Seringkali saya bertanya pada diri sendiri:

“Sebenarnya saya melakukan ini untuk apa?”

“apakah ini benar-benar yang saya inginkan?”

“Kenapa saya tidak seberhasil mereka?”

Mungkin kamu juga pernah memikirkan apa-apa yang seringkali menjadi keresahan saya tersebut. Baru-baru ini saya mendengar istilah Quarter Life Crisis (QLC). Apasih quarter life crisis itu? QLC adalah suatu respon emosional yang ditandai dengan munculnya perasaan panik, tidak berdaya, ketidakstabilan, kebimbangan karena banyaknya pilihan, cemas, tertekan, panik bahkan frustasi yang dialami oleh individu pada rentang usia 18-29 tahun. Sederhananya kita meragukan diri kita sendiri, merasa tidak yakin dengan apa yang sudah dilakukan, tertekan dengan apa yang akan terjadi nanti, sehingga kita menjadi tidak stabil secara emosional.

Tuntutan target masyarakat juga harapan keluarga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi bagaimana quarter life crisis ini terjadi. Ada waktu-waktu krisis yang diciptakan masyarakat sehingga menjadi takaran setiap orang dalam menjalani hidupnya. Misalnya saja bagi fresh graduate ada tuntutan untuk segera memiliki perkerjaan yang layak, sebagai mahasiswa S1 mereka dituntut untuk lulus tepat waktu yaitu 4 tahun , jika lebih akan di anggap tidak terlalu pandai dan lains ebagainya. Ada juga usia-usia limit batas menikah yang diciptakan masyarakat, katakan 25 bagi perempuan dan 27 untuk laki-laki dan lain sebagainya.

Sayangnya, tuntutan-tuntutan dari sistem “krisis waktu” yang menjadi budaya di masyarakat tersebut akhirnya mempengaruhi  kepuasan diri atau aktualisasi diri kita sendiri.  Hal-hal tersebut membuat kita mulai berpikir tentang real world yang harus dihadapi daripada idealisme yang ingin dicapai oelh diri sendiri.

1. Pertama, make your own target, life is not a race

Pinterest

Pinterest via http://id.pinterst.com

Advertisement

kita semua pasti akan merasa khawatir tentang kehidupan dan rencana-rencana yang di impikan ketika di usia yang seperti ini kita belum mencapai goals yang di inginkan. Sedangkan banyak sekali teman-teman yang seusia sudah memiliki banyak prestasi, mencapai beberapa target hidupnya, memiliki ini dan itu, memiliki pekerjaan dan mendapatkan penghasilan yang cukup, dan lain sebagainya.

Melihat realita yang seperti itu pasti kita merasa khawatir apakah kita bisa melakukan hal yang sama. Apakah kita sudah berusaha dengan benar.  Kenapa kita tidak seperti mereka dan lain sebagianya. Ditambah dengan harapan-harapan orang tua yang walaupun mereka tidak meminta dan memaksa tetapi membanggakan mereka pasti menjadi target tersendiri bagi kita. Dan terkadang tekanan-tekanan seperti itu membuat kita akhirnya “banting setir” mengikuti cara-cara orang lain. mengubah target seperti orang lain dan akhirnya kita kehilangan diri kita sendiri.

Padahal setiap orang memiliki standarnya sendiri-sendiri. Tidak ada yang sangat hebat dan kurang hebat. Standar setiap orang beragam. Menyadari hal itu, pencapaiannya juga pasti berbeda, yang harus dikembangkan juga pasti berbeda, waktu yang dibutuhkan juga pasti berbeda, cara yang dilakukan juga pasti berbeda. Jadi jangan merasa kamu terlambat mencapai sesuatu, jangan merasa kamu berada di belakang “life race” ini. Everyone have their own time to bloom.

2. Kedua, menerima selalu lebih baik daripada menolak apalagi terhadap hal-hal yg di luar kendali

Advertisement

Kita mudah sekali marah terhadap segala sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak kita. Padahal, kita tidak bisa mengendalikan segala macam hal. saya selalu berharap segala sesuatu akan terjadi sesuai harapan saya. Dan akhirnya saya kan merasa sangat kecewa dan tertekan karena segalanya tidak terjadi sesuai harapan.

Saya hanya punya kendali terhadap diri saya sendiri. Bukan pada orang lain, bukan pada hasil-hasil yang akan saya dapatkan, ada campur tangan tuhan, ada campur tangan orang-orang diluar diri kita. Ini tentang usaha dan doa yang harus berjalan berdampingan bukan berat sebelah.

3. Ketiga, you are not a victim

Ketika kita merasa sudah berusaha super maksimal dan ternyata hasil tidak sesuai dengan harapan, atau bahkan gagal dan tidak mendapatkan achievment yang diinginkan. Kita seringkali mencari hal-hal yang bisa disalahkan dan menamai diri kita adalah korban keadaan. Kita tidak bisa juara di kelas karena kita tidak makan dengan nutrisi terbaik, kita tidak punya fasilitas terbaik untuk belajar dan lain sebagainya.

Padahal daripada waktu kita dihabiskan untuk merutuki hal-hal tersebut dan merasa bahwa kita berada pada posisi disudutkan keadaan. Alangkah baiknya  kita mencari solusi. Setidaknya kalau kita tidak bisa makan dengan nutrisi terbaik ya kita berusaha agar dapat makan dengan nutrisi yang cukup. Itu lebih baik daripada makan dengan nutrisi yang kurang.

Mengubah pola pikir seorang korban menjadi seorang pelaku itu sangat penting. hal ini harus dilakukan walaupun sangat sulit. Membutuhkan waktu untuk terbiasa dengan pola pikir ‘pelaku’ yang bertanggung jawab dengan apa yang sudah dilakukan bukan menyalahkan apa yang sudah terjadi.  Setiap proses mencapai tujuan selalu ada jatuhnya masing-masing. Cukup jalani tanpa protes. Gagal diciptakan agar kita semakin kuat, berpikir luas, mencari ilmu tanpa batas dan selalu bagkit. Its okay to feel not okay but then stop crying and start trying.

4. Keempat, berdamai dengan keadaan, berdamai dengan masa lalu.

Ada hal-hal yang harus terjadi walaupun kita sangat tidak menginginkannya. Dan akhirnya membentuk kita menjadi pribadi seperti ini, pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Kita merasa minder karena tidak cukup uang untuk berpakaian seperti yang lain, atau kita merasa tidak cukup baik karena belum mencapai goals seperti orang-orang lainnya.  Itu bukan masalah. Kita biasa-biasa saja dan tidak ada yang salah dengan itu. salah ketika kita merasa biasa saja, lelah mencoba dan menyerah.

Jangan menuntut terlalu banyak kepada diri sendiri. Menerima diri sendiri yang biasa saja dan berusaha mengembangkan apa yang sudah di punya itu lebih baik daripada memarahi diri sendiri yang belum menjadi luar bisa.

 

5. Terakhir, jangan lupa berterima kasih pada diri sendiri.

Jangan lupa berterima kasih pada diri sendiri karena sudah bertahan dan berjuang dan tidak menyerah. Berterimkasihlah pada diri sendiri yang jarang dihargai bahkan oleh mulut dan hati sendiri. Bersyukur, ketika kita sudah bersyukur tidak ada sedikitpun sesuatu yang kurang.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya