Pengaruh Terbentuknya Konsep Diri Pada Remaja

Konsep Diri Remaja

Saat remaja kerap dianggap sebagai usia yang sedang mengalami kelabilan, karena setiap individu mulai mencari jati diri melalui pergaulannya. Remaja akan merasakan kebingungan dalam menentukan suatu hal. Pada masa ini, remaja mulai mengalami pertumbuhan dan perubahan baik secara fisik, perilaku, emosi, maupun sosial. Individu mulai menyeleksi dalam pergaulan serta kehidupan sosialnya. Melalui pertemanan dan pergaulan saat remaja inilah yang menjadi konsep diri bagi remaja.

Masa pertumbuhan ini menjadi tantangan bagi para remaja dalam beradaptasi dengan lingkungannya seperti, di sekolah dan di rumah. Tantangan yang dialami remaja terutama pada faktor pertemanan atau pergaulannya, karena banyak pergaulan bebas yang memiliki dampak buruk bagi remaja. Dalam proses perkembangan untuk mencari jati dirinya, remaja perlu dukungan dari orang tua untuk bisa beradaptasi dengan lingkungnnya yang dapat membentuk konsep diri, karena remaja akan berperilaku sesuai konsep dirinya.

Selain itu, remaja juga harus bisa beradaptasi dengan usianya yang bukan lagi anak-anak. Walaupun sudah masa remaja orang tua tetap terus membimbing anaknya untuk memilih pergaulan yang bermanfaat bagi remaja agar terhindar dari perilaku negatif seperti, tawuran, bullying, dan kenakalan remaja lainnya. Bimbingan orang tua akan berpengaruh terhadap perilaku remaja. Remaja akan dikenal sebagai individu yang seperti apa melalui pergaulan dan pandangan orang lain. Sebenarnya apa itu konsep diri?

Konsep diri merupakan pandangan dari orang lain terhadap diri kita. Pandangan dari orang lain bisa melalui sikap, fisik, gender, dan aspek sosial-ekonominya. Konsep diri berasal saat kita sedang berinteraksi dengan orang lain ataupun orang terdekat. Konsep diri muncul dari perspektif orang lain. Konsep diri menjadi proses dan akan berkembang dalam kehidupan kita.

Biasanya orang terdekat kita melebeli diri kita melalui fisik, penampilan, dan kebiasaan yang kita lakukan. Terkadang orang lain memuji konsep diri kita, tetapi pujian tersebut tidak selamanya positif. Terkadang orang dengan mudahnya mengkritik diri kita, sehingga menurunkan rasa percaya diri kita. Selain itu, konsep diri juga berasal dari penampilan kita serta minat dan bakat yang kita miliki. 

Konsep diri yang dibahas dalam artikel ini mengarah kepada usia remaja. Remaja merupakan proses perubahan usia anak-anak menuju dewasa. Masa remaja dikenal sebagai masa untuk mencari jati diri yang sesungguhnya. Remaja mulai beradaptasi dengan  pertumbuhan dan perubahan baik secara fisik, perilaku, emosi, dan status pendidikannya. Pada masa ini, remaja menganggap dirinya mampu melakukan tindakan berdasarkan keinginannya. Untuk mengetahui konsep dirinya remaja perlu membangun komunikasi dengan teman sebayanya.

Selain itu, pergaulan juga akan mempengaruhi konsep diri pada remaja. Untuk melakukan semuanya remaja memerlukan penyesuaian diri terhadap lingkungannya seperti, di rumah dan di sekolah. Berikut beberapa faktor yang akan mempengaruhi terbentuknya konsep diri pada remaja.

Advertisement

1. Proses Penyesuaian

Photo by Kesekolah

Photo by Kesekolah via http://www.kesekolah.com

Proses penyesuaian dapat melalui bimbingan dari orang tua terhadap anaknya, agar tidak salah dalam memilih pergaulan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses penyesuain diri, yaitu faktor lingkungan keluarga yang menjadi pengaruh utama dalam proses penyesuaian diri pada remaja seperti, berinteraksi dengan anggota keluarga.

Kemudian lingkungan sekolah juga akan mempengaruhi proses penyesuaian diri pada remaja, karena dari sekolah individu mendapatkan pengetahuan lebih terkait nilai dan moral dalam kehidupan. Terakhir lingkungan masyarakat, kehidupan yang terjadi dalam bermasyarakat juga akan mempengaruhi proses penyesuaian serta perkembangan diri.

Advertisement

Proses penyesuaian didapat berdasarkan pengalaman individu. Individu akan mencari identitas dirinya. Pengalamannya akan dijadikan pelajaran bagi setiap individu.

2. Bimbingan Orang Tua

Photo by Mother and Baby

Photo by Mother and Baby via https://www.motherandbaby.co.id

Peran orang tua dalam membimbing anaknya akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan seorang anak. Anak akan meniru perilaku orang tuanya yang telah mendidiknya dari usia dini. Remaja akan merasa dirinya sudah bisa mengambil keputusan sendiri tanpa bantuan orang lain. Oleh karena itu, orang tua perlu perhatian khusus untuk anaknya dalam memilih pergaulan yang positif baginya.

Karena masa remaja ini sangat rentan terhadap pergaulan yang negatif jika kurang perhatian dari orang tuanya. Jika orang tua memiliki hubungan yang dekat anaknya, maka remaja akan memilih pergaulan yang baik baginya. Selain itu, anggota keluarga juga akan mempengaruhi konsep diri pada remaja.

Advertisement

3. Pertemanan

Photo by Fimela

Photo by Fimela via https://www.fimela.com

Lingkungan pertemanan sangat berpengaruh terhadap konsep diri remaja. Remaja cenderung lebih sering berinteraksi dengan teman seusianya. Orang lain dapat memandang diri kita melalui pergaulan yang kita miliki. Remaja cenderung mempercayai informasi yang diterima dari temannya. Faktor pergaulan ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi remaja.

Apabila remaja masuk kedalam pergaulan yang negatif seperti, tawuran, bullying, dan kenakalan remaja lainnya, maka akan dikenal sebagai individu yang berperilaku negatif. Begitu juga sebaliknya. Perilaku individu juga dapat dipengaruhi oleh teman sebayanya. Pada masa ini, remaja harus bisa dalam membangun komunikasi dengan teman seusianya. Dari sini remaja akan berusaha mencari tahu tentang konsep dirinya.

4. Penampilan

Photo by IDN Times

Photo by IDN Times via https://www.idntimes.com

Penampilan akan menambah kepercayaan diri bagi remaja. Penampilan menjadi hal utama dalam pandangan orang lain terhadap kita. Remaja akan mempercantik dirinya melalui penampilannya. Penampilan pada remaja juga terpengaruh dari pergaulannya. Jika memilih pergaulan yang baik, remaja akan bepenampilan mengikuti pergaulannya. Remaja akan menyesuaikan pakainnya seperti teman sebayanya.

Pakaian yang dikenakan pada remaja akan menjadi konsep dirinya baginya. Remaja cenderung mengikuti fashion yang sedang trendi pada masanya, tetapi tidak semua individu mengikutinya. Ada juga individu yang tidak memperdulikan penampilannya. Hal tersebut juga akan menjadi konsep dirinya. Melalui penampilan akan membentuk kepribadian diri bagi setiap individu.

5. Harga Diri

Photo by Kesekolah

Photo by Kesekolah via http://www.kesekolah.com

Harga diri juga berperan dalam terbentuknya konsep diri. Harga diri juga menjadi bagian dari identitas diri. Perilaku dan sikap setiap individu akan menjadi harga dirinya. Harga diri juga menjadi faktor penting dalam kepribadian diri seseorang. Biasanya harga diri yang dimiliki remaja berbeda-beda.

Pembentukan konsep diri pada remaja sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor diatas. Remaja yang dianggab sebagai masa kelabilan, memang sangat memerlukan perhatian khusus dari orang tuanya. Orang tua sangat menghindari pergaulan yang negatif terhadap anaknya. Sikap dan perilaku anak juga dipengaruhi oleh bimbingan orang tuanya. Selain itu, lingkungan pertemanan dan pergaulan juga sangat berpengaruh terhadap pembentukan konsep diri pada remaja.

Masa remaja menjadi masa untuk mencari identitas diri yang sebenarnya. Melalui pergaulan, orang akan mudah memberikan pandangan terhadap individu. Perilaku masa remaja dikenal banyak yang menyimpang seperti, tawuran, bullying, dan kenakalan remaja lainnya.

Maka dari itu, perhatian orang tua sangat diperlukan untuk membimbing anaknya agar tidak salah dalam memilih pergaulan. Kemudian penampilan baik gaya fashion dan make up pada remaja perempuan juga akan menjadikan identitas dirinya. Orang lain akan lebih mengenalnya melalui penampilan yang kita kenakan. Pandangan dari orang terdekat maupun orang lain terhadap kita akan membentuk konsep diri. Faktor-faktor tersebut menjadi pengaruh besar dalam pembentukan konsep diri pada remaja.

Referensi

Rahayu, A. (2018). Hubungan dukungan sosial dan konsep diri dengan penyesuaian diri remaja kelas X SMA Angkasa I Jakarta. IKRA-ITH HUMANIORA: Jurnal Sosial Dan Humaniora, 2(2), 75-81.

Saraswatia, G. K., Zulpahiyana, Z., & Arifah, S. (2015). Faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri remaja di SMPN 13 Yogyakarta. Jurnal Ners dan Kebidanan Indonesia, 3(1), 33-38.

Wood, Julia. T (2013). Komunikasi Interpersonal: Interaksi Keseharian (Edisi 6). Salemba Humanika: Jakarta.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE