Lebaran sudah ada di depan mata. Persiapan mulai dari kue-kue, baju, sampai kondisi kendaraan untuk mudik sudah dilakukan. Tanda-tanda telah akan datangnya lebaran bisa kita lihat tidak hanya dari jalan raya yang mulai padat akan kendaraan-kendaraan luar kota, tapi lihat saja di TV, sepanjang iklan Marjan mulai menampilkan anak-anak berbaju koko putih bersalaman maka tanggal merah idul fitri tinggal beberapa jengkal lagi. Lebaran sangat familiar dengan mudik. Tradisi pulang kampung yang dilakukan masyarakat Indonesia untuk sungkem dan mengikat tali silaturahmi dengan keluarga besar di kampung halaman. Tapi, kalo kita memandang sebuah momen yang kita sebut dengan "lebaran" lebih bervarian, apakah yang kita dapat? 

1. Pulang kampung, uang dari kota turun ke desa.

Mudik dari kota via https://www.purwakananta.com

Well, sebenarnya ide penulisan gagasan diatas bermula waktu gue melihat penjual nasi pecel di sebelah rumah gue. Setiap lebaran gue melihat si mbok pasti berbunga hati lantaran nasi pecelnya laris manis diserbu orang-orang kota yang berhenti sejenak. Tak hanya laris oleh orang kota yang berhenti, setiap gue mau beli pasti gue mendengar orang pesen belasan bungkus untuk keluarga dan tamunya di rumah.

Melihat kesuseksan si Mbok Bibit, penjual pecel, guepun berpikir bagaimana hebatnya effek lebaran yang belum pernah terpikir sebelumnya. Yah, walaupun terdengar sepele, tapi gagasan uang yang turun ke desa tampak memberikan kita perspektif baru tentang momen lebaran. Bayangkan jika momen lebaran dilakukan berkali-kali dalam satu tahun. Pasti uang dari perkotaan akan terus mengalir ke pedesaan, sehingga aliran uang bisa menyebar luas dan rata di seluruh daerah Indonesia.

Di Jakarta, kota yang menjadi pusat segala pengindustrian, uang mengalir dengan kental, menyebabkan harga-harga menjadi tinggi. Jika pemerataan aliran uang bisa lebih luas dan tak hanya mengendap di ibukota, maka gue berpendapat ekonomi Indonesia mungkin akan lebih berimbang. Pernah suatu ketika Bu Kamti, guru bahasa jawa SMP gue, bercerita kalo di Ibukota saja nyalon bisa habis 3 juta, uang yang sama dengan gajinya untuk satu bulan. Di Jakarta 3 juta bisa habis nggak ada 1 jam hanya buat ukrik-ukrik rambut, di kampung gue 3 juta bisa buat beras, sayur-mayur, lauk-pauk dan segala kebutuhan untuk satu bulan. Isn't it so awful ?

2. Pratinjau lebih jauh

Advertisement

Jakarta dan kepadatannya via http://mansurhafiz.com

Kalau kita menilik lebih luas, pemadatan ekonomi di Jakarta juga karena Jakarta adalah pusat industri, pusat pemerintahan, pusat hiburan, pusat dari segala pusat. Namun pernahkan kita berpikir kalau terlalu berat untuk Jakarta untuk menjadi pusat segala hal di negara Indonesia yang sangat luas ini?

Saat searching beasiswa di Australia, gue pernah membaca kalau di Australia ada pembagian pusat-pusat tertentu di berbagai daerah, tidak hanya di-tumplek blek-kan ke ibukotanya saja. Contohnya di Canberra dijadikan pusat pemerintah, di Sydney jadi pusat industri, Melbourne pusat budaya, dan kota-kota lainnya. Tidak seperti di Indonesia, dimana pemusatannya hanya berpusat di Jakarta saja. Enggak heran banyak daerah yang ingin melepaskan dari Indonesia lantaran kecemburuan perekonomian ini.

Jadi kalau kita hubungkan bagian pertama tentang turunnya uang kota ke desa dan bagian terakhir tentang pemerataan perekonomian, terlihat bagaimana luar biasanya berkah Idul Fitri yang dapat membebaskan perputaran uang di suatu negara. Pada titik ini mata gue terbuka kalau lebaran memang hari kemenangan untuk seluruh masyarakat.

3. Bulan Ramadhan datang, kreativitas pun datang.

Mulai dari iklan sirup sampai iklan sarung via https://www.youtube.com

Gue sebagai anak rumahan dan jarang keluar, tv sudah menjadi bagian dari idup. Yah gue tau nonton tipi emang gak baik buat otak, tapi darisanalah gue dapet ide bikin tulisan ini. Well, kalo yang pertama gue terinspirasi dari penjual pecel sebelah rumah gue, yang kedua gue terinspirasi dari iklan-iklan di TV. Well, entah cuman gue atau keluarga gue, tapi kalau kalian perhatikan di TV, pernahkah kalian menyadari kalau iklan-iklan waktu Ramadhan akan menjadi lebih bervariasi, lucu dan menarik buat dilihat ? Enggak usah jauh-jauh, kita tilik aja awal tulisan gue tentang iklan Marjan. Yah, di iklan Marjan pasti kita disuguhkan iklan dengan cerita yang bersambung dan anehnya kita selalu penasaran dengan kelanjutannya. Yang menarik ceritanya kadang dikemas dengan kreatif. Contohkan saja iklan Marjan di tahun ini yang bercerita tentang persaingan anak-anak penabuh bedug dengan anak-anak pemain drumband, yang endingnya mereka malah mengkombinasikan antara kedua genre musik itu. Drumband dan bedug. Hmm …bukankan ini sesuatu yang sooo creative?

4. Iklan-iklan kreatif

Iklan Hap Axis via http://www.ekomarwanto.com

Iklan kreatif lainnya yang sering sliweran di ramadhan adalah iklan kartu perdana. Yah, dengan mengemas sponsor dengan begitu unik merekapun berlomba-lomba menjajakan produk mereka di waktu ramadhan melalui paket-paket tertentu. Enggak jarang merekapun membuat cerita yang atraktif yang kadang nggak nyambung dengan produknya, tetapi lucunya tetap enak untuk disimak. Contoh saja cerita Hap di iklan Axis, yang bercerita perjuangan seorang bocah berbadan besar untuk menjadi penjaga gawang. Entah lantaran ceritanya, aktornya, atau produknya, tetapi iklan ini benar-benar dapat menyedot berbagai perhatian dan pernah menjadi viral di media sosial lantaran sering masuk dalam komik meme.

5. Banner-banner kreatif

Spanduk mudik kocak. via https://www.youtube.com

Menjauh dari sisi pertelevisian. Kekreativanpun bisa kita lihat di sepanjang jalan raya. Kalian dapat melihat banner dan spanduk berwarna-warni dengan desain-desain kreatif yang berisi tentang penyambutan lebaran. Kadang kitapun bisa melihat kata-kata lucu yang menyampaikan pesan hati-hati berkendara mudik yang bisa untuk hiburan. Enek-enek wae.

6. Kue lebaran kreatif

Kue lebaran unyuk! via http://id.priceaz.com

Kita buka sisi lain kreatifnya orang-orang di waktu lebaran, kali ini di sisi kuliner. Setiap kali gue sungkem ke rumah orang mewah di kampung gue, gue selalu mendapati mereka menyuguhkan kue-kue lebaran yang lucu-lucu. Berbagai varian kue dan jajan yang enggak pernah gue lihat di luar lebaran. Mulai dari kue-kue yang menyerupai binatang, berwarna pelangi sampai yang rasanya asing di lidah. Disini terlihat pembuat-pembuat kue berlomba-lomba menunjukkan bakat kreatif mereka kualitas produk mereka. Luar biyasah!

Sebenarnya masih banyak sisi kreatif orang Indonesia yang diungkapkan di momen lebaran, tapi cukuplah ketiga contoh itu membuat kita tahu bahwa sebuah momen lebaran bisa menyalakan ide baru di berbagai bidang dalam meningkatkan kualitas produknya. Di titik ini mata gue terbuka bahwa arti lebaran membuka lembaran baru bukan hanya mengenai amalan semata, tapi juga tentang inovasi.

Itulah perspektif baru yang gue dapatkan tentang lebaran. Tapi, kalau kita jeli dan kritis sebenarnya banyak sekali sisi lain yang dapat kita petik dari momen lebaran. Suatu sisi yang bisa kita kaitkan sehingga mendapatkan suatu pemahaman baru. Pemahaman yang menyadarkan kita bahwa Idul Fitri sebagai perayaan penuh berkah benar-benar hari penuh berkah di segala sisi.