Nggak kerasa ya, udah empat tahun aja. Hipwee masih balita dong, ya? Balita yang sudah melakukan banyak pencapaian besar; yang salah satunya memberikan apresiasi terbaik untuk setiap karya anak bangsa. Wah, keren! Balita yang beda dari biasanya, ya Hipwee ini. Terima kasih, Hipwee, sudah menemaniku selama empat tahun ini. Panjang umur, ya. Tetaplah jadi wadah berkreasi generasi milenial yang semoga saja selalu gemar untuk berbagi pemikiran dan ide-ide kreatifnya di sini.

Hipwee jadi salah satu, atau bahkan satu-satunya, platform media website online favoritku. Gimana nggak favorit, selain karena artikel-artikelnya yang bertema kehidupan sehari-hari selalu dikemas secara apik, fresh dan up to date, aku selalu tertarik dengan konten menarik yang ‘remaja banget’ ala Hipwee ini. Kok rasanya, ciri khas Hipwee ini nggak aku temukan di platform media website online manapun!

Hipwee membuatku bersyukur karena bisa menjadi salah satu kontributornya; yang meskipun lebih suka nulis ketika galau dan berakhir di narasi-narasi yang temanya hampir sama semua. Tapi, Hipwee nggak pernah marah. Hipwee nggak pernah bosan menerbitkan karyaku meskipun temanya itu-itu aja. Terima kasih, Hipwee.

Nah, karena Hipwee sudah #4TahunMenemanimu, kayaknya bakal ada sedikit cerita gimana akhirnya aku bisa deeply falling love untuk selalu mengirim tulisanku di sana. Ini dia ceritaku dari awal mengenal sampai akhirnya jadi-beneran-jatuh-cinta sama Hipwee.

1. Kenal Hipwee yang berawal dari kegiatan scrolling di platform media buku-biru; dari kepo dan akhirnya tertarik bikin akun sendiri!

Berawal dari buku-biru, aku dan kamu bertemu

Berawal dari buku-biru, aku dan kamu bertemu via https://marketingland.com

Dulu, waktu masih aktif-aktifnya ngecek posting-an di akun buku-biru, aku suka iseng bacain artikel-artikel yang di-share oleh beberapa temenku. Dari judulnya aja udah menarik dan persuasif, apalagi kalau ada artikel-artikel yang membahas tentang kenangan, pasti langsung dibukain satu-satu, deh. Hahaha, jadi curhat.

Awalnya aku penasaran, artikel-artikel ini pada diterbitin di mana, ya? Kok seru aja gitu, ada platform media yang bisa jadi wadah menulis artikel dan opini pribadi, bahkan aku kenal tulisan-tulisan sejenis listicle juga dari Hipwee. Meskipun isi artikelnya kebanyakan opini pribadi, tapi selalu bisa bikin aku senyum-senyum sendiri sambil bilang, “Oh iya, ya. Bener juga.”

Advertisement

Dari rasa keingintahuan tingkat tinggi itulah, yang membuatku akhirnya mulai bergerilya mencari cara agar bisa bikin akun sendiri dan nulis artikelku sendiri. Dari situlah, ceritaku bersama Hipwee dimulai.

2. Tulisan pertama di-upload Hipwee, reaksiku: "Eh, artikelku diterbitin!!!" dan seperti kebanyakan orang, aku mulai nge-share tulisan perdanaku itu di semua sosial media yang kupunya!

"Eh, artikelku diterbitin!!!"

"Eh, artikelku diterbitin!!!" via https://contentwriters.com

Meskipun agak telat, atau bahkan telat banget, pas tahu kalau artikelku diterbitin Hipwee, aku inget banget langsung senyum-senyum sendiri sekaligus merasa bangga. Waktu itu, aku belum pernah kan jadi content writer, jadi kupikir kalau nulis di platform media website online sejenis itu pasti ada seleksi yang susah dan nggak mungkin diterbitin dalam jangka waktu singkat.

Tapi, ternyata Hipwee merubah mindset-ku! Meskipun harus melewati proses moderasi terlebih dahulu, artikel di Hipwee tetap bisa terbit selama nggak ada unsur plagiasi. Ini dia artikel pertamaku yang diterbitkan oleh Hipwee! Teruntuk Jodohku, Ketahuilah Aku sedang Belajar Memperbaiki Diriku Untukmu

Advertisement

Terima kasih lagi, Hipwee!

3. Respon teman-teman ketika aku share link tulisanku di Hipwee: "Beneran kamu nulis di Hipwee? Hipwee?!" seolah di mata mereka, bisa nulis di Hipwee tuh udah kayak sebuah prestige tersendiri.

"Beneran kamu nulis di Hipwee? Hipwee?!"

"Beneran kamu nulis di Hipwee? Hipwee?!" via https://image.freepik.com


“Beneran Gant, nulis di Hipwee? Wah keren juga!”

“Secara, Hipwee kan terkenal bagus-bagus artikelnya!”


Begitulah kira-kira respon teman-temanku waktu tahu kalau tulisanku diterbitkan Hipwee. Waktu itu, sebenarnya aku belum begitu paham kalau ternyata Hipwee sebeken itu di kalangan anak muda. Aku cuma sebatas tahu kalau Hipwee suka nerbitin artikel-artikel khas remaja.

Dan dari situlah, muncul apresiasi dari mereka. Beberapa dari mereka bahkan meramaikan kolom komentar dan memberikan semangat yang buatku priceless banget! Terima kasih lagi dan lagi, Hipwee, karenamu aku jadi makin semangat menulis!

4. Mulai bergabung di grup "Kontributor Hipwee" dan nggak nyangka bisa berkenalan dengan banyak sekali penulis-penulis muda yang berbakat! Lagi-lagi, Hipwee memberi kesempatan untuk menjalin relasi dengan berbagai macam karakter penulis dari berbagai daerah. Seneng, dong!

Berteman dengan penulis di berbagai daerah

Berteman dengan penulis di berbagai daerah via https://image.freepik.com


“Tulis nomor handphone kalian di kolom komentar ya, nanti kita bikin grup untuk semua kontributor Hipwee biar semakin mengenal satu sama lain.”


Aku ingat waktu itu pernah join di grup Kontributor Hipwee Community di akun buku-biru. Setelah membaca postingan dari admin itu, nggak perlu mikir-mikir lagi, langsung aja deh mulai menuliskan nomor handphone-ku. Buatku, menjalin pertemanan dengan orang-orang yang memiliki hobi serupa selalu menyenangkan!

Bergabung di grup Kontributor Hipwee memberiku banyaaaak sekali pelajaran berharga. Nggak cuma kenalan dan ngobrol ngalor-ngidul tentang artikel-artikel yang diterbitkan di Hipwee, kita juga saling bertukar ilmu dan pemikiran-pemikiran dari sudut pandang masing-masing.

Seru sekali disatukan dengan berbagai karakter penulis dari berbagai daerah, membuatku sekali lagi merasa bersyukur telah mengenal Hipwee. Can’t say anything except big thanks, Hipwee!

5. Hipwee dan #4TahunMenemanimu, semoga selalu setia menjadi teman berbagi ceritaku. Aku nggak pernah menyesal telah menjadi bagian dari kontributor Hipwee Community!

Semoga selalu setia menjadi teman berbagi ceritaku

Semoga selalu setia menjadi teman berbagi ceritaku via https://images.pexels.com

Akhirnya, semua cerita-cerita itu berakhir dengan ungkapan cinta yang bagiku terlalu luas maknanya jika harus diucapkan lewat kata-kata. Dan sepertinya, mewakili seluruh kontributor Hipwee di Indonesia, aku akan dengan senang hati mengucapkan terima kasih. Terima kasih Hipwee, dan untuk semua orang yang berperan di dalamnya; terima kasih untuk selalu menjadi media untuk kami, para generasi milenial, dalam menulis dan berpendapat di muka publik.

Menulis adalah cara kami untuk menyampaikan apa-apa yang tidak bisa dikatakan, dan kami sangat bersyukur ketika Hipwee selalu menjadi penopang atas ide-ide itu.

Semoga empat tahunmu ini dan tahun-tahun ke depannya akan selalu menginspirasi ratusan, ribuan, bahkan jutaan orang!


Once more, Happy 4th Birthday, Hipwee. Ini ceritaku, mana ceritamu?


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya