Tak Usah Khawatir #DiRumahAja, Dulu Anne Frank Juga Pernah Merasakannya Bertahun-tahun Lho!

Mengingatkan Kita Akan Hak Istimewa di Masa Pandemi Covid19

Duh, kapan ya bisa jalan-jalan lagi? Kapan ya bisa liburan dan belanja? Kapan ya bisa ngumpul sama teman-teman?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin sering terlontar oleh kita di masa pandemi COVID19 ini. Wajar, mungkin karena sudah terlalu lama kita berada di rumah dan melakukan segala sesuatunya dari rumah. Bekerja, sekolah, belanja dan olahraga pun dengan menggunakan sistem daring (online).

Mungkin kalau dihitung-hitung sudah ada yang lebih dari 2 bulan berada di rumah. Tetapi, itu semua dilakukan demi memutus mata rantai penyebaran virus COVID19 lebih melebar lagi. Apresiasi terbesar buat teman-teman yang memiliki kesadaran tinggi untuk tertib dan taat akan aturan pemerintah. Menyangkal diri dari perasaan untuk keluar rumah itu berat, namun masih bisa dilakukan hingga saat ini oleh sebagian orang. Secara naluri kita ingin bebas, bertemu fisik dengan orang-orang. Namun, selama masa pandemi ini ditahan dulu ya keinginan untuk berada di keramaiannya.

Tahukah kalian? Jauh sebelum kita melaksanakan social distancing dan stay at home ini, sudah ada yang melakukannya terlebih dahulu. Namanya Annelies Marie “Anne” Frank atau yang dikenal dengan Anne Frank. Selama kurang lebih 2 tahun, ia bersembunyi bersama keluarga dan rekanan Yahudi lainnya, hidup dalam ruang rahasia yang kecil (Secret Annex). Anne hanya bisa memandang kebebasan dan keindahan alam dari balik jendela, serta harus menghindari aktifitas yang memicu suara. Pada saat berbicara, Anne dan keluarga harus membatasi volume suara mereka. Penasaran kan hal apa yang membuat ia harus menjalani hal tersebut?

Mari kita bahas satu persatu mengenai kehidupan Anne Frank. Ia adalah seorang anak remaja Yahudi yang tumbuh pada masa perang dunia ke II. Ia lahir pada tahun 1929. Anne dikenal masyarakat dunia karena buku harian yang ia tulis di masa persembunyian. Buku harian tersebut diterbitkan ke publik dengan judul, The Diary of a Young Girl

Advertisement

1. Kisah Hidup Anne Frank

Photo by Pixabay

Photo by Pixabay via https://pixabay.com

Anne memiliki ayah yang bernama Otto Frank dan Ibu yang bernama Edith Frank serta seorang kakak perempuan yang tiga tahun lebih tua darinya bernama Margot Frank. Keluarga Frank pindah dari Jerman ke Amsterdam pada tahun 1933, ketika Nazi mulai berkuasa di Jerman. Di masa itu Partai Nazi pimpinan Adolf Hitler memenangkan pemilu. Demonstrasi anti Yahudi pun merebak. Pada saat pindah ke Amsterdam, Otto Frank mulai bekerja di sebuah perusahaan bernama Opekta, yang menjual pectine, bahan untuk membuat selai.

Anne dan Margot bersekolah di sekolah khusus Yahudi. Margot memiliki kemampuan di bidang aritmatika, sedangkan Anne gemar membaca dan menulis.  Kakak beradik Frank memiliki kepribadian yang sangat berbeda, Margot adalah pribadi yang sopan, rajin, dan pendiam, sedangkan Anne cenderung terbuka dalam mengutarakan pendapat dan energik.

Advertisement

Pada awalnya kehidupan mereka di Amsterdam berjalan dengan baik. Hingga pada akhirnya Margot, menerima surat panggilan dari Zentralstelle für jüdische Auswanderung, yang memerintahkan dia untuk melaporkan diri dan pindah ke kamp konsentrasi Jerman, untuk dipekerjakan disana. Mengetahui hal tersebut Otto dan Edith Frank merasa sangat terkejut begitu pun dengan reaksi Margot yang sangat ketakutan dan bersedih. Hingga pada akhirnya Otto Frank memutar otak membuat rencana agar keluarganya terhindar dari hal yang mengerikan itu.

2. Persembunyian di Secret Annex

Photo by Pixabay

Photo by Pixabay via https://pixabay.com

Pada tanggal 5 Juli 1942, Otto membawa keluarganya ke tempat persembunyian di Prinsengracth. Ia bersama dengan keluarga meninggalkan rumah pagi sekali menuju tempat persembunyian. Pada saat itu, orang Yahudi tidak diizinkan untuk menggunakan angkutan umum, sehingga mereka terpaksa berjalan kaki beberapa kilometer dari rumah mereka menuju tempat persembunyian, dengan masing-masing mengenakan beberapa lapis pakaian, karena mereka tidak berani terlihat mencolok dengan membawa banyak barang bawaan.

3. Bersembunyi dengan Rekanan Lainnya

Advertisement
Photo by Pixabay

Photo by Pixabay via https://pixabay.com

Tempat persembunyiannya terletak pada bagian belakang, lantai atas kantor Otto di Opekta. Mereka bersembunyi di sebuah ruang rahasia atau yang disebut Secret Annex. Ruangan ini memiliki pintu masuk yang ditutup dengan rak buku. Ruangan ini memilki 3 lantai yang terdiri dari kamar tidur Otto, Edith dan Margot, serta kamar tidur untuk Anne dan seorang dokter gigi bernama Fritz Pfeffer yang ikut bersembunyi dengan mereka.

Selain itu, ada kamar tidur lainnya untuk rekanan Otto yaitu Tuan Herman Pels dan istrinya dan ada juga ruang tengah dimana sebagai tempat untuk mereka menghabiskan waktu berkumpul, memasak, mendengarkan radio dll. Kemudian ada juga ruangan kecil di bawah tangga menuju loteng, yaitu  sebagai kamar untuk anak tuan Pels yang bernama Petter. Loteng digunakan mereka untuk meletakan persediaan makanan. Ruang rahasia ini menjadi tempat bagi Anne Frank bersama dengan keluarga dan rekanan Yahudi lainnya bersembunyi selama kurang lebih dua tahun, dari kekejaman anti Yahudi.

4. Sulitnya Akses Keluar

Photo by Pixabay

Photo by Pixabay via https://pixabay.com

Demi menjaga kerahasiaan keberadaan keluarga Frank dan rekan Yahudi lainnya, maka hanya ada empat karyawan yang mengetahui tempat persembunyian ini, yaitu Victor Kugler, Johannes Kleiman, Miep Gies, dan Bep Voskuijl. Mereka merupakan kontak keluarga Frank bersama rekanan lainnya dengan dunia luar. Mereka yang memberikan informasi tentang perang, perkembangan politik, serta penyedia bagi kebutuhan dan pasokan makanan keluarga Frank dan rekan.

5. Inspirasi Kisah Hidup Anne Frank

Photo by Pixabay

Photo by Pixabay via https://pixabay.com

Kisah hidup keluarga Frank terbilang tragis, namun ada hal yang menginspirasi dibaliknya dan menjadi relevan di tengah pandemi Covid19 yang melanda seluruh dunia. Kemampuan untuk berbesar hati ,menahan diri dan kemauan untuk bekerja sama yang dimiliki keluarga Frank dan rekanan Yahudi lainnya, bisa kita jadikan contoh baik dan inspirasi di masa pandemi Covid19, bahwa dalam keadaan darurat demi menyelamatkan jiwa bersama dan memutus mata rantai penyebaran virus Covid19, aksi stay at home dan social distancing sangat mampu untuk dilakukan apabila ada kemauan.

Anne Frank dan keluarga berdiam dalam kesederhanaan di ruang rahasia yang terbilang kecil guna menghindari kekejaman anti Yahudi di masa itu. Mereka bersabar dalam kesesakan menunggu indahnya kedamaian dan kebebasan yang tidak diketahui kapan datangnya. Setiap masa memiliki tantangannya masing – masing. Namun, hidup di masa lampau mungkin memiliki tantangan yang lebih besar dibanding masa kini. Kesederhanaan teknologi, minimnya hiburan, sulitnya akses terhadap dunia luar tidak menjadi penghalang bagi Anne Frank dan keluarga untuk tetap berada di dalam ruangan. Jadikanlah masa pandemi Covid19 sebagai waktu untuk bersyukur dan refleksi diri, meskipun aktifitas kita dibatasi, tetapi banyak hal yang masih bisa kita lakukan. Manfaatkanlah fasilitas, kemudahan dan kemajuan teknologi yang kita miliki sekarang dalam menghadapi keterbatasan akibat pandemi Covid19 serta rasa jenuh berada di rumah. 

Di masa persembunyian tersebut Anne mulai menulis buku hariannya. Ia mencurahkan isi hatinya lewat  tulisan, Anne menceritakan hubungannya dengan anggota keluarganya, dan perbedaan kepribadian yang kuat di antara mereka. Ia menganggap dirinya lebih dekat secara emosional dengan ayahnya dibanding ibunya. Frank menulis, tentang hubungannya dengan Margot yang menjadi lebih baik. Selain itu Anne Frank juga sering menulis mengenai hubungannya yang kurang baik dengan ibunya, ia menumpahkan kekesalan terhadap ibunya dan ketidakmampuannya untuk menghadapi ibunya. Namun ada titik dimana akhirnya Anne menyadari bahwa, perbedaan antara dirinya dengan ibunya hanya disebabkan oleh kesalahpahaman. Dengan kesadarannya ini, Frank mulai memperlakukan ibunya dengan lebih hormat dan toleran.  

Di masa persembunyiannya ini Kakak beradik Frank tetap membekali diri dengan pengetahuan. Margot mengambil kursus stenografi sedangkan Anne menghabiskan sebagian besar waktunya dengan membaca dan belajar bahasa serta menulis buku hariannya. Anne senang pergi ke atas loteng untuk sekedar melihat indahnya kebebasan di luar sana dan indahnya alam yang tidak pernah bosan untuk dipandangi.  Selain menceritakan peristiwa dan problematika yang terjadi di ruang rahasia tersebut, ia juga menulis tentang ambisi, keyakinan, dan perasaannya, serta hal-hal yang ia anggap tidak bisa dibicarakan dengan siapapun, seperti menulis tentang keyakinannya terhadap Tuhan dan bagaimana ia mengartikan sifat manusia. Frank bercita-cita ingin menjadi jurnalis, sebagaimana tulisannya dalam buku hariannya ia mengatakan bahwa dirinya harus mengerjakan tugas sekolahnya agar tidak menjadi orang bodoh, agar tetap hidup, agar bisa menjadi seorang jurnalis, karena itulah yang ia inginkan.

Hari demi hari terlewati hingga pada akhirnya pada tanggal 4 Agustus 1944, ada seorang  informan yang tidak diketahui, memberikan informasi kepada Gestapo bahwa terdapat kumpulan Yahudi yang bersembunyi di ruang rahasia di dalam sebuah gedung kantor Opekta. Kemudian ruangan itu diserbu oleh para polisi Jerman/ Gestapo yang kemudian menangkap Keluarga Frank, van Pelses, dan Pfeffer. Mereka dibawa ke kamp konsentrasi. Kesedihan dan penderitaan terjadi bertubi – tubi di kamp konsentrasi, hingga pada akhirnya Anne Frank dan kakaknya, Margot Frank, meninggal dunia di kamp konsentrasi Bergen-Belsen pada bulan Februari 1945, ibunya Edith meninggal akibat kelaparan. Hanya Otto Frank, satu-satunya anggota keluarga Frank yang selamat

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Indonesian living in Tanzania

CLOSE