Tempat Kerja Jadi Toxic, Keluar atau Bertahan? Perhatikan 5 Hal Penting Ini Dulu!

Tempat kerja toxic

Tempat kerja yang seharusnya merupakan tempat yang nyaman untuk mencari sesuap nasi dan membangun relasi, justru menjadi lingkungan yang penuh toxic yang bikin emosi. Tapi, tunggu dulu. Mungkin saja, bukan tempat kerjanya yang toxic, tapi kamu nya yang sudah kehilangan motivasi kerja. 

Berikut 5 hal penting yang harus kamu pertimbangkan sebelum keluar dari perusahaan di masa pandemi.

ADVERTISEMENTS

1. Kamu hanya kehilangan motivasi kerja

Photo by Ketut Subiyanto from Pexels

Photo by Ketut Subiyanto from Pexels via https://www.pexels.com

Setiap manusia pasti memiliki titik jenuh di masa hidupnya. Makanya, tak jarang, orang-orang yang sudah mencapai titik jenuh akan kehilangan minat serta motivasi akan suatu hal. Bisa jadi minat dalam bekerja, berkarir, atau bahkan berumah tangga. Tempat kerja kamu mungkin tidak mengalami perubahan. Namun, karena kamu telah mencapai titik jenuh dan kehilangan motivasi kerja, jadinya semua aktivitas di kantor terasa toxic dan membosankan.

ADVERTISEMENTS

2. Ambil libur sejenak untuk self-care

Photo by Andrea Piacquadio from Pexels

Photo by Andrea Piacquadio from Pexels via https://www.pexels.com

Perawatan diri atau self-care tengah panas-panas nya dilakukan oleh sejumlah orang. Salah satu tujuannya adalah untuk terhindar dari hilangnya motivasi kerja, khususnya di masa pandemi. Apabila perusahaan kamu memberlakukan WFO, coba deh negosiasi sama atasan untuk minta libur beberapa hari. Lakukan kegiatan yang kamu sukai: rebahan, nonton televisi, maraton film di Netflix atau drama korea, atau perawatan wajah. Sempatkan waktu untuk journaling atau menuliskan semua uneg-uneg yang kamu simpan seorang diri. Hal ini juga yang akan membantu kamu untuk mengembalikan lagi motivasi kerja yang hilang.

ADVERTISEMENTS

3. Pembicaraan yang membuang waktu

Photo by Alexander Suhorucov from Pexels

Photo by Alexander Suhorucov from Pexels via https://www.pexels.com

Tanpa kamu sadari, kamu juga turut menyumbang pembicaraan yang buang-buang waktu yang bersifat toxic bersama dengan rekan kerja. Kegiatan di atas akan menghabiskan dua kali lebih banyak energi yang seharusnya bisa kamu manfaatkan untuk menghasilkan pekerjaan yang lebih baik. Sehingga, gejala-gejala seperti mudah lelah, mengantuk, kurang bersemangat, dan bahkan menganggap lingkungan kerja merupakan lingkungan yang toxic tak bisa terelakan.

ADVERTISEMENTS

4. Terlalu banyak deadline? Apa alasannya?

Photo by energepic.com from Pexels

Photo by energepic.com from Pexels via https://www.pexels.com

Hal yang paling menakutkan bagi sebagian besar orang adalah deadline yang terkesan tidak “manusiawi” dan cenderung terburu-buru. Tapi, apa kamu yakin deadline tersebut tidak “manusiawi,”?

Kolega kamu sibuk dengan pekerjaan nya, sedangkan kamu asik scrolling media sosial. Pekerjaan terabaikan. Dan kamu menyalahkan bos kamu yang memberikan deadline yang tidak masuk akal? Bekerja dengan sistem kebut semalam hanya akan menguras habis energi. Pikiran jadi tidak terkontrol. Dan keputusan untuk ingin segera resign dapat dengan mudah terbesit dalam pikiran.

ADVERTISEMENTS

5. Tidak suka dengan bos atau kolega

Photo by Andrea Piacquadio from Pexels

Photo by Andrea Piacquadio from Pexels via https://www.pexels.com

Apa alasan kamu menganggap lingkungan kerja begitu toxic? Apakah hanya karena kamu tidak menyukai orang tertentu di dalam perusahaan atau tim? Atau mungkin kamu tidak menyukai kehadiran atasan kamu yang terus-terusan memberikan perintah Lingkungan kerja toxic adalah lingkungan kerja yang memberikan kita tekanan, kekecewaan, hingga rasa khawatir yang berasal dari sesama kolega maupun atasan. Pertanyaanya adalah apakah kamu sudah merasakan semua perasaan di atas?

Tidak menyukai orang tertentu tidak menjadikan lingkungan kerja kamu menjadi toxic. Justru, hal ini perlu kamu komunikasikan kembali, alasan kenapa kamu tidak menyukai orang tertentu dan bagaimana cara kamu untuk tidak terganggu akan kehadirannya. Terkadang, kita berpikir bahwa kita berada di lingkungan yang toxic hanya karena kita tidak menyukai kehadiran seseorang di dalamnya, atau karena kita memang tidak suka berada di dalamnya. 

Selain dengan memperhatikan 5 cara di atas, intropeksi diri bisa menjadi kegiatan yang bisa dilakukan untuk terhindar dari pemikiran toxic palsu tersebut. 

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Hi saya Ananda, seorang Creative Content Writer yang juga berkecimpung di dunia Copywriter. Semoga senang dengan tulisan saya. Terima kasih.