya. Para alim ulama dan orang-orang berilmu, selalu menjadi rujukan para pencari pencerahan. Siapapun yang bisa memberi manfaat kepada orang lain, bisa dipastikan selalu dibutuhkan oleh mereka.

3. Tetaplah manis, maka sepahmu tidak pernah dibuang

Ketika kita makan tebu, setelah rasa manis tebu itu habis maka kita pasti membuang sepahnya. Mari berhenti untuk marah atau kecewa jika orang lain membuang kita karena mereka menilai kita sudah menjadi sepah. Mereka tidak salah. Kitalah yang harus berpikir bagaimana caranya supaya tidak menjadi sepah. Sebab jika kita masih tetap memiliki rasa manis itu, mereka tidak akan membuang kita.

Advertisement

Percayalah, rasa manis yang masih tetap lestari di dalam diri kita yang menjadikan kita tetap menjadi rebutan. Jadi jika kita tidak ingin menjadi sepah yang dibuang, maka kita harus memastikan bahwa kita tetap menjadi pribadi yang manis.

4. Nikmatilah rasa manis secukupnya, tidak berlebihan

Kita semua mendambakan manisnya kehidupan. Dan kita sering terlalu serakah untuk merengkuhnya sendirian. Bahkan gula atau madu sekali pun mengajari kita bahwa terlalu banyak rasa manis membuat kepala kita pusing, bahkan kita bisa mengalami sindrom toleransi insulin. Sungguh keliru jika kita mengira hidup yang manis itu adalah yang semuanya serba indah. Tidak, Justru hidup yang terlalu indah cenderung menjadikan kita pribadi yang serakah. Semacam sindrom toleransi insulin kehidupan.


Tidak peduli betapa banyak insulin yang diproduksi dalam tubuh anda, gula akan tetap menumpuk dalam darah anda.


Tahukah anda apa yang terjadi ketika dalam darah kita terdapat lebih banyak gula dari yang seharusnya? anda tentu paham yang saya maksudkan. Bahkan rasa manis kehidupan yang terlalu banyak pun bisa membahayakan kehidupan diri anda sendiri. Maka nikmatilah rasa manisnya kehidupan, namun tidak perlu berlebihan.

5. Semanis apapun kita, tidak bisa lepas dari fitrah

Semua orang yang pernah muda akan menjadi tua. Semua yang gagah perkasa akan menjadi tak berdaya. Semua yang kuat menjadi lemah. Itulah fitrah, tetapi mari sekali lagi kita lihat sang sepah. Bahkan setelah masuk tempat sampah, dia tetap saja menjadi anugerah. Jika kita ikut mengimani konsepsi hidup setelah mati, maka kita lebih beruntung lagi. Karena dengan keyakinan itu kita bisa berharap memetik buah manis tabungan kebaikan yang pernah kita lakukan semasa hidup.

Kita boleh berharap itu, karena iman kita mengajarkan bahwa setiap amal baik yang pernah kita lakukan atas nama Tuhan, akan membuahkan imbalan yang sepadan. Beruntunglah kita yang percaya, karena setidak-tidaknya kita memiliki harapan, bahwa fitrah kita adalah untuk mempersiapkan tempat pulang ke alam keabadian.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya