Dalam hidup, akan ada orang yang datang dan pergi. Datang membawa cinta dan pergi meninggalkan luka. Seperti kepergianmu di hari lalu, meninggalkan luka dengan sempurna.

Benar kata orang, dalam hidup kita pasti akan mengalami satu fase patah hati terhebat sebelum akhirnya menemukan orang yang tepat. Sebelum akhirnya menemukan satu; dia yang akan tetap menetap. Pernahkah kalian merasakan patah hati paling hebat? Aku pernah ada di posisi itu…

Aku masih ingat, di hari lalu ketika kamu memutuskan untuk pergi. Membawa semua harap yang pernah kita bagi bersama. Menghancurkan cerita yang pernah kita ukir berdua. Aku masih ingat, apa yang aku rasakan di hari itu; hancur. Kamu yang datang membawa tawa dan pergi meninggalkan tetes air mata.

1. Kamu yang datang membawa tawa dan pergi meninggalkan tetes air mata

Girl sad

Girl sad via http://pixabay.com

Advertisement

Aku berusaha menyembuhkan luka sendiri. Mencoba berdiri meski jalan tertatih. Berusaha menghibur hati di saat yang kurasakan hanyalah kekosongan.

Aku ingat sebuah kutipan buku yang pernah kubaca, ‘ketika seseorang pergi, ia membawa sepotong hatimu’, ya, itulah yang kurasakan saat itu. Kosong.

Seperti ada bagian yang hilang. Ada bagian yang tak lengkap. Bodoh memang. Meratapi kamu yang sudah jauh berjalan tanpa pernah berniat menengok ke belakang.

Advertisement

Kukeraskan diri untuk bisa lanjut berjalan. Sebab, hidup harus terus berjalan meski tanpa kamu, meski bukan dengan kamu. Kusibukan diri, mengisi hari dengan hal-hal yang menjadi tujuanku. Ada ataupun tanpa kamu di sisiku, tujuan itu harus tetap kutuju.

Kutinggalkan jauh cerita lalu di belakang. Meski kadang, bayangmu sering menyelinap tanpa ku undang. Aku masih ingat hari itu. Aku tak ingin seperti di hari itu. Hari ketika aku kehilangan arah dan tujuan.

2. Aku berusaha menyembuhkan luka sendiri

Sad Girl

Sad Girl via http://pixabay.com

Hari berganti. Kamu datang lagi membawa semua cerita lalu sekaligus, cerita masa depanmu bersama dia yang kini menemani harimu.

Aku masih hafal semua tentangmu, bahkan ketika kini kamu berdiri di hadapanku dengan ekspresi yang sulit di baca; aku tahu bahwa kamu tidak sedang baik-baik saja.

Aku menanti kata yang terucap dari bibirmu, meski aku sudah bisa menebak apa yang akan kamu katakan. Ya, kamu mengatakan bahwa kamu akan segera menikah bersama dia yang kamu pilih untuk menemani sisa sepimu.
 

3. Jauh di dalam hatiku, hanya ingin melihatmu tetap bahagia

sad girl

sad girl via http://pixabay

Maaf katamu. Maaf untuk semua janji yang tidak bisa terpenuhi. Maaf untuk cerita yang harus di sudahi. Maaf untuk luka yang belum terobati.

Aku marah pada keadaan. Aku kecewa pada kenyataan. Ketika takdir tak berpihak pada keinginan. Ketika kenyataan terasa  begitu menyakitkan.

Namun, mungkin aku akan lebih tersiksa jika melihatmu tak bahagia. Apa yang kita harapkan dari orang yang kita sayangi selain melihat dia tersenyum bahagia? Rasanya tidak ada.

Jauh di dalam hatiku, hanya ingin melihatmu tetap bahagia. Agar senyum teduh itu akan tetap terhias di bibirmu. Meski bukan lagi aku yang menjadi alasannya.

4. Perihal luka yang kau tinggalan biar waktu yang menghapuskan

sad girl

sad girl via http://pexel.com

Dulu, akulah penenang disaat hari-hari burukmu menyerang. Dulu, kamulah yang selalu kucari dalam segala kondisi. Kini kita berdiri di garis batas yang jelas.

Kini, ada dia yang siap mendampingi setiap langkahmu. Kini, ku biarkan kamu berlalu membawa semua cerita yang hanya menjadi sebatas kenang.

Cukup sudah yang telah kukorbankan untukmu. Perihal cinta yang kamu ucapkan, biar kukubur dalam-dalam. Perihal luka yang kau tinggalan biar waktu yang menghapuskan.

Kini aku paham, kamu bukanlah tujuan akhirku. Karena pada akhirnya kita akan bahagia bersama di jalan yang berbeda. Pada akhirnya aku harus terus melanjutkan perjalanan hingga menemukan satu; seorang yang akan siap menetap.

5. Hidup harus terus berjalan meski tanpa kamu

sad girl

sad girl via http://pexel.com

Terima kasih patah hati terhebatku, karenamu kini aku menjadi lebih kuat. Karenamu, aku paham impianku lebih berharga dibanding kepergianmu. Dan karenamu, aku menjadi lebih baik untuk tidak menggantungkan harap pada seorang yang semu.

“Kamu boleh patah hati, tapi jangan tutup hati kamu.”

-Raditya Dika-

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya