Rasanya Tiap Tahun Nggak Lagi Ditanya Kapan Nikah sama Saudara, tapi Ibu Sendiri Malah Iya!

Kapan nikah, kak?

Sebagai seseorang yang pelupa (plus bodo amatan sih lebih tepatnya), saya sering banget melupakan momen ulang tahun seseorang. Duh, jangankan ulang tahun teman, kadang ulang tahun sendiri aja bisa lupa. Hari-hari penting yang saya ingat ya cuma dua. Pertama hari bayar semua tagihan (hadeeeh!) dan kedua, hari gajian.

Namun tiga tahun belakangan ini sungguh berbeda. Seperti ada “alarm” yang selalu mengingatkan saya pada momen pertambahan usia. Yup! Tiga tahun belakangan ini, ada yang rajin banget ngingetin kalau pas momen pertambahan usia. Biasanya via pesan Whatsapp yang diakhiri dengan kalimat,

“Jadi kapan mau menyempurnakan diri sebagai umatnya Nabi? Hayo, udah 25+ ini lho!”

1. Kalau yang lain kzl karena diberondong pertanyaan kapan nikah sama saudara, saya justru sebaliknya~

Photo by Agung Pandit Wiguna from Pexels

Photo by Agung Pandit Wiguna from Pexels via https://www.pexels.com

Advertisement

Mungkin saya termasuk satu dari sekian juta orang yang bisa terbebas dari pertanyaan kapan nikah dari saudara di umur 25+ ini. Lega sih, tapi ya yang namanya saudara ada aja celahnya untuk mengorek informasi yang harusnya sih jadi privasi. Maaf sebelumnya, bertahun-tahun ini, saudara saya sudah nggak pernah lagi nanyain kapan nikah ke sana. Mungkin karena bosan, mungkin juga udah lelah dengan saya yang selalu nggak pernah serius jawab pertanyaan.

Nah sekarang, saudara-saudara yang luvly tapi nyebelin ini lebih senang nanyain soal pekerjaan. Gajinya berapa, udah berapa lama di sana, resign, sampai masih lho pada usaha nyuruh saya jadi PNS aja. Apalagi mau Lebaran nih ya. Pasti, pastiiii ada saja yang membandingkan isi “salam tempel” saya dengan yang lainnya. 

Tapi nggak apa-apa. As long as mereka nggak nanya-nanya terus soal kapan nikah ke saya, saya bisa sedikit bernapas lega.
 

Advertisement

2. Nah ini nih yang tiga tahu belakangan justru makin gencar bertanya kapan nikah. Yes guys, Mama saya sendiri!

Photo by Edu Carvalho from Pexels

Photo by Edu Carvalho from Pexels via https://www.pexels.com

Dibesarkan di keluarga yang nggak sekonservatif dulu membuat saya bernapas lega. Kenapa? Soalnya saya dibebaskan untuk menjadi apa yang saya inginkan. Plus diberi seluas-luasnya kesempatan untuk mencoba banyak hal. Tapiiii, sebagai nahkoda dan pengatur keuangan keluarga, Mama mensyaratkan dua hal yang harus ditaati anak-anaknya. Pertama, kuliah harus kelar. Kedua, (ini nih yang belum juga saya lakukan) menyempurnakan diri dan agama dengan menikah.

Kalau kuliah, hamdalah sih sudah saya tamatkan kurang lebih empat tahun yang lalu. Nah yang kedua ini nih yang masih bandel. Apalagi sebagai anak terakhir, perempuan lagi, Mama makin “gencar” ngingetin kalau usia saya harusnya nggak main-main lagi.

3. Meski tiap tahun dapat Whatsapp soal penyempurnakan diri sebagai umat Nabi, alasan di baliknya justru bikin saya mencelus dan berpikir berulang kali

Advertisement
Photo by Ekrulila from Pexels

Photo by Ekrulila from Pexels via https://www.pexels.com

Pernah suatu kali saya iseng bertanya soal Mama yang ngebet banget nyuruh saya segera menyempurnakan agama. Jawabannya yakin deh, bikin anak nyebelin ini (saya maksudnya) bisa mimbik-mimbik dan berurai air mata.

Kata beliau, “Supaya kamu nggak lupa, kalau usiamu bertambah tiap tahunnya. Bukan cuma usiamu, tapi usia Mama juga. Dan Mama nggak tahu mau sampai kapan hidup di dunia. Makanya Mama cerewet banget soal ini. Biar Mama masih bisa lihat kamu menemukan jodohmu, pun gendong anak-anakmu.”

Duh Gusti, siapa yang nggak luluh kalau mendengar jawaban seperti ini?

4. Akhirnya saya mencari jalan tengah. Menempa diri sih tetap jalan, cuma kali ini sambil membuka hati pelan-pelan

Photo by Garon Piceli from Pexels

Photo by Garon Piceli from Pexels via https://www.pexels.com

Kalau dipikir berulang kali, ada benarnya juga sih jawaban Mama ini. Dari dulu saya selalu melihat dari sudut pandang diri sendiri dan nggak sekalipun memikirkan Mama yang sudah semakin tua ini. Jadi, win-win solution-nya adalah saya masih bisa tetap kesana-kemari, mencoba hal-hal baru dan menempa diri. Tapi, sedikit demi sedikit (atau mau tak mau ya?) hati juga perlu dibuka. Hal ini jelas perlu waktu dan koordinasi antara otak dan hati. 

Andai mereka bisa bicara mungkin otak dan hati akan bernegosiasi seperti ini:

Hati: belum siap aku tuh untuk menerima yang baru. Kenangan sama yang lama masih tersimpan rapi. Tiap malam juga kamu re-call lagi~

Otak: hm…mau sampai kapan sih begini? Tunggu aja ya kalau sampai dia yang baru datang, trus kamu elu-elu setengah mati 😐

5. Dan ya sekarang nikmati saja ditanya kapan nikah tiap tahunnya. Toh yang nanya Mama ini, bukan saudara-saudara yang sekadar basa basi

Photo by Agung Pandit Wiguna from Pexels

Photo by Agung Pandit Wiguna from Pexels via https://www.pexels.com

 

Dear Mama yang kalau-kalau membaca tulisan ini, mohon lebih tenang ya. Anaknya sedang berusaha. Ya berusaha beliin rumah, ya berusaha memperbaiki diri demi datangnya sosok yang selama ini dicari. Hobinya ngumpulin undangan nikahan yang lucu-lucu boleh lho dilanjutin. Kebiasaan update harga gedung juga ndakpapa dilakuin.

Asal jangan lupa bahagia ya Ma. Jangan lupa juga namatin drama Koreanya. Lagi seru tuh jalan ceritanya :'(((

Lots of love,
Si bungsu yang nyebelin tapi ngangenin

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Not that millennial in digital era.

Editor

Not that millennial in digital era.

CLOSE