Pilih Kertas Atau Gawai?

Ketika era di perhadapkan dengan dua pilihan teknologi yang berbeda-beda.

Zaman sekarang tak jarang orang sudah mengenali adanya canggihnya teknologi. Mulai dari anak-anak yang pintar memainkan permainan di gawai milik orang tua, buku pelajaran siswa yang tidak banyak lagi dibaca, sampai mahasiswa mencatat bahan semua materi pelajarannya menggunakan rekaman atau dipotret satu genggaman saja.

Bahkan, kita juga sering melihat dan menyadari berkurangnya penggemar kertas zaman sekarang. Perubahan demi perubahan aspek budaya masyarakat kini memang sudah menjadi kontroversial, sebab gawai sudah membiuskan kita sebagai pengguna internet tertinggi dari seluruh dunia.

Bagaimana dengan kita? Beberapa masalah digitalisasi membuat kita semakin cepat dan semakin menghemat waktu. Entah sebab apa, mungkin faktor kemalasan juga menyebabkan kita cepat berpenat diri sehingga lebih memiilih gawai dibandingkan kertas.

1. Apakah Benar Tulis Tangan Itu Membuat Kita Lambat Untuk Mencerna Ilmu?

Advertisement

Jadi begini, otak kita mengalami dua proses kognitif berbeda ketika melakukan kegiatan menulis dan mengetik. Dalam eksperimen penelitiannya Pakde Pam dan Pakde Oppenheimer, mereka mengambil beberapa mahasiswa sebagai sampel dan membaginya menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama disuruh mengikuti kuliah dengan mencatat di gawai laptop, sementara kelompok lainnya menggunakan kertas dan pena secara kuno.

Setelah diamati, mereka menemukan bahwa mahasiswa yang mengetik dengan gawai akan mengetik apapun yang dikatakan sang dosen. Secara mentah-mentah, semua yang mereka dengar akan diketik bulat-bulat begitu saja. Tentu ini bukan hal yang sulit, karena laptop atau handphone sangat mudah untuk dipakai mengetik banyak kata-kata dalam waktu singkat.

Advertisement

Dari eksperimen ini, dapat dianalisis bahwa para mahasiswa hanya sekedar mentranskrip apa yang mereka dengar. Sama sekali tidak ada proses kognitif, tidak ada proses mencerna atas apa yang mereka dengar. Boleh jadi mungkin para mahasiswa itu tidak paham apa-apa dengan yang mereka dengar, dan berharap catatan yang mereka buat akan cukup untuk menjadi bahan belajar di rumah.

2. Catatan yang Lebih Panjang Bukan Berarti Lebih Baik

Catatan yang Lebih Panjang

Catatan yang Lebih Panjang via http://vybor.ua

Mungkin kamu tidak setuju dengan penjabaran barusan. Mungkin kamu akan berkilah:

“Kalau nyatet di gawai bisa lebih banyak dan lengkap, kalau nyatet di kertas suka ada yang kelewatan. Apalagi kalau motret tulisan di papan tulis atau cukup unduh materi dosen di portal, itu udah paling lengkap!”

Hmm, baiklah. Kita memang tidak bisa berbuat banyak kalau memang sistem pendidikan di perguruan tinggi memanjakan kita dengan modul materi kuliah instan di portal online.

Tapi percayalah kawan, kalau kamu punya kesempatan untuk mengikuti kuliah secara live, bertemu dosen yang seratus persen hidup di depan matamu, lebih baik kamu manfaatkan kesempatan itu dengan maksimal. Kamu bisa berbincang secara langsung dengan dosen, atau sekedar mencatat di kertas secara teliti.

Masih berhubungan dengan penelitian Pakde Oppenheimer, eksperimen berikutnya adalah: dua kelompok mahasiswa yang tadi disuruh mencatat dengan kertas dan laptop, seminggu kemudian diberikan ujian yang persis sama. Hasilnya? Dapat ditebak, mahasiswa yang mencatat dengan tangannya mendapat hasil yang lebih baik. Kenapa bisa begitu? Karena menurut oppenheimer, kegiatan menulis tangan memberikan manfaat mengingat yang lebih efektif atas dua faktor berikut:

Konteks: dengan menulis tangan, kamu ingat akan konteks proses menulis saat mendengar ucapan dosen. Kamu ingat bagaimana emosi yang kamu dan dosenmu rasakan saat kuliah berlangsung dan seperti apa kesimpulan dari pelajaran itu di benakmu.

3. Gawai, adalah Sumber Distraksi yang Sangat Besar!

Kalau hal ini bisa terjadi, bagaimana reaksi kalian?

Eh, gebetan gw ngajak ketemuan di kantin, nih! Ah, kasih kabar saja kalau aku sedang sibuk kuliah!

Eh, teman gw resek juga yah. Ngajakin main game pas jam kuliah gini. Waduh, siapa nolak sih!

Meskipun gw jauh dari orang tua, setidaknya gw kasih tahuinlah kalau gw baik-baik aja di sini.

*lanjut ke chat media sosial

Faktanya guys, menurut penelitan Helene Hembrooke dan Geri Gay dari Human Computer Interaction Laboratory, Cornell University, 40 persen waktu di kelas seringkali dihabiskan mahasiswa untuk berkutat dengan hal non-belajar seperti ini. Hal-hal tidak produktif semacam chatting, lihat sosmed, update status, nonton YouTube, dan kegiatan selancaran di dunia maya lainnya, akan mendistraksimu dari proses kognitif yang seharusnya kamu jalani di kelas.

Harus lebih fokus lebih ke dosennya supaya tidak tertinggal materi kuliah.

4. Meskipun Pengguna Kertas Lebih Sedikit dari Pengguna Gawai. Tapi Buku Adalah Teknologi Paling Canggih.

Bukannya menggunakan spreadsheet atau aplikasi ponsel yang canggih, pendiri firma komunikasi Flourish PR yang berbasis di Melbourne, Australia, ini menggunakan buku tulis, buku harian model lama, pulpen berwarna dan setumpuk majalah. Dengan ini semua, dia mencari ilham, membuat daftar dan menciptakan papan visi.

Ceberano bukanlah seorang yang fobia teknologi (technophobe). Ia lahir di masa teknologi digital dan aktif di sosial media. Dia membagi waktunya antara media tradisional dan yang baru, antara Australia dan San Fransisco, tempat klien-klien perusahaan perintisnya berada. Untuk beberapa tugas, dia lebih memilih kesederhanaan, fleksibiltas dari kertas dan karena kertas dapat diraba.

"Terkadang, saya hanya ingin menghilangkan semua teknologi dan hanya duduk di tempat sunyi dengan sebuah pena dan kertas", katanya. "Ada banyak aplikasi di luar sana dan saya merasa tidak ada aplikasi yang memberikan apa yang saya butuhkan. Saya berusaha dan benar-benar mencoba aplikasi yang ada, mengerjakan daftar pekerjaan atau membuat daftar prioritas atau mencari ilham menggunakan banyak aplikasi berbeda….[namun] ketika saya menggunakan pena dan kertas, atau saat saya menggunakan buku harian lama saya dan pena, saya merasa lebih fleksibel. Saya selalu bisa menyelesaikannya. Saya dapat fokus," kata Ceberano.

Dia tidak sendiri. Pemindaian singkat di media sosial memperlihatkan tren kembali ke penggunaan alat tulis. Banyak orang menulis kursif dan mewarnai untuk membantu mereka mengatur hidup atau mencapai tujuan tertentu baik itu kesehatan, keuangan atau membantu karir mereka. Dan meski aplikasi berkembang cepat, ide kembali ke dasar telah mendapatkan popularitas di internet.

5. Maraknya Gawai Terhadap Kesehatan Manusia

The IMF Blog

The IMF Blog via https://blogs.imf.org

Akan tetapi buku sendiri kelihatannya tidak akan menghilang sepenuhnya, paling tidak untuk waktu yang segera. Seperti halnya cetakan kayu, film yang diproses tangan dan tenunan masyarakat adat, halaman hasil cetakan dapat memiliki nilai kerajinan tangan atau seni. Buku yang ditujukan untuk dilihat bukannya untuk dibaca seperti katalog seni atau koleksi untuk dipajang di meja sangat mungkin masih akan tetap muncul dalam bentukan cetakan.

“Saya kira buku cetak hanya untuk membaca saja akan, dalam 10 tahun dari sekarang, menjadi hal yang tidak biasa,” kata Shatzkin menambahkan. “Bukan begitu tidak biasanya sehingga anak-anak mengatakan, ‘Bu, apa itu?’ tetapi tidak biasa dalam artian di kereta api kita hanya akan melihat satu dua orang membaca buku cetak, sementara yang lainnya semua membaca dari peranti.”

Shatzkin percaya bahwa akhirnya bentuk cetak akan sepenuhnya menghilang,”Meskipun saat itu tidak akan tiba dalam 50 atau 100 tahun lagi. “Saat itu akan lebih sulit untuk memahami mengapa ada orang yang mau mencetak sesuatu yang berat, sulit untuk dikirim dan tidak bisa diubah dan disesuaikan,"katanya.

Saya rasa akan ada titik di mana bentuk cetak tidak masuk akal lagi. Dan sebenarnya, saya sudah mencapai titik itu untuk buku-buku yang hanya kita baca.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Lahir sebagai manusia penulis dasar.

CLOSE