Mungkin aku memang sedang tidak sepakat dengan perasaan. Aku mengagumi yang seharusnya tidak kukagumi. Aku pun sering berpikir bahwa kau seharusnya tidak di sini. Tapi aku sadar, di pertemuan kita yang terakhir, kita lupa menyusun aturan main bahwa jika satu rasa diabaikan, yang lain harus belajar untuk melupakan.

Memang sakit, tapi akan lebih sakit jika dijalani dengan hampanya perasaan, karena antara kau dan aku hanya berputar pada cinta #BertepukSebelahTangan.

1. Dulu aku yang pergi, sekarang giliranmu. Kupikir kita sudah melupakan permainan itu

Kedua kakiku sudah menapak ke tanah milyaran kali. Terkadang mereka hanya berdua, terkadang bersama kaki-kaki lain. Mungkin sudah ada jutaan pasang kaki yang menemaniku menelusuri semesta di atas tanah milik Sang Pencipta ini. Padahal kau tahu sendiri, inginku hanya berkelana bersama kedua kakimu, sekali saja.

Advertisement

Kini setelah jutaan detik aku pergi, kutahu aku harus kembali ke rumah. Awalnya kukira kau bukan rumah, ternyata aku salah.  Kau lebih dari itu. Kau adalah tempat penyimpanan semua kisah manis dan pilu di masa laluku.

Kata mereka aku telah dibutakan cinta. Namun siapa yang bisa menjamin bahwa cinta memang benar-benar buta? Aku bisa melihat bayanganmu di sana, meski kau berdiri di antara orang-orang yang berlalu-lalang. Di saat yang sama, suaraku terus memberontak ingin keluar. Untung bibirku masih kuat untuk menahan. Pernah sekali kucoba memanggilmu, tapi kau tidak pernah melihat ke arahku.

2. Dengungan tentangmu sudah memakan konsentrasiku pagi ini, lalu apa? Haruskah kubiarkan semua itu terjadi?

Saat matahari mengintip di atas horizon di timur, aku mendapati kepalaku dihiasi awan abu-abu. Sinar sang surya yang menembus jendela kamarku tidak berhasil menepisnya sedikit pun.

Advertisement

Otakku memerintah anggota tubuh yang lain untuk merapatkan kedua telapak tangan, memohon keajaiban pada Sang Kuasa. Sisi kecil di hatiku mendengar, Tuhan memintaku untuk meminjam tatapan hangatmu demi menepis kepulan awan abu-abu yang datang pagi itu.

3. Kata mereka, penikmat senja adalah orang-orang yang bingung menempatkan rasa. Harus kuakui, aku memang berteman dekat dengan senja

Matahari mulai tenggelam. Ada yang tidak ikut tenggelam bersamanya, yakni rindu dan rasa. Hadiah senja kali ini berbeda untukku. Rasa dan rindu hampir saja membunuhku. Mereka mendominasi seluruh jaringan saraf otakku, lalu menusuk masuk ke bilik jantungku. Bagaimana aku bisa menikmati perjalanan esok di bawah langit biru?

Rindu… pergilah sebentar, biarkan aku berkabar ketika hati ini telah siap menahanmu dengan sabar.

4. Paling menyakitkan ketika hujan berkunjung, aku masih terus menyimpan rindu yang tak berujung

Tarian waktu rasanya begitu cepat membawaku ke saat-saat di mana matahari pamit pergi. Bangku kayu di depan rumah memohon untuk ditemani. Ia basah tertimpa rintik hujan sore ini. Aku duduk di sana. Kupikir kau pun ada.

Lalu sadarku muncul ke permukaan, kau jauh di sana tertawa bersama angin lalu. Kusadari keberadaanmu ada di luar lingkaran  hidupku. Di detik yang sama, kusadari bekas rintik hujan di bangku depan membuatku tidak nyaman, membuatku ingin pergi, bertolak masuk ke rumahku yang gelap dan berdebu.

Aku mengintip dari jendela, kembali gagal menghitung rintik hujan yang turun ke bumi. Setiap titik yang jatuh ke tanah mewakili satu sel rindu yang tumbuh. Aku benci itu.  Padahal, aku masih ingat agungnya setiaku menunggu hujan, kuatnya dambaku menyambut dan menari di bawahnya. Bagaimana tidak, aku belum pernah melihat sesuatu yang begitu sempurna, selain melihatmu berdiri di balik tirai hujan.

Sayang, musim hujan kali ini berbeda. Hujan terus menyirami biji rindu yang menjadi inti selku. Bukan hanya itu, ia juga menghujam kedua mataku hingga menjadi buta.  Sekarang, bagaimana aku bisa melihatmu dengan jelas?

5. Setelah senja berkunjung bersama hujan, malam menyapaku dengan perih, seperih rasaku yang entah sampai kapan diabaikan olehmu

Saat malam semakin larut, aku sadar ia tidak melarutkan apa-apa. Tidak dengan rasa, tidak dengan rindu. Anganku kembali ke waktu lalu, saat kita belum sama-sama membisu.

Waktu itu jemari telatenmu memetik gitar. Bagian kecil di hatiku bergetar seiring petikanmu pada senar. Ah, waktu itu aku terlalu jauh terpana,  hingga lupa menanyakan nada mana yang kau cipta. Padahal bisa saja nada-nada itu kupelajari, lalu kujadikan pil pengobat hati untuk menemani hari dan diri.

Namun kali ini biar kuberitahu sebuah rahasia, tentang aku yang berteman dengan sepi tidak pada malam saja. Andai kau beri aku kesempatan sekali lagi, akan kuceritakan tentang semua sembilu penyayat hati. Aku butuh ciptaan Sang Esa sepertimu menemaniku mengukir kembali mimpi yang kubangun jauh-jauh hari, sebelum aku menjadi seperti hari ini, enggan bertemu mentari di pagi hari.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya