Nama Ika Natassa jelas bukan nama yang asing bagi penikmat karya fiksi di Indonesia. Pengarang novel berdomisili Medan yang berhasil bikin pembacanya, terutama kaum hawa, geregetan dengan tokoh-tokoh utamanya ini memang sudah menerbitkan banyak novel yang selalu melejit! Mulai dari Underground, A Very Yuppy Wedding, Divortiare, Antologi Rasa, Twivortiare, Critical Eleven, hingga yang terbaru yakni The Architecture of Love.

Semuanya selalu menghadirkan cerita-cerita yang banyak ditunggu pembaca. Ulasan soal novel Ika di Goodreads pun kebanyakan positif. Uniknya, Ika seakan punya keahlian khusus untuk membangun karyanya menjadi sebuah ekosistem. Keseharian para tokoh dalam novel-novel Ika yang hadir lewat akun Twitter juga menarik banyak interaksi, lho!

Wah, kira-kira seperti apa ya formula yang Ika gunakan sampai bisa membangun karya sekeren itu? Kali ini Hipwee akan membahasnya untukmu.

1. Memilih dan merencanakan ide cerita

Think Bulb via http://pexels.com

Meski terdengar sederhana, namun harus diakui bahwa tahap yang tersulit dari menulis novel adalah memulainya, salah satunya dalam hal pencarian ide. Bagi Ika, inspirasi bisa didapat dari mana saja, mulai dari tempat-tempat yang ia kunjungi, orang-orang yang ia temui, sampai buku dan film yang ia konsumsi. Prinsip terpenting penyuka Gillian Flynn ini adalah ‘I write what I want to read’. Jadi, selain memikirkan ide dari sudut pandang penulis, Ika juga selalu berusaha menempatkan diri sebagai pembaca. Selain itu, menurut Ika, jika kita ingin mulai menulis, sebaiknya pilih ide cerita yang memang cukup kita ketahui dan kita temui sehari-hari. Nggak mungkin juga kan, kita bakal menulis tentang dunia seorang pilot maskapai kalau kita sama sekali nggak tahu soal itu? So, write what we know itu juga penting banget.

Sebaiknya pilih ide cerita yang memang cukup kita ketahui dan kita temui sehari-hari.

Advertisement

Nggak hanya mencari dan menggali ide cerita, tentunya kita juga harus tahu ide itu mau dibawa ke mana. Beberapa penulis biasanya memulai perencanaan karyanya dengan teknik mind map, outline, namun Ika sendiri biasanya hanya membutuhkan ide kasar dan premis untuk mulai menuliskan gagasannya. Ika lebih suka membiarkan ceritanya mengalir. Bahkan, tahukah kamu, saat ia menulis The Architecture of Love, novel yang dibangun melalui vote di Twitter Poll itu hanya membutuhkan grand design saja, lho! Jadi, intinya tetap harus ada ide kasar dan bayangan ceritamu akan dibawa ke mana, ya!

2. Menemukan gaya bahasa tersendiri

Pen on Notebook via http://pexels.com

Kita tahu banget, setiap pengarang pasti menyuguhkan idenya melalui gaya bahasa yang berbeda-beda, gaya penulisan yang jadi khasnya. Begitu pun dengan Ika, ia mengaku nyaman menggunakan gaya penulisannya tersendiri karena ia bisa menceritakan gagasannya dengan lebih mengalir. Meski begitu, ia juga menyukai tulisan-tulisan Dewi Lestari, terutama dalam hal membangun plot cerita. Memang nggak bisa dibohongi ya, gaya bahasanya yang sudah Ika temukan sekarang memang terbangun dari hobi menulisnya sejak bangku SD. Baginya, ia lebih suka menulis seolah-olah bercerita langsung dengan temannya, bukan menasihati atau mengajari, melainkan untuk berbagi kisah. Wah, pantas ya novel-novelnya sangat nyaman dibaca!

Menulislah seolah-olah bercerita langsung dengan teman, bukan menasihati atau mengajari, melainkan untuk berbagi kisah.

3. Membaca novel Ika kita tidak merasa ‘ditendang.’ Ika lihai membangun konflik pelan-pelan

Typewriter via http://pexels.com

Advertisement

Tentunya kamu pernah mengalami, kamu membaca novel dan merasa bosan dengan alur ceritanya yang biasa saja? Ya, urusan membangun alur dan konflik juga nggak kalah penting, lho! Seperti prinsip utamanya yang selalu berusaha menempatkan diri sebagai pembaca, Ika menyarankan baiknya kita nggak langsung menumpahkan seluruh masalah dan konflik tokoh dalam satu waktu. Kita bisa menyingkap konflik para tokoh perlahan dan bertahap setiap babnya sehingga pembaca tetap terpikat dengan cerita kita.

Hal lain yang menurutnya penting adalah fiction mirrors life. Konflik yang kita bangun tetap harus logis. Perlakukan alur cerita yang sedang kita garap ini seperti kisah nyata. Terutama jika kamu memang nggak lagi menulis genre sejenis science fiction, ya! Bisa dibayangkan dong, lagi asik-asik baca kisah pasangan yang setiap konfliknya ril sejak awal, tiba-tiba ada mahluk macam alien di tengah cerita. Wah, jadi nggak konsisten kan, ceritanya?

Jangan langsung menumpahkan seluruh masalah dan konflik tokoh dalam satu waktu, tuangkan perlahan.

4. Menyelipkan cerita tokoh novel lain

People Working via http://pexels.com

Beberapa pengarang memang kerap menulis cerita dengan tokoh yang masih berkaitan satu sama lain, masih memiliki hubungan kekerabatan, salah satunya novel-novel Ika Natassa. Ternyata, kalau ceritamu sudah cukup banyak dikenal dan pembacamu cukup penasaran dengan kelanjutan cerita novelmu, hal ini bisa jadi solusi, lho! Ika mengakui bahwa dengan cara seperti ini, ia bisa menyelipkan kelanjutan cerita tokoh-tokoh di novel sebelumnya tanpa harus menulis satu novel utuh lagi. Terlebih untuk karakter-karakter yang memang sudah dekat dengan pembaca, biasanya mereka selalu ingin tahu kelanjutan ceritanya. Solusi yang menarik, ya!

Selipkan kelanjutan cerita tokoh-tokoh di novelmu sebelumnya tanpa harus menulis satu novel utuh.

5. Karakter tokoh harus benar-benar realistis. Agar pembaca merasa dekat

Kid Girl Cute via http://pexels.com

Masih menjadi bagian dari alur dan konflik yang nyata, maka urusan tokoh di cerita kita pun juga harus benar-benar realistis. Sebisa mungkin, imajinasi pembaca terbangun dan tetap terjaga hingga akhir cerita yang kita buat. Apalagi kalau sampai bisa membuat mereka benar-benar terikat dan selalu penasaran dengan tokoh-tokoh kita. Menguntungkan banget, lho! Seperti halnya Ika yang berhasil membuat cuitan Harris dan Ale Risjad jadi begitu populer bagi penggemarnya, tentunya karena tokoh-tokoh ini begitu ril bagi pembacanya, kan?

6. Eksplor media tutur selain bukumu. Twitter, Stelle, YouTube bisa kamu pakai untuk mengenalkan tokoh di novelmu

Office Notes via http://pexels.com

Nah, salah satu keunikan Ika Natassa adalah idenya untuk mengakrabkan karakter-karakter novelnya lewat ocehan mereka di Twitter. Jauh sebelum hari ini, kita mungkin nggak terpikir untuk menggunakan Twitter sebagai media membangun interaksi dan imajinasi pembaca, ya. Namun, setelah Ika memperkenalkan konsep cuitan Alexandra, tokoh dalam novelnya yang berjudul ‘Divortiare’ dan sekuelnya ‘Twivortiare’ itu, akhirnya beberapa penulis lain tertarik untuk melakukan hal yang sama. Awalnya, Ika memang merasa bahwa seharusnya Twitter bisa menjadi lebih dari sekedar tempat bergosip dan berceloteh sehari-hari. Itu sebabnya, ia mulai menjadikan Twitter sebagai media agar Alexandra dan kemudian beberapa tokoh lainnya bisa berinteraksi dengan pembaca.

Terus eksplorasi media bercerita selain lewat pembuatan naskah bukumu.

Dan ternyata tanggapan para pembaca sangat baik hingga akhirnya The Architecture of Love terlahir dari hasil vote mereka. Wih, benar-benar keren, ya! Jadi, bagi kamu yang ingin melakukan hal sama, Ika berpesan agar terus mengeksplorasi media bercerita selain lewat pembuatan naskah buku. Saat ini malah banyak pilihan menulis lain, seperti media sosial, blog, hingga Wattpad.

7. Penulis itu nggak perlu ‘jalur khusus’ untuk diterbitkan. Kamu cuma butuh keberanian!

Public Walking via http://pexels.com

Salah satu langkah yang cukup menantang penulis pemula adalah masalah menerbitkan karya. Menurut Ika, kita nggak perlu punya ‘kenalan khusus’ kalau memang mau menerbitkan karya kita, kok. Cukup mencoba membuat naskah yang oke dan kirim ke penerbit incaranmu, deh. Kalau memang tim redaksi merasa naskah kita potensial, mereka pasti nggak ragu untuk menerbitkannya. Karya pertama Ika sendiri sebenarnya dipublikasikan dengan cara self publish di tahun 2010. Saat itu, ia bertemu dengan founder Nulisbuku, Ollie, dan sepakat untuk menerbitkan ‘Underground’ dengan cara self publish melalui mereka. Hingga dua tahun setelahnya, penerbit Ika sekarang, Gramedia Pustaka Utama meminta ‘Underground’ untuk diterbitkan kembali lewat mereka.

Nggak perlu punya ‘kenalan khusus’ kalau memang mau menerbitkan karya kita.

Well, mau tahu nggak, apa sebetulnya formula paling ajaib yang bisa mengantarkan Ika pada kesuksesannya sekarang? Tidak ada. Intinya hanya berani mencoba. Asah terus keterampilan menulis kita dan hal yang nggak kalah penting, jangan malas membaca. Karena mustahil untuk jadi penulis kalau kita nggak pernah baca. Kita juga harus terus mencoba meski naskah kita mungkin ditolak penerbit, ya! Oh ya, ada satu bocoran nih, Ika akan merilis proyek kolaborasi non fiksinya di Januari 2017, lho! Wah, bikin penasaran, deh! Kami tunggu terus karya-karyanya, ya!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya