Tentang Cinta #BertepukSebelahTangan, Akulah Tersangka yang Terluka Amat Dalam

Cerita tentang meninggalkan dan tinggalkan bukanlah hal yang baru.

Cerita tentang meninggalkan dan tinggalkan bukanlah hal yang baru. Setiap saat cerita itu bergulir, merantai, mengisi semesta yang mau tak mau harus ikut berdrama. Setiap saat pula ada yang dilukai dan melukai.

Di satu titik aku pernah menjadi orang yang melukai seseorang, hingga aku juga terluka amat dalam.

1. Kamu Pikir Meninggalkan Saat Dia Lagi Sayang-Sayangnya Adalah Tindakan Tanpa Pemikiran

Pikiran Mentok

Pikiran Mentok via https://gratisography.com

Advertisement

Meninggalkan saat dia lagi sayang-sayangnya berarti siap dipersalahkan-dijadikan tersangka-di-bully kawan hingga keluarganya disumpahserapah  didendam dari sana-sini. Memilih meninggalkan harus siap atas semua label buruk yang akan menempel entah sampai kapan.

Kemungkinan terburuk selamanya. Menyiapkan diri untuk semua itu butuh pemikiran mantab. Sungguh bukan pemikiran sekejab. Bagaimana mungkin kalian kira ini demi kepentingan diri semata?

2. Ini Juga Bukan Tentang Nggak Punya Perasaan

Sedih, takut, dan menyesal

Sedih, takut, dan menyesal via https://gratisography.com

Salah jika kalian pikir perasaanku sudah mati. Justru karena sadar perasaannya teramat dalam sedang aku tak segaris sayang, kupilih cukup sampai sini. Sebelum semakin lama, semakin saling menyakiti.

Advertisement

Cinta yang tak berimbang sangat rentan disusupi percekcokan. Hubungan yang sedari awal tak sehat, harus segera dienyahkan. Berjalan lebih jauh ke depan hanya akan menjadi fatamorgana baginya. Dia kira aku labuhan terindah, senyatanya aku berperang dengan bayang-bayang.

3. Jika Kalian Bertanya, Mengapa Sebelumnya Memberi Harapan? Jawabanku Ini Bukan Sekedar Alasan

Bagi orang yang sedang patah hati lalu diberi perhatian sedemikian intens. Rasa hangat dan nyaman yang kudapatkan cukup mengaburkan perasaan. Bukan berarti gampangan, lebih karena dia mampu memperlakukanku dengan benar.

Ia menularkan semangat untuk kembali membuka harapan. Tak baik merantai hati kencang-kencang. Sialnya dalam kekacauan rasa itu, aku salah mengartikan.

Advertisement

4. Kukira Dia Tambatan Rasaku Berikutnya, Bukankah Dia yang Menyembuhkan?

Masih terperangkap

Masih terperangkap via https://gratisography.com

Dalam banyak cerita, orang baru yang memberi warna dan energi untuk ceria setelah badai adalah kesatria, dengan bodoh kukira dialah perwujudan 'Cinta'. Sedangkan semua keraguan kukerdilkan, kuanggap  'ketakutan yang tak beralasan'.

Bersama dorongan dari semua teman terdekat dan usahanya yang hebat, kuputuskan untuk mencoba menjalani sebuah hubungan. Ada yang bilang cinta bisa datang karena kebiasaan. Sial, semua itu tidak benar.

5. Hingga Saat Kami Berjauhan atas Usahanya untuk Dapat Secepatnya Meminang, Hari-Hariku Makin Kelam Memikirkan Cara Mengutarakan Perasaan

Gelisah ketika sendiri

Gelisah ketika sendiri via https://gratisography.com

Setelah lulus SMK. Target dia berikutnya adalah kerja untuk membahagiakan orangtua. Sekaligus sebagai jalan pintas meminangku. Toh setelah menikahpun, kami sama-sama tetap dapat mengejar impian. Biar bisa dapat duit besar pekerjaan menantang dia kejar. Terpisah pulau dibatasi lautan, suara dan tawaku di telepon jadi penguatnya melakoni masa training yang tak kalah berat dari siksaan. Hatiku teriris mendengar.

Dia begitu dalam mencinta, sedang aku sadar tetap tak ada rasa. Bila kuutarakan yang sebenarnya, aku takut dia terguncang lalu tak lulus ujian. Cita-cita untuk orangtuanya kandas dan pengharapannya sia-sia. 

6. Aku Sudah Menyerah. Berpikir Dicintai Lebih Baik daripada Mencintai, hingga Dia Bertanya; Apa Aku Cinta?

Menerima cinta

Menerima cinta via https://cdn.stocksnap.io

Dia selalu ingin memberiku segalanya. Tapi aku tak pernah minta apa-apa. Sudah cukup kumanipulasi perasaannya. Bahkan mulai berpikir tak ada buruknya meneruskan hubungan. Kata orang 'lebih baik dicintai daripada mencintai'. Tiba-tiba dia bertanya soal rasa cinta. Seolah semesta berbisik bahwa perasaanku harus ditegaskan lewat kata. Mulutku katup seketika. Kata itu terkunci di ruang hampa.

Menit berikutnya isakanku  menyahuti, pada akhirnya aku mengaku tak pernah mencintai. Setelah itu membanjir permintaan maaf dan perpisahan dariku dari dia. Jahatnya, begitu sambungan terputus aku langsung menjalani hari seperti tak terjadi apa-apa.

Di saat yang sama aku tahu dia terluka amat dalam. Mungkin tak bisa tidur bermalam-malam. Sejak hari itu, setiap aku bahagia dan ingat ia terluka air mataku merebak tak peduli di tengah keramaian.

7. Untuk Semua Dosaku Padanya yang Dimaafkan Begitu Saja, Kuhukum Diri Hingga Pernikahannya Tiba

Hari pernikahannya

Hari pernikahannya via https://cdn.stocksnap.io

Ketika hari cuti tiba, dia kukuh menemuiku untuk menuntaskan rindu dan menegaskan perpisahan. Bahkan saat itu aku telah punya hubungan baru dengan sahabat kami dulu-cintaku yang sebenarnya-yang semakin membuatku merasa buruk rupa. Tapi, sebelum membuat jarak yang tegas agar tak ada lingkaran cemburu.

Dia masih memaksa melunasi janji untuk menuruti semua inginku. Aku bukan siapa-siapanya lagi selain orang yang melukai hati, tak bisa kuterima meski diberikannya tanpa pretensi. Di akhir hari, dia kembalikan barang couple dariku. Air mataku merebak, tersadar bahwa aku tak akan menemukan orang sepertinya lagi. Maka hanya satu yang dapat kujanjikan dalam hati. Tak diminta dan didengar seorangpun. Pelaminannya tak akan kudului. 

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement
loading...

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Pengahayal akut yang doyannya tidur.

CLOSE