Kami sama seperti kalian, generasi Z, yang pernah mengalami rasa galau, ketika mengalami yang namanya putus cinta, ketika cinta bertepuk sebelah tangan, hingga masa-masa ketika kami merasa hidup terasa berat dan tak ada lagi yang bisa menolong.

Kami sama seperti kalian, tak berdaya, ingin diperhatikan, ingin semua orang tahu apa yang sedang kami rasakan. Namun, cara kami berbeda dengan kalian. Kami belum paham tentang teknologi seperti smartphone atau laptop, atau media sosial seperti Facebook atau Path, atau bahkan aplikasi pesan seperti Whatsapp atau Line, yang kalian andalkan saat kegalauan hadir. Kami menuangkan rasa galau lewat cara yang sangat sederhana, yang mungkin kini kalian tertawakan.

1. Di saat kamu menumpahkan kegalauanmu lewat sebuah status di media sosial, anak 90an hanya bisa menuliskan kegundahan kami lewat diary

Dear diary, via https://unsplash.com

Pada masa itu, kami tidak pernah membayangkan bisa menggenggam sebuah smartphone. Smartphone adalah barang yang terlampau mahal. Bayangkan saja, di masa itu, kami sudah sangat bahagia ketika mendapat kepingan mainan di dalam bungkus makanan ringan.

Lalu, bagaimana kami menumpahkan kegalauan ketika kecewa dengan seseorang? Mungkin saat ini kamu dengan mudah menulis sebuah status di Facebook, Twitter, atau Instagram kamu. Tapi tahukah kamu, kalau kami dulu hanya mengandalkan sebuah pulpen dan buku, yang kami namakan Diary.

Advertisement

Lewat status di media sosial, semua teman dunia mayamu bisa melihat apa yang terjadi denganmu.Berbeda dengan kami, anak 90an, yang sangat malu ketika banyak teman nyata yang tahu kepedihan yang kami rasakan. Tak heran, bila kami sangat menjaga diary pribadi kami. Jadi, jangan ditanya apa yang kami lakukan ketika ada yang berani melihat diary pribadi kami.

2. Dewa 19, Sheila on 7, Padi, adalah beberapa teman kami saat galau

Saat itu, kami belum merasakan apa yang dinamakan Mp3 bajakan atau aplikasi gudang lagu berbayar sekalipun. Namun, kami mengandalkan sebuah kaset, atau CD dengan menggunakan walkman atau tape pemberian orang tua.

Lirik yang puitis, dalam, dan menyentuh hati, adalah lagu yang kami dengarkan saat sedang galau. Lagunya pun tak harus mendayu-dayu, namun liriknya yang pas, dapat membuat kami menitikkan air mata.

Advertisement

Jika bukan band-band lokal, kami juga bisa mendengar lagu dari Boyband luar negeri. Sebut saja All 4 One, Boyzone, atau 98degress, dan masih banyak lagi, yang siap mengiringi kesedihanmu.

3. Kami sama seperti kalian, butuh teman yang bisa mendengar perasaan kami

Kami setuju sahabat adalah obat terbaik ketika galau menerpa. Mencurahkan apa yang kita rasakan ke sahabat dekat mampu mengurangi penderitaan yang kita alami. Bukan, bukan untuk dinilai baik atau buruknya, namun cukup sebagai pendengar yang baik.

Mungkin kamu bisa curhat di kafé hits, restoran mahal, atau coffee shop anti-mainstream. Mungkin juga masih ada yang curhat di kamar sahabatmu, seperti yang kami lakukan pada masa itu.

Jika demikian, apa yang membedakan kami dengan kalian? Saat itu, obrolan kami tak pernah terganggu dengan nada dering ponsel yang kami miliki, atau notifikasi pesan yang terus-terusan masuk, atau penasaran dengan postingan selebgram ternama. Obrolan kami terganggu ketika adik dari sahabat kami masuk ke kamar, atau ketika ibunya memanggilnya untuk mengajak kami makan malam di ruang makan.

4. Kami pun punya rasa malu untuk bertemu, sehingga kami mengandalkan sepucuk surat untuknya

Kotak pos via https://unsplash.com

Mungkin kamu dengan mudahnya menyampaikan apa yang kamu rasakan ke orang yang masih kamu cintai, walau hubunganmu kini bukan lagi sebagai pasangan. Mulai dari tag namanya atau dengan cara-cara yang halus lainnya, seperti memberi "kode", berharap dia sadar dengan apa yang kamu tulis di laman media sosial yang kamu miliki. Kamu bisa posting video kamu melalui aplikasi video seperti Hypstar, lalu menggunakan hashtag, seperti #galaumode, dan berharap kamu bisa menarik perhatiannya, atau mendapat jutaan rupiah.

Bagaimana dengan kami? Kami punya cara yang lebih sederhana namun dibutuhkan keberanian yang lebih tinggi dibanding kalian. Caranya dengan mengirim mereka sepucuk surat. Surat berisi curahan hati ini bisa kami kirim ke alamat rumahnya dengan bantuan pak pos, atau kalau ingin hemat, kami bisa menitipkan surat ini kepada sahabat si dia.

5. Stalking kami bukan via ponsel, melainkan lewat sahabat dekatnya

Stalking lewat ponsel via https://unsplash.com

Ketika rasa penasaran hadir, galau pun menjadi-jadi. Kamu mulai stalking si dia. Penasaran dengan aktivitas yang ia lakukan. Apakah ia sudah punya kekasih baru? Atau apakah dia mulai kangen dengan kamu? Hal itu bisa terjawab ketika kamu terus-terusan scroll timeline-nya di smartphone kamu. Mungkin inilah alasan yang membuat rasa galaumu tak mudah hilang.

Kami anak 90an, tentu tidak punya fasilitas untuk stalking si dia. Kami tahu, terkadang kami sama seperti kalian, penasaran dengan si dia. Namun, bukan berarti kami harus mengikuti mereka secara diam-diam, mungkin bertanya ke sahabatnya sudah cukup. Walaupun, rasa gengsi membuat kami enggan bertemu dan bertanya mengenai keadaannya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya