1. Pemberangkatan yang Panjang Menggunakan Tiga Moda Transportasi : Darat, Udara dan Laut

Pemandangan di Perjalanan dari Bali Menuju Lombok

Pemandangan di Perjalanan dari Bali Menuju Lombok via http://sitisetianing.blogspot.com

Menuju ke Lombok dari Jakarta memang bisa langsung menggunakan pesawat terbang. Tapi berhubung perjalanan ini mengangkut satu angkatan yang berjumlah kurang lebih 460 mahasiswa, maka perjalanan panjang yang memakan waktu kurang lebih sehari ini pun menjadi pilihan. Dari kampus, bis mengantar kami ke Bandara Soekarno-Hatta. Setelah itu kami terbang ke Bandara Ngurah Rai dan tiba di Bali pada tengah malam tepat. Setelahnya langsung moving ke Pelabuhan dan naik kapal laut menuju pelabuhan Lembar. Menghabiskan waktu seharian bersama anak-anak sekelas, naik kapal setelah sekian tahun belum pernah lagi menaikinya, menikmati pemandangan pulau-pulau yang terhampar di sepanjang perjalanan menambah sensasi asyik tersendiri dari perjalanan ini.

2. Masyarakat Lombok : Ramah dan Terbuka

Baruga Lombok yang selalu ada hampir di setiap rumah

Baruga Lombok yang selalu ada hampir di setiap rumah via http://www.infolombok.net

Sehari setelah tiba di Mataram, kami diarahkan ke tempat tugas masing-masing. Saya sendiri ditempatkan di kecamatan Batu Layar, Lombok Barat dengan wilayah kerja di Desa Meninting. Tapi kami tinggal di desa Sandik bersama seluruh tim Batu Layar. Pertama kali melaksanakan tugas, saya sempat salah wilayah karena masih belum mampu mengenali batas wilayah kerja. Tapi syukurnya, masyarakat Lombok adalah masyarakat yang ramah dan terbuka terhadap pendatang. Saya diterima dengan baik saat melakukan listing rumah tangga meskipun ada beberapa penduduk yang kurang bisa berbahasa Indonesia. Saya bahkan sempat diberi uang seribu rupiah lantaran dikira mau minta sumbangan oleh seorang nenek yang tidak bisa bahasa Indonesia. Tapi untungnya, anaknya datang dan menjelaskan. Si nenek malah senyum-senyum.

Yang paling saya suka sebenarnya adalah adanya baruga di hampir setiap rumah yang ada di Meninting. Budaya masih dipeluk erat, kekeluargaan masih sangat terasa. Rasanya seperti pulang meski bahasanya sama sekali tak bisa saya mengerti.

3. Pelecing Kangkung dan Cwi Mie

Pelecing Kangkung

Pelecing Kangkung via http://www.makanajib.com

Masalah sarapan dan makan malam, panitia PKL sudah menyiapkan katering prasmanan lezat yang selalu sudah siap saat kami mau berangkat maupun saat pulang listing dan nyacah. Tapi soal makan siang, kita diberi hak veto untuk mengatur sendiri mau makan apa hari ini. Hari pertama listing, saya coba memesan menu Pelecing Kangkung yang terdengar baru di telinga. Jadi, Pelecing Kangkung adalah salah satu makanan khas Lombok yang terdiri atas sayuran, kelapa dan sambal khas yang dimakan dengan tangan. Rasanya? Rasa kangkung. Hehe. Tapi teman-teman saya banyak yang ketagihan. Mungkin kamu bisa mencobanya sendiri suatu hari nanti ketika berkunjung ke Pulau Lombok. Selain Pelecing Kangkung, salah satu tempat makan favorit kami adalah Warung Cwi Mie yang ada di depan Masjid Desa Meninting. Cwi Mie adalah semacam Mie Ayam yang saya baru pertama kali nemu di Lombok. 

4. Negeri Seribu Masjid

Selain karena keindahan Tiga Gili-nya, Lombok juga terkenal dengan sebutan negeri seribu masjid. Benar saja, kemana pun kaki melangkah tidak akan sulit menemukan masjid. Ukurannya besar-besar pula. Salah satu masjid yang paling sering saya kunjungi adalah Masjid Desa Meninting, yang sering kali kami jadikan basecamp saat istirahat shalat dzuhur maupun ashar. Sayang, saya lupa mengabadikan gambar masjid bersejarah dan berjasa itu. 

5. Gili Trawangan dan Sejuta Makhluk Asing di Dalamnya

Gili Trawangan yang berair jernih

Gili Trawangan yang berair jernih via http://sitisetianing.blogspot.com

Tidak dapat dipungkiri lagi, Gili Trawangan dengan pesonanya yang mendunia telah mampu menarik begitu banyak wisatawan mancanegara untuk datang berkunjung. Sejak awal kedatangan kami di pulau berair jernih ini, pandangan kami sudah disambut oleh turis-turis berkulit putih dan berbikini. Rasanya seperti berkunjung ke negeri orang ketika jumlah pribumi yang berjalan-jalan di sekitar pulau jauh lebih sedikit dibanding turis asing. Saya memutuskan untuk berkeliling pulau dengan sepeda setelah puas menikmati pemandangan apik yang ditawarkan oleh pulau ini. Berfoto-foto ria, berpijak di pasir pantai yang putih dan lembut, menikmati suasana pantai yang berangin di siang hari. Jadi berasa wisatawan asing yang sedang berjemur meskipun kulit memang sudah cokelat dari lahir.

 

Pada akhirnya, perjalanan PKL berakhir manis karena kedua tujuan berhasil terpenuhi. Baik tugas untuk terjun langsung ke masyarakat yang membuat saya makin kaya pengalaman dan pengetahuan, saya sebut itu sebagai wisata budaya. Maupun wisata alam yang dipenuhi oleh keindahan Gili yang berair jernih.

Sekarang saya sudah kembali ke Jakarta, semoga saja apa yang saya dapatkan selama PKL di Lombok dapat bermanfaat bagi kehidupan saya di masa yang akan datang. #IniPlesirku , mana plesirmu? :)

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya