Seumur jagung. Layaknya peribahasa yang sering diungkapkan pada hubungan yang baru saja dimulai. Hubungan kami harus terpisahkan oleh jarak 120 kilometer jauhnya. Mungkin bagi orang lain 120 kilometer tidak berarti apa-apa, namun bagi saya, jarak tersebut membuat kami hanya dapat bertukar kabar lewat pesan singkat dan telepon. 

Permasalahan lain yang muncul adalah mengenai waktu masing-masing, keberadaan sinyal provider yang baik atau tidaknya pada daerah masing-masing, dan ego tentang rindu yang sering tidak dapat dikatakan secara langsung. Akibatnya, saya lebih sering mengeluh dan menelepon di saat yang tidak tepat. Diiringi dengan rasa insecure yang ada, ketiadaan kabar darinya membuat saya semakin terganggu.

Tetapi, bahwasanya perempuan memiliki intuisi yang lebih kuat daripada laki-laki, adalah nyata adanya. Terlepas dari tepat atau tidaknya, terbukti atau tidaknya, hal ini yang sedang dicoba dibuktikan keberadaannya.

Awal kami menjalani hubungan jarak jauh, semuanya terasa baik-baik saja. Sebulan pertama kami masih dapat bertemu dengan cara saya menyusulnya. Sebulan setengah menjalani hubungan jarak jauh, saya mulai merasakan intuisi yang sering saya sangkal. Intuisi saya mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan dirinya. 

Di mulai dengan komunikasi yang semakin singkat dan jarang. Saya tahu mengenai kegiatan dia selama jauh, tetapi saya tidak bisa menerka waktu nya. Sering kali waktu kami tidak tepat satu sama lain untuk sekedar bertukar kabar. Sering kami sedikit beradu kata karena waktu dan jarak. Dua bulan berikutnya, saya hampir setiap hari tidak dapat tidur jika belum mendapat kabar dari nya. Bahkan tidak bisa tidur walaupun sudah saling berkabar. Hubungan jarak jauh memang pahit. 

Tapi saya tidak mengira akan sepahit ini. Karena intuisi saya semakin mendesak saya untuk mencari tahu akan hal tidak semestinya yang datang ke dalam pikiran saya ini.

Langkah yang tidak ketinggalan adalah berdoa di setiap ibadah. Tiga bulan setelahnya, saya menemukan hal yang mendukung intuisi saya. Sesuatu yang tidak beres memang betul terjadi. Rasa insecure saya menang saat itu, sulit tidur dan tidak mampu konsentrasi menjadi santapan saya setiap hari. 

Saya berusaha untuk dapat bangkit sendiri, karena hanya diri saya lah yang mampu menolong di saat seperti ini. Saya mencoba untuk menyelesaikan dengan pasangan saya secara baik. Sedih? Tentu, marah? Pasti. Tetapi saya berpikir, dalam hubungan ini saya ingin berpikir dengan matang. Saya juga ikut andil dalam masalah ini, yaitu menjadi sedikit posesif saat tidak ada kabar darinya.

Hal yang dapat dipetik dari hubungan jarak jauh adalah rindu yang menumpuk mampu menguatkan diri kita berdua. Pertemuan yang hanya sesekali selama menjalani hubungan jarak jauh membuat waktu kami menjadi berkualitas tiap detiknya. Belajar untuk mentolerir apa yang dapat ditolerir pada diri sendiri dan pasangan. Apapun itu, hanya kalian yang mampu menilainya, seberapa kadar toleransi yang mampu kalian tolerir.

1. Memberikan kepercayaan itu tugas kita sebagai pasangan

Lisa Caroselli

Lisa Caroselli via http://pixabay.com

Advertisement

Ketika berada dalam suatu hubungan, berikan kepercayaan pada pasangan. Keep faith and stay loyal. Jika satu pihak menyalahgunakan kepercayaan yang telah diberikan pasangannya, hal itu merupakan kerugian baginya.

2. Komunikasi adalah hal penting bagi hubungan jarak jauh

rawpixel.com

rawpixel.com via http://pexels.com

Bukan mengenai seberapa sering atau seberapa lama pasangan membalas dan memberikan kabar. Tetapi ini tentang bagaimana kalian terhubung dengan baik. Kita pasti punya topik-topik untuk dibicarakan, namun hanya kalian berdua yang mengerti.

Komunikasi yang terkoneksi dengan baik akan menciptakan hubungan yang lebih baik dan dalam, baik untuk hubungan jarak jauh maupun jarak dekat.

Advertisement

Diskusikan mengenai batasan toleransi kedua belah pihak, sepakati, dan menyadari hal tersebut untuk saling menghargai satu sama lain. Karena sejatinya komitmen memang semenjaga itu.

3. Pikirkan ulang semua keputusan yang akan diambil

lost in the maze

lost in the maze via https://unsplash.com

Segala sesuatu yang akan dijalani pasti membutuhkan keputusan. Termasuk dalam menyelesaikan masalah pada hubungan jarak jauh. Pikirkan betul apa yang ingin dilakukan dengan baik dan matang. Jangan membuat keputusan ketika sedang dilanda kemarahan dan kesedihan.

Begitu juga ketika sedang terlalu bahagia, karena keputusan yang dibuat dipengaruhi oleh mood saat itu. Lebih baik buatlah keputusan ketika berada pada kondisi mood yang netral.

4. Buatlah waktu untuk bertemu, bukan meluangkan

Priscilla Du Preez

Priscilla Du Preez via http://unsplash.com

Hubungan jarak jauh memang berat. Namun kalian akan belajar menghargai waktu ketika bertemu. Membuat waktu untuk bertemu sesuai jadwal masing-masing. Membuat waktu adalah mengosongkan waktu untuk pertemuan, meluangkan adalah bertemu ketika waktu nya ada. Bertemu di waktu yang singkat sesekali membuat kami menghargai tiap detiknya.

5. Seimbangkan dengan doa

Emre Kuzu

Emre Kuzu via http://pexels.com

Apapun yang dilakukan dalam hidup membutuhkan doa. Begitu juga dengan hubungan jarak jauh. Berdoa supaya Tuhan menjaga hati kalian berdua, karena apapun yang diusahakan akan memetik yang sesuai dengan usahanya. Dan yang memang ditakdirkan setelah kamu berusaha, memang benar-benar untukmu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya