Di zaman sekarang yang serba canggih ini, kita jarang melihat anak-anak bermain permainan tradisional. Mereka sekarang lebih memilih untuk bermain game yang ada di dalam gadget, entah itu milik ibu atau ayahnya.

Mirisnya, kita tahu bahwa gadget mempunyai dampak buruk untuk anak, tetapi kita sebagai orang dewasa masih tetap membiarkan mereka menggunakan gadget untuk bermain. Jangankan untuk anak-anak, untuk orang dewasa pun gadget bisa memberikan dampak negatif.

Sekarang, kita sebagai orang dewasa juga pernah menjadi anak kecil. Bedanya, dulu kita belum mengenal apa itu gadget dan kita bermain permainan tradisional. Tanpa kita sadari, permainan tradisional justru mempunyai banyak nilai positif untuk anak ketimbang gadget. Mungkin kita juga tidak menyadari nilai-nilai positif yang kita dapat dari permainan tradisional yang kita mainkan di zaman dulu. Tapi, sedikit banyaknya berdampak pada kehidupan kita sebagai orang dewasa di masa sekarang.

Berikut 8 nilai positif yang terdapat pada permainan tradisional!

1. Mengenal Kerja Sama

Mengenalkan kerjasama pada anak

Mengenalkan kerjasama pada anak via https://www.google.com

Pentingnya kerja sama juga dapat dipelajari anak melalui permainan tradisonal. Misalnya, dalam permainan ular-ularan. Kerja sama sangatlah penting dalam permainan ini. Si kepala ular tidak boleh lari begitu saja, melainkan harus memperhatikan anggota kelompok di belakangnya supaya tidak tertinggal dan dimakan kelompok lawan. Hanya dengan kerja sama yang baik, kepala ular dapat melindungi bagian tubuh dan ekornya.

2. Meningkatkan Kepercayaan Diri

Percaya diri itu penting lho!

Percaya diri itu penting lho! via https://www.google.com

Advertisement

Dalam permainan tradisonal seperti bekel, rasa percaya diri anak dapat ditumbuhkan. Menguasai permainan yang mensyaratkan keterampilan pada tingkat kesulitan tertentu, seperti kemampuan dasar berhitung,  bisa menumbuhkan dan memperkuat rasa percaya diri anak. Rasa percaya diri ini sangat penting sebagai bekal dirinya menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupannya di kemudian hari. Dengan kepercayaan diri, anak akan merasa lebih mantap memasuki lingkaran pergaulan di mana saja ia berada.

3. Belajar Mengelola Emosi

Belajar mengelola emosi

Belajar mengelola emosi via https://www.google.com

Pengelolaan emosi sangat penting bagi anak agar dapat survive dalam kehidupannya. Kemampuan ini diajarkan dalam permainan seperti lompat tali karet yang direntangkan. Pada permainan ini jika anak tidak bisa melompati ketinggian karet yang direntangkan,  maka ia harus menerima kekalahannya sebagai konsekuensi dari lompatan yang kurang bagus. Keterampilan mengelola emosi semacam ini penting dipelajari, karena secara tidak langsung melatih kecerdasan emosional anak.

4. Memahami Konsep Sportivitas

Sportivitas itu harus ditanamkan sejak dini

Sportivitas itu harus ditanamkan sejak dini via https://www.google.com

Melalui permainan tradisonal, seperti lompat tali atau congklak, anak belajar bersikap sportif, yaitu bermain secara jujur, memperlihatkan sikap menghargai pemain lain, menerima kemenangan dengan sikap wajar atau menerima kekalahan secara terbuka. Konsep menang atau kalah dalam permainan memang tidak terlalu ditekankan pada anak-anak. Hal paling baik yang bisa dilakukan orang tua adalah menghargai anak karena ia bermain dengan sikap sportif.

5. Melatih Kemampuan Motorik Halus

Menstimulus motorik anak

Menstimulus motorik anak via https://www.google.com

Advertisement

Meskipun, kebanyakan permainan tradisional membutuhkan kemampuan fisik yang aktif, namun bukan berarti tidak ada permainan tradisional yang membutuhkan konsentrasi dan mampu menstimulus motorik halus anak. Misalnya seperti permainan bola bekel. Permainan anak-anak yang seperti itu dapat melatih anak untuk lebih teliti dan berkonsentrasi, karena ia diharuskan untuk melempar dan menangkap bola bekel sekaligus. Juga harus membolak-balik biji bekel dalam posisi yang sama.

6. Melatih Anak untuk Mempertajam Intuisinya

Intuisi anak tajam dengan permainan tradisional

Intuisi anak tajam dengan permainan tradisional via https://www.google.com

Permainan tradisional tidak hanya membutuhkan strategi yang tepat namun juga intuisi yang tajam agar dapat menyelesaikan dan memenangkan permainan tersebut. Contohnya seperti permainan petak umpet, tentu saja seorang anak perlu insting yang tajam agar dapat menemukan tempat persembunyian teman-temannya. Intuisi tersebut dapat semakin tajam bila ia sering bermain petak umpet dengan temannya, karena ia lama-kelamaan memahami kebiasaan dari temannya, termasuk tempat sembunyi favorit mereka.

7. Melatih Anak untuk Kreatif dan Penuh Imajinasi

Meningkatkan kreativitas pada anak

Meningkatkan kreativitas pada anak via https://www.google.com

Hampir semua peralatan dan bahan yang digunakan dalam permainan tradisional merupakan benda-benda yang ada di lingkungan sekitar yang kemudian benda-benda tersebut dibentuk sedemikian rupa agar dapat digunakan untuk bermain. Contohnya, permainan lompat karet, sebelum dapat dimainkan, maka mereka perlu mengumpulkan puluhan karet gelang yang selanjutnya harus dikaitkan satu sama lain hingga menjadi benda yang panjang seperti tali. Selain itu, ada juga mobil-mobilan yang berasal dari kulit jeruk bali. Untuk membuatnya, seorang anak dilatih kekreatifannya agar dapat menciptakan mobil-mobilan yang sesuai imajinasi mereka dengan menggunakan kulit jeruk bali.

8. Menyehatkan, Melatih Fisik dan Ketangkasan

Permainan diluar ruangan menyehatkan anak!

Permainan diluar ruangan menyehatkan anak! via https://www.google.com

Seperti yang kita tahu, hampir semua permainan tradisional dimainkan di luar. Di lapangan, contohnya. Permainan tradisional yang rata-rata mengandalkan kekuatan fisik membuat si anak seperti berolah raga. Anak lebih aktif bergerak dan berkeringat. Contohnya dalam permainan petak umpet, di mana kita harus berlari untuk dapat bersembunyi dan juga di permainan benteng yang membuat si anak harus berlari untuk menyelamatkan si teman.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya