<>1. Saat ini aku hanya belum terlalu bersih, belum memutih dari ukiran tinta berwarna yang pernah kita lukis di masa lalu.
Biarkan hujan memutihkan kesakitanku

Biarkan hujan memutihkan kesakitanku via http://4.bp.blogspot.com

Menghapusmu jelas saja tidak lebih sulit dari menghapus momen kekitaan itu. Momen dimana derap langkah selalu seiring, diatas deraian perih dengan luka-luka yang sering kita biarkan mengering. Kita juga pernah tertawa bukan? Mem”bully” hal-hal kecil dalam romantisme kekanakan. Tawa yang begitu lepas ku rasa, di bawah peristirahatan senja, dalam lika-liku jalan panjang yang biasa kita lewati pasca mengalami penatnya waktu dari sudut yang sama.

Bagiku kini, menapak langkah tak semudah dulu, menghidu udara tak selega di masa itu, dan bahkan untuk menutup hari dengan memejamkan mata tak sesingkat ancang-ancang masa lalu.

Kau dan aku masih di bawah langit yang sama, keadaan tak merubah apapun. Aku masih berjalan menuju tujuan lama, hanya berbeda bahwa kita tak lagi berdua.

Aku dan kamu, dua sosok yang pernah di sebut kita. Kekitaan yang pernah ku paksakan untuk terhapus beberapa waktu pasca kau memilih dia. Aku tak mampu, menghapusnya sama dengan menghentikan detak nadi kehidupan.

<>2. Bertemu hingga kemudian hidup denganmu tak ku sesali, setidaknya aku belajar bahwa berjuang itu menyenangkan dan melepas itu keikhlasan yang harus ku paksakan.
Temani harinya! Aku tak apa, sendiri itu menyenangkan..

Temani harinya! Aku tak apa, sendiri itu menyenangkan.. via http://1.bp.blogspot.com

Sekilas mengulang di awal, ketika jemarimu kugenggam begitu eratnya. Beratapkan langit dengan sentuhan efek sinar bulan di malam minggu. Dimana untuk pertama kali dalam sejarah jiwa aku berbicara tentang cinta pada seorang wanita, empat mata, tanpa tabir apapun.

Kemudian kita bertualang selaras dengan jalannya sang waktu, mengupas apapun yang menjadi penghalang, meruntuhkan karang-karang nakal yang mencoba membinasakan. Aku terlalu kuat saat itu, begitupun dirimu.

Beberapa saat kemudian kita mulai mengumpulkan pundi-pundi lain, laksana pasukan penakluk, kita mulai menjajah tempat-tempat yang dianggap layak dan pantas untuk menjadi “markas besar” di suatu waktu. Konyolnya, cara kita sering dibenci orang sekitar. Bagaimana tidak, hanya untuk memiliki tempat terdekat menghadap ombak kita berani mengusir orang lain dengan tingkah bodoh yang saat ini kusebut sebagai kejenakaan yang berani. Sumpah, aku merindukan itu.

Disetiap pertemuan, seringnya kita mengutuk kekitaan itu. Bahwa kitalah pasangan paling tak peduli waktu, tak peduli situasi, tak peduli apapun asalkan bisa bertemu walau sekedar saling melempar senyum atau bahkan berdebat mengakhiri diam akibat pertengkaran sehari sebelumnya.

Terlalu sering, kita mengasyikkan sesuatu dengan cara yang berbeda dibanding mereka. Mengolah penat menjadi tawa yang pekikkan telinga, kitalah jagoannya.

Sampai pada suatu waktu di pertengahan januari, tahun kedua. Aku dan kamu, kita. Di uji Sang Pemilik Semesta. Bongkahan yang begitu besar di tautkan ke pundak, nyaris pecah. Disini kita mengenal tumpahan air mata darah, belajar menyambung kaki-kaki yang patah, dan bahkan dengan berani menantang siapapun dengan ikrar kita yang tak mudah goyah. Seingatku, saat itu semua orang memandang nista, hanya karena kita ingin bersama meski melangkahi darah atau apa, aku lupa.

Kedurhakaan penuh murka, kita lalui untuk tetapkan posisi bahwa ini pantas demi hakikat cinta yang sebenarnya.

Aku diboikot, kau berbagi sebagian dana harianmu agar aku tetap bernafas, ingat?

<>3. Duhai orang yang namamu tak mampu ku sebut, bagaimana kabarmu hari ini? Kamu baik-baik saja kan? Detik-detik asmaranya lebih menyenangkan ya? Tidak seperti biasanya saat denganku, maaf.
Nama yang begitu indah, tak layak terucap.

Nama yang begitu indah, tak layak terucap. via http://40.media.tumblr.com

Mungkin belum sempat ku katakan padamu, aku yakin kau sudah tau, entah jika itu memang penting bagimu. Bahwa jika kita masih bersama, ini adalah tahun ke empat yang akan kita lewati berdua. Bahwa jika masih berdua, ini adalah waktu tanpa jeda untuk kebersamaan kita. Memang berat untuk mengikhlaskan hati bahwa semuanya tinggallah mimpi, dalam kepalsuan aku telah rela.

Nyatanya, kini telah ada hati lainnya yang mengingatkanmu untuk membuka mata dipagi buta. Atau, seseorang yang mengajakmu menikmati senja sembari menyantap makanan pembuka menunggu rembulan tiba, yang jelas bukan aku. Kamu bahagia? Karena jika benar katamu bahwa dia hanyalah alatmu untuk mengubah caraku memperlakukan kita, ini tidak lebih dari suatu kebodohan belaka. Seingatku, kau orang yang paling membenci kebodohan bukan?

Tapi ya sudahlah, semuanya telah terjadi dan tak perlu disesali terlalu lama. Aku, kau dan mungkin dia. Kita belajar banyak hal. Bahwa percaya cukup sebatas satu sendok teh gula pasir, lebih dari itu rasanya terlalu manis dan manis rentan membuat kita lalai dan kemudian lupa.

Teriring sakit kita juga dibuatNya mengerti, bahwa kesetiaan itu penting dan hanya dilakukan oleh dan untuk jiwa-jiwa berkelas.

Tak ada yang harus disalahkan, bukan salahmu, salahku atau dia. Ini sesuatu yang akan kita syukuri di masa depan, percayalah.

Meski aku tak tahu harus menunggu berapa lama agar luka ini sembuh sempurna. Setahun, dua tahun atau bahkan sepuluh dua puluh tahun lagi? Itu tak penting.

<>4. Maaf karena tak sempat pamit baik-baik, aku hanya tak tahu bahwa itu saat terakhir aku dan kamu beratapkan kita.
Aku pamit, kau telah memilihnya.

Aku pamit, kau telah memilihnya. via http://4.bp.blogspot.com

Kau tahu? disini aku masih terlalu sering membawa bayangmu bersama angin. Derap langkah dan harum nafasmu juga masih disini, ianya enggan pergi. Kicau menyebalkan dari ujung telepon juga masih sama, samar-samar terdengar riuh rendah kemudian terisak lalu hilang begitu saja.

Kata orang aku terlalu memaksa, memaksa hatiku mengenangmu terlalu lama sampai amnesia pada siapakah aku sebenarnya. Padahal merekalah yang lupa, mereka tidak pernah jatuh cinta seperti aku dengan begitu dalamnya.

<>5. Terima kasih untuk hatimu yang pernah kau ikhlaskan untuk ku miliki. Kini kau pergi, aku bisa apa?
Kau sedang bahagia, disini aku menunggu hal yang sama.

Kau sedang bahagia, disini aku menunggu hal yang sama. via http://3.bp.blogspot.com

Terima kasih, untuk hari-hari menyenangkan di masa lampau, naluri jiwaku belajar banyak.

Juga tidak lupa, terima kasih untuk dalamnya rasa sakit di detik-detik akhir peringatan penting hidupku. Setidaknya aku tahu bahwa kata yang ku tunggu tak lagi sama, ia berevolusi menjadi bencana.

Terakhir, jika aku di pertemukan Allah SWT dengan waktu pengkabulan harapan. Akan kuselipkan beberapa do’a untukmu, juga tentang kau dan dia.

Semoga kalian bahagia dan tak ada pengganggu. Tidak seperti dia yang pernah meruntuhkan kita.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya