17 Agustus 1945 - 17 Agustus 2016, 71 tahun lamanya bangsa kita telah lepas dari yang namanya penjajahan. Kita masih diingatkan ketika setiap adanya kegiatan upacara bendera untuk mengheningkan cipta sebagai wujud penghormatan bagi jasa-jasa para pahlawan yang tlah gugur demi memperjuangkan hak kemerdekaan.

Masih ingatkah kita dengan isi pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alenia pertama yang berbunyi :

Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Makna pahlawan itu sendiri bukan hanya mereka yang berperang secara bergerilya menggunakan bambu runcing menumpas para penjajah saja ya 🙂 namun masih ada juga para pahlawan kita yang rela mengorbankan tenaga, umur dan materi untuk menjaga bahkan melestarikan fungsi lingkungan hidup lho. Berikut ini mereka yang wajib kita apresisasi karena itikad baiknya  :

1. Mbah Sadiman penerima kalpataru perintis Lingkungan Hidup

Sosok perintis lingkungan hidup di Wonogiri, Sadiman via http://solopos.com

Mbah Sadiman yang tinggal di Dusun Dali, Desa Geneng Kabupaten Wonogiri Jawatengah dikenal sebagai tokoh lingkungan hidup yang gigih dalam melestarikan lingkungan di hutan sekitar tempat tinggalnya selama 20 tahun terakhir. Mbah Sadiman patut kita acungi jempol nih karena jasanya beliau setiap harinya keluar masuk hutan untuk menanam dan merawat pohon beringin dan pohon lainnya hingga 15 ribu pohon di lokasi seluas 809 Ha dan 5000 pohon yang ditanam bersama para relawan untuk merehabilitasi lahan kritis di lereng-lereng bukit serta melakukan perlindungan sumber mata air.

Ada harapan Mbah Sadiman yang wajib diingat ya sob…

kedepannya tidak ada lagi penebangan hutan dan kebakaran hutan. Agar semua pihak mulai sadar untuk memulihkan hutan demi keselamatan bumi dan anak cucu.

2. Yohanes Wambrauw sang Guru penerima Kalpataru pengabdi lingkungan hidup

Advertisement

Sosok pengabdi lingkungan hidup di Pulau Numfor, Biak via http://biakkab.go.id

Pejuang memang tak dibatasi oleh pekerjaan, pejuang yang kedua ini punya latarbelakang sebagai seorang guru SMP di negeri Pulau Numfor Kabupaten Biak, Papua. Selain kegiatannya menjadi guru dia juga mencari ikan serta berkebun. Awalnya beliau mencermati adanya abrasi pantai di sekitar tempat tinggalnya, hal ini terjadi karena besarnya ombak dari laut lepas menhantam pinggiran pantai. Dengan keprihatinan melihat keadaan lingkungannya tersebut, akhirnya pada tahun 2004 bapak Yohanes Wambrauw berinisiatif mulai menanam pohon mangrove sekitar 100 meter dari bibir pantai dan beliau sudah menanam mangrove di wilayah seluas 30 Ha.

Awalnya banyak menghadapi tantangan karena ada Masyarakat yang yang mulanya menganggapnya orang gila dan bahkan ada yang mencabut bibit mangrove serta melakukan tindakan perusakan lain. Namun beliau tak peduli dan terus menanam setiap hari, mengembalikan tanaman tersebut pada posisinya semula, sehingga beberapa tahun kemudian pohon mulai tumbuh besar dan secara perlahan-lahan berbagai jenis ikan, kerang, kepiting dan biota perairan lain juga mulai hadir.

"mengabdikan diri kepada lingkungan merupakan bagian dari rasa syukur atas apa yang sudah diberikan Tuhan, juga untuk menjaga kelestarian sumber daya alam demi keberlanjutan kehidupan generasi beliau selanjutnya" ucap Yohanes Wambrauw

Para pejuang peraih penghargaan kalpataru masih banyak lagi ya sobat hipwee, semuanya bisa dicek di kalpataru2016.wordpress.com

3. TGH. Hasanain Juaini LC, MH penerima kalpataru pembina lingkungan

Sosok pembina lingkungan hidup di Lombok Barat, NTB via http://lombokinsider.com

TGH Hasanain yang terkenal aktif melakukan pembibitan dan penanaman pohon di wilayah hutan Lombok Barat. TGH Hasanain pada 2011 dianugerahi penghargaan Ramon Magsaysay karena prestasinya mengembangkan pesantren yang peduli lingkungan, menghormati perempuan, serta membangun kerukunan beragama. Penghargaan Ramon Magsaysay sering disebut juga sebagai Nobel versi Asia ini diserahkan kepada TGH Hasanain dan lima peraih lainnya di Manila, Filipina.

4. Yohasap Paririe penerima Kalpataru penyelamat lingkungan

Penerima kalpataru penyelamat lingkungan hidup di Kepulauan Yapen, Papua via http://kalpataru2016.wordpress.com

Prihatin dengan keadaan di Papua yaitu semakin maraknya perburuan hewan yang dilindungi seperti burung cenderawasih menjadi ikon daerah papua ini, maka sejak tahun 2000 Yohasap Paririe berinisiatif melarang perburuan burung cenderawasih yang hidup liar di kawasan hutan yang menjadi wilayah ulayat klen keluarga beliau seluas 40 hektar. Beliau secara swadaya mendata jenis cenderawasih yang ada di wilayahnya berdasarkan besar dan corak bulunya. Berbagai upaya belau dan rekan-rekan antara lain membuat pos pengawasan di beberapa titik, melakukan patroli rutin, menjaga kawasan hutan dari masuknya pemburu liar yang datang mendaki dari balik gunung.

5. Pejuang kemerdekaan bisa ditanamkan sejak dini menjadi cikal bakal melanjutkan usaha mereka yang sudah mendapatkan kalpataru

Pejuang cilik peduli kemerdekaan untuk masa depan dengan menanam pohon via http://tempo.co

Seperti seuntai kalimat di bawah ini :

Melakukan kebaikan bukan mengharapkan pujian ataupun balasan, namun lakukanlah kebaikan tanpa mengharapkan apa yang diberi akan kembali (ikhlas).

Menjadi pejuang kemerdekaan yang sejati harus tidak gila hormat, namun dia yang selalu mensyukuri pemberian daripadaNya dan menghormati setiap pujian ataupun cacian dari sesama. Karena melakukan kebaikan tak selamanya mudah diterima orang banyak lho 🙂

Menjadi pejuang kmerdekaan bisa dilakukan sejak usia muda lo sobat, justru sejak anak-anak mereka mudah dibimbing untuk bisa berbuat walaupun sederhana tapi berdampak baik untuk kedepannya. hehe….

A : Bagaimana bisa anak-anak bisa berjuang seperti pahlawan kemerdekaan?

B : Eeitts, pasti bisa dong. Mereka (anak-anak) bisa kita ikutsertakan langsung dalam berbagai kegiatan seperti memberikan edukasi pentingnya menjaga kebersihan, hingga menanam bibit pohon untuk mendukung penghijauan di sekitar tempat tinggal.

Jadi, buat sobat hipwee kemerdekaan bukan hanya sebatas ceremonial seperti setiap tanggal 17 Agustus seperti lomba berpidato, lomba balap karung, lomba makan kerupuk, lomba bermain bola menggunakan sarung dan lainnya ya sob. hehehe..

M.E.R.D.E.K.A !!!